Author Topic: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.  (Read 551 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« on: March 15, 2019, 11:58:48 PM »
Halo semuanya, maaf atas keterlambatan post ini beserta sebagian hal lain.  :(
Setelah mengingat masa lalu, dan melalui pemilihan acak, sekarang adalah waktunya untuk mengembalikan pilihan kepada semua orang!

Setelah melalui hasil voting, maka pilihan tema writing challenge kali ini adalah! drumroll
1. Destruction/Kehancuran
2. Mengubah Sejarah
3. Thriller
4. Integral Tak Tentu
5. Psychological Horror
6. Physiological Horror

Entri pada writing challenge kali ini :
Entry #01: Kiamat Mikroba
Spoiler: ShowHide
Setelah beberapa hari pernyataan suatu organisasi misterius dinyatakan, muncul suatu keanehan pada kota itu. Orang-orang di kota tersebut mulai berubah bentuk dan bangunan-bangunan rusak. Ilmuwan yang sedang bekerja di kota itu menyatakan bahwa fenomena ini disebabkan oleh karena radiasi yang kuat. Pencarian akan sumber radiasi ini pun dilakukan dengan cepat, tetapi semuanya sudah telat ketika mereka tidak berbentuk lagi dan kota-kota menjadi hancur rata dengan tanah. Tidak ada lagi yang terlihat dari kota yang mengalami kehancuran tersebut, hanya tanah yang gersang.

Kejadian tersebut membuat kota terdekat mengirim sebuah pasukan ilmuwan yang ahli di bidang radiasi dan mutasi. Mereka mempunyai perlengkapan yang lengkap untuk menangkal radiasi. Saat mereka tiba di kota tersebut, mereka merasakan ada yang aneh dengan tanah yang mereka injak. Mereka merasakan sesuatu yang bergerak, membuat kaki mereka tidak nyaman. Seketika itu, salah satu ilmuwan memperingati yang ilmuwan lain untuk menjauhi tanah tersebut. Para ilmuwan pun menjauhi tanah tersebut dan mengambil sampel tanah. Hasil analisis pada tanah tersebut sungguh mencengangkan. Tanah tersebut mengandung banyak mikroorganisme yang mempunyai DNA yang tidak biasa. DNA tersebut setelah diselidiki lebih dalam adalah DNA orang-orang yang berada di kota tersebut. Mereka terhening dengan hasil analisis mereka. Salah satu dari mereka kemudian bicara, ‘Kota ini… menjadi ukuran mikroskopis dan orang-orangnya telah berubah menjadi mikrob’. Rasa mual dan menjijikan menimpa mereka. Mereka sungguh histeris dengan fakta tersebut. Kemudian mereka mengembalikan sampel tanah tersebut juga dengan sepatu yang telah menginjak tanah tersebut. Setelah itu mereka kembali ke kota asal mereka.

Beberapa bulan semenjak kejadian tersebut, organisasi misterius itu pun kembali mengancam kota yang mengirimkan pasukan ilmuwannya. Namun sayang, kota tersebut tidak dapat diselamatkan dan menjadi rata dengan tanah. Hal tersebut mulai terjadi dengan rentang waktu yang sangat cepat. Dari berbulan-bulan menjadi hari. Mereka menyerang kota-kota yang ada pada negara tersebut. Kota-kota mulai berubah menjadi mikroskopis, baik kota yang berada di dekat pantai maupun kota yang berada di atas gunung. Sungguh, negara yang besar itu pun berubah menjadi negara mikroskopis dan orang-orangnya berbentuk mikrob.

Setelah semuanya itu terjadi, organisasi misterius tersebut menyatakan dirinya sebagai mikrob dan sengaja mengubah negara tersebut menjadi mikroskopis. Ia ingin menguasai negara tersebut dengan kekuatannya untuk selama-lamanya. Orang-orang tersebut akhirnya tunduk dengan organisasi tesebut oleh karena radiasi dimatikan jika mereka tunduk. Orang-orang mikrob pun kembali beraktivitas seperti layaknya negara yang aktif. Mereka dapat mengendalikan penyakit-penyakit dengan akurat karena mereka langsung berhadapan dengan bakteri ataupun virus itu sendiri. Mereka tidak dapat sakit karena mereka berukuran sangat kecil. Ilmuwan mikrob pun akhirnya memperkuat negara dengan antibiotik yang sangat banyak, sehingga resistensi menjadi kuat. Mereka pun mengontrol reproduksi mereka dengan cara membatasi pembelahan diri supaya masyarakat bisa berjalan layaknya masyarakat, bukan seperti penyakit ataupun hutan. Sebuah negara mikrob yang kekal menjadi sebuah ketakutan bagi negara terdekat jika negara mikrob tersebut menyatakan perang.


Entry #02: After 17 Centuries with the Dragon Council, I Humbly Submit My Resignation
Spoiler: ShowHide
Dear friends, colleagues, all the creatures from behind the Veil and, hopefully, all of Humanity to whom our decisions have intentionally and unintentionally affected.

With this letter, I, the Great Dragon Valedir, humbly submit my resignation from the Council of Dragons.

The Council has been a most important pillar in the growth and longevity of the planet. Within the last century alone we have prevented seven thermonuclear warfare, nine instances of global environmental catasthrophes, and countless planet-threatening side effects of the irrational decisions of human leaders. Our decisions might have gone unheard to the majority of the planet, unknown to that most advanced of Earthlain lifeforms, humanities, but I've always believed in our cause. I've always believed that this world is worth fighting for, no matter the cost.

But I have grown old. I know it is taboo to speak of our age--I know our immortality behooves us certain responsibilities--but I think it is time to be frank with the truth. I have grown old. I have to this world four millenia ago, and I have been a supportive member of the Council since its formation seventeen centuries ago. I, and if I may be allowed to presume, the other Great Dragons, had came into awesome powers which we have so far believed had been put to the right use.

But it is one thing to lend of our powers at the occasional Hour of Need, and another thing entirely to exercise it every other day, simply because a crisis happens every other day. Three centuries ago it was simplers to decide our course of action. Crises are obvious. Discussions were short, consensus easily gained. The Unspeakable Horrors from Beyond the Void remained weak and no match to our protection. But today, today there are far too many things we have to take into account, far too many variables. In the olden days we joked of how the broken metamorphosis of single butterfly can decide the fate of an entire species. The younger ones of you will not find humour in it, for today a single broken cog in a Human-made machine can cause a war that will wipe the entire planet.

And the Unspeakable Horrors. They're weak, but cunning. I am sure you have seen the reports, how they have found cracks in our judgment.

But I digress. Let this letter not be a testament to our weakness, only my own. I have grown old. I am tired. All I feel now is pain in my scales and ashes in my breath. I will be of no use to the planet if I cease to love it, and I am afraid I will lose the capability to do so if I go on. It is time for me to put my claws down.

To my colleagues in the Council, I wish you luck in your future judgments and actions.

And to my fellow Great Dragons, I hope our pride does not blind us to our own frailties. Immortal we might be, but we are not indestructible. If my resignation can help in reexamining our role and responsibilities in this world, then I will be glad to be of assistance.

Perhaps it is time for us to move on.

Perhaps, if I dare say it, it is time we let the Earthlains themselves know of the true state of the world.

May consensus always be found, may the planet be safe,
Great Dragon Valedir


Entry #03: Kehanuran Huruf yang hilang adalah kunci dari isi cerita.
Spoiler: ShowHide
Hal sepele seringkali menjadi akar di balik malapetaka yang tak pernah diinginkan.
Sepotong kulit pisang raja sereh tak pernah kalah licin oleh kulit pisang lainnya—sama-sama membuat tergelincir. Padahal, ukurannya lebih mungil dibandingkan kawanannya. Salah-salah, luar biasa jadi cederanya jika jatuh karena menginjaknya.
Sumbu pendek suatu peledak tak pernah menghentikan destruksi yang terjadi kala sudah dibakar. Bahkan, bisa jadi ledakan yang tercipta lebih mematikan dari seharusnya.

Aah, benar-benar hal sepele yang merepotkan.

Kali ini, katakanlah karena kecerobohan sepele yang kulakukan, hancur sudah hidup dan segala perjuangan yang kuusahakan. Rusak susu sebelanga karena setetes nila yang tak pernah ingin aku permasalahkan. Aku tahu, hal ini sudah seringkali diwanti-wanti agar aku waspada dan ingat untuk tidak melakukannya satu kali pun. Entah apa yang pernah kuperbuat sampai takdir berkata lain. Parahnya, bukan hanya sekali, tetapi aku melakukannya berulang-kali dalam satu hari khusus itu.
Memang benar, bahwa kesalahanku kali ini bukanlah kesalahan yang meregang nyawa. Tapi—ayolah, kalian pun akan gemas kalau kalianlah pelakunya.

Hari itu, aku masih menjadi salah satu siswa yang duduk di bangku kelas XII. Aku masih menjadi salah satu dari mereka yang mengenakan bawahan kelabu dan memimpikan dongeng-dongeng remaja seolah semua akan baik saja. Seolah tak ada yang namanya badai di hidup yang serba-serbi lancar jaya ini. Seolah semua akan baik saja apapun ujian yang akan kuhadapi.
Aku termasuk dari kelompok mereka yang menyiapkan ujian harian tepat di malam sebelum peristiwa. Jujur saja, aku bukan satu dari kalangan jenius yang dapat memahami suatu persoalan dalam satu kali baca. Tapi, aku pun bukan tipe yang mengincar kolom teratas pada urutan peringkat yang terpampang nyata di madding belakang kelas. Selama nilaiku dapat melewati batas kriteria ketuntasan minimal, cukuplah hidupku. Selama aku dapat melakukan hal yang minimal dinilai baik oleh guruku, maka cukuplah apa yang kulakukan, tak perlu lagi mengejar angka tinggi.
Bukan menyalahkan mereka yang berada di atas. Aku hanya merasa bahwa inilah aku. Tak perlu ditambah lagi.

Hari itu aku merasa bahwa aku sudah menyiapkan segalanya. Aku yakin telah menyalin ulang seluruh catatan materi yang diberikan oleh guruku dalam buku catatan bersampul coklatku. Aku sangat yakin bahwa aku telah mengingat-ingat dengan jelas tata cara melakukan antiturunan beserta catatan-catatan penting lain yang disampaikan oleh guruku. Seandainya saja aku tahu bahwa sungai mematikan itu diam-diam menghanyutkan.

Singkat cerita, ujian harian matematika yang sudah direncanakan sejak pekan lalu oleh guruku itu memulai hari kami. Seluruh murid, termasuk aku tentunya, menerima selembar kertas soal dan duduk siap di bangku kami masing-masing. Kami pun mengerjakan dengan penuh keseriusan. Ada yang menulis dengan lancar di setiap detik yang terlewat. Ada yang perlu berhenti sejenak untuk mengulik soal dalam kepalanya. Ada sebagian lain yang tak jelas bagaimana kabarnya, yang penting bagi mereka adalah dapat menyelesaikan soal yang disediakan.

Dua jam pelajaran berlalu, dan dikumpulkanlah hasil ujian kami itu ke meja guru di depan ruangan. Bagaimana kabar kami setelah melaksanakan ujian, tampaknya dapat dinilai dari ekspresi masing-masing. Beberapa tampak kusut penuh penyesalan, beberapa lainnya lega atau bahkan tak mau ambil pusing. Aku termasuk yang kedua. Sebagian besar hatiku yakin kalau aku berhasil menjawab soal-soal integral dengan baik, tetapi sebagian jiwaku yang lain tetap merasa bahwa ada baiknya aku tetap merendah.

Tapi siapa, sih, yang takkan merasa bangga berhasil menyelesaikan seluruh soal integral yang diberikan tanpa kosong sedikit pun?

Tiga hari kemudian, hasil ujian terpampang di madding kelas. Saat itulah aku merasakan rasanya jatuh dari langit ekspektasi yang terlalu tinggi. Saat aku menargetkan (mungkin) bisa mencapai nilai sempurna, yang kudapatkan adalah nilai setengah dari target. Tepat 50. Awalnya, aku sama sekali tidak percaya. Mungkin apa yang kulihat hanyalah salah koreksi atau salah input nilai. Bisa saja terjadi human error yang menyebabkan guruku salah mengetikkan angka ke dalam rekap nilai secara manual, kan? Alhasil, aku menghadap beliau, ingin mengecek kembali berkas ujian yang kuberikan.

“Bu, kayanya ini ada salah nilai, deh. Masa nilaiku gak sampai KKM sih, bu?”
Aku langsung mengutarakan pertanyaanku tanpa basa-basi begitu dipersilakan untuk menghampiri beliau di ruang guru. Ternyata oh ternyata, respon yang diberikan oleh beliau pun seolah mewajarkan nilaiku.

“Jelas nilaimu segitu. Kan, sudah ibu peringatkan berulang kali sebelum ujian. Kalau kamu tidak memberikan ‘+ C’ di semua hasil integral tak tentu dalam ujian, ibu gak segan untuk memberikan diskon 50% dari nilaimu.”

Penjelasan beliau membuatku tertohok begitu melihat jawaban ujian yang kuberikan. Dari seluruh soal integral tak tentu yang kujawab, semuanya kehilangan karakter penanda konstanta itu. Benar saja, nilaiku dapat potongan setengah hanya karena hilangnya satu huruf tersebut dari seluruh jawabanku.

“Ih, bu, ini aja?! Kan cuma lupa C, bu. Kasih nilai 75 gak apa dong bu,” rengekku yang langsung mendapat pertidaksetujuan darinya.

“Gak bisa, sebelumnya sudah ibu ingatkan. Lain kali, kalau gak mau nilaimu hancur karena satu huruf doang, jangan lupa kasih ‘+ C’-nya.”

Gemas terasa di dadaku. Akhirnya, nilai yang kudapatkan hancur permanen karena kurangnya satu buah huruf C dari masing-masing jawaban yang kutuliskan. Sejak saat itu, aku kapok. Tak ingin lagi aku bermain api dengan hal-hal sepele yang bisa berujung fatal seperti itu (meski sebenarnya aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk remedial).


Entry #04: The Flame Moth
Spoiler: ShowHide
Welcome, my dear traveler, who have made your way from afar. I am afraid I am a bard no longer, for my remaining time is on the death's altar.
But if you so insist, my dear traveler, I beckon you to come near the fire, by which stories often start and end, a gathering in the warmth of the hearth. And we will too open and end this story by way of fire, as the tale I'm about to tell you is none other but the case of the Flame Moth...

There was a witch of the black forest. Wicked and cunning, she put a spell over a forest and lured unknowing visitors in.

There was a princess in the high tower, whose beauty captivated all.
Caught long ago by the witch, she could not leave the tower, for there were dangerous beasts guarding the periphery.

There was a wandering minstrel in search of a certain light.
Realizing the source of light was the Flame Moth, the core of the witch's power, he went around looking for help, and at long last found one.

There was a knight in a shining armor.
He slayed the cursed forest and its evil inhabitants, brought the princess back to her kingdom, and soon the two were joined in a blissful matrimony.
The Flame Moth was purified and served as the kingdom's crown jewel, pride of the land.
They lived happily ever after.

What was it? Oh, pardon me, my dear traveler. You, who have come for the truth, would not be easily satisfied by such a feeble lie.
Let me enlighten, for the first and last time, the story no one in the kingdom has ever heard of... Let's try again, shall we?

There was a witch of the black forest. Tired of living by her lonesome, she yearned for friends.
Her forest creatures, eager to bid their kind mistress a chance of happiness, told her a legend of yore.
The witch headed east.

There was a princess in the high tower, whose beauty captivated all.
She wished nothing of a worldy desire, instead looking for a way to be free of a power slumbering deep within, a burden of the royal lineage.
A tome buried in the deepest end of the castle library promised salvation, and so she slipped away one night.
The princess headed west.

There was a knight in a shining armor.
Above anything, he believed his true calling was to be a hero.
Every hero needed a quest, so he jumped right on a prophecy.
The knight headed north.

There was a wandering minstrel in search of a certain light.
Having fallen in love with a princess she met in his journey, he traveled for a proof of worth to win her hand in marriage.
The minstrel headed south.

What they were searching for was a wish-fulfilling gem-- The Flame Moth.
Guided by the hand of fate, the four met and their destinies crossed. Against all odds, the unlikely crew defied many obstacles and challenges.
At last, the casts assembled, and before them the jewel gleamed. Far hotter than the sun, far redder than blood. But the Flame Moth was a flower of desire, and the blaze consumed the heart of those chasing after it.

The witch was the first to fall into insanity, and spell over spell cascaded from the tip of her staff. The prince and the bard fought together, yet their strength was no match to her onslaught. The princess, at first observing quietly, was able to take precious seconds the men had bought to bring forth beasts of the ancient rules, the very power she grew afraid of. The effort greatly strained her body, and so she laid paralyzed afterwards. The prince, taking a blow in her stead, was stricken by a cold spell, turning into an ice sculpture before their eyes. The witch was eventually defeated, but not before leaving a curse on the bard. The sire of insanity was yet to abate, and as the witch drew her last breath, it sought a new host. The bard, kneeling before her precious princess, was the perfect victim.

And thus, with the hands that previously held her such, the wandering minstrel killed the princess he had loved so. Their tears joined together, painting the snowy ground in glistening crystals like stars scattering on the night summer sky. He kissed the princess one last time as the curse placed by the witch began to take hold, gradually disintegrating his body into ashes, his soul joining the embers of the Flame Moth in the light of dusk. But that is not the end of our story yet.

 With the last of his strength, he poured his will into the prince's frozen heart, awakening him anew as the last protector of the land. The prince stirred amidst the destruction, the wandering minstrel's voice in his head. He swore upon his sword to pledge allegiance at the behest of his fallen comrades. Yet even this unyielding resolution fell prey to the Flame Moth, and by time the lingering soul was corrupted. He stood still waiting, not allowing anyone else to come near, or death shall be the last of their fear...

Ashes to ashes, be one with the Flame Moth...
...and now, it's your turn to be part of the story...

*crackle*
*pop*
*fizz*



Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #1 on: March 16, 2019, 12:11:55 AM »
Entry #05: Macan di Ladang Jagung | May be disturbing for some.
Spoiler: ShowHide
Malam purnama menyisakan bebunyian jangkrik di Cipasaga. Lampu minyak dan lampu pijar selang-seling menerangi rumah warga, menemani cahaya timbul-tenggelam dari televisi satu-satunya yang menyala di pos ronda. Sayup iklan Keluarga Berencana berbunyi *kresek-kresek* dari televisi nasional, hitam-putih. Tidak ada suara lain yang dominan; para pemuda desa masih asyik bermain caturdi pos ronda bersama Rohmad, juara catur se-kecamatan.

Beberapa menit kemudian, catur dibanting. Ikin kalah untuk ketiga kalinya melawan Rohmad. Yang berarti tiga selop rokok *Minak Abang*. Sembari mencoba menyalakan batang rokok kelimanya di malam itu, Rohmad *leyeh-leyeh* sembari menunggu Ratang menyusun bidak catur untuk melawannya. Televisi beralih ke berita malam. Menteri Pekerjaan Umum besok meresmikan bendungan di Layahgiri. Uni Soviet menggertak dengan bom nuklir untuk ketiga kalinya pada bulan ini. Presiden melakukan kunjungan kerja di pulau seberang. Raja Dangdut akan tampil besok malam di Cimaya.

 Saat Rohmad melempar koin 25 untuk menentukan siapa yang berhak menjalankan bidak putih, dentuman kecil terdengar dari arah hutan di utara desa.

  "Mad, *woi*, apaan *tuh*? Denger gak?" Salikin berhenti mengorek hidungnya.

 "*Kagak* terlalu*.* *Gua* mau main, *elu* *aja* yang cek. Obor masih bisa nyala *kok* sampai dekat hutan," kata Rohmad sambil mencari koin yang ia pakai untuk undian.

 "Bangsat."

 Koin ditemukan di bawah papan catur, memunculkan sisi 25 rupiah. Rohmad memegang bidak putih. Ikin meninggalkan pos ronda dengan kacang tanah hasil curian dari kebun Ratang dan senter hasil curian kantong celana Rohmad. 

 Hanya suara jangkrik yang menyambut kedatangan Ikin di ladang jagung Mak Yusep, lima puluh meter dari hutan desa. Cahaya kekuningan muncul dari senter bohlam yang dibawa Ikin, sembari ia mencari-cari sumber suara. Biasanya itu suara senapan Mak Yusep atau anaknya yang biasa membunuh harimau di tengah malam. *Hobi yang aneh*, batinnya sambil duduk sejenak di pendopo kebun tersebut.

 Kelelahan berjalan, ia mengutuk Mak Yusep dalam hati sembari memakan kacang tanah. Bisa-bisanya ia punya ladang jagung. Bisa-bisanya ia menikahi ayah Yusep. Bisa-bisanya ia melahirkan Yusep. Coba kalau ia tak punya ladang jagung, pasti tidak ada macan yang memasuki ladang jagungnya. Coba kalau ia tak melahirkan Yusep, niscaya Yusep tak melanjutkan SMA di luar kampung. Niscaya Yusep tidak memunculkan ide menembaki, bukannya menjerat, macan hutan pada malam hari. Niscaya tak ada bunyi senapan malam-malam. Niscaya ia tak perlu berpatroli ke dekat hutan desa. Hutan desa yang menyimpan roh dewa macan, dewi jagung, dewa kacang, dan dewa-dewa lainnya, seperti yang diceritakan bapaknya sebelum ia tertidur. Sebelum bapaknya menikahi Mak Yusep. Sebelum bapaknya memilih menemani Yusep melanjutkan SMA dibanding membantu bisnis penadahan barangnya. Sebelum bapaknya memukulinya saat dirinya dituduh mencuri celana dalam ibunya sendiri. *Enak saja, mana ada gua nyolong sempak nyokap sendiri? Mending colong sarung Dena pas lagi mandi di sumur.*

 Tiba-tiba terdengar bunyi kresek-kresek keras dari semak-semak di perbatasan ladang. Ikin menyorotkan senter. Celana laki-laki, agak sobek. Kemeja putih pudar. Tidak terlihat lusuh, namun agak terkoyak. Sedikit noda darah di bagian pinggang. Ikin terhenyak. Ini pakaian khas Yusep.

 Mungkinkah malam ini ia terkena sial saat memburu macan? Selamatkah nyawanya? Apakah sang *maung* masih mengintai di sekitar semak-semak, menunggu korban selanjutnya? *Ah tidak, ia pasti kekenyangan oleh orang segembrot Yusep*, batinnya. *Bodoh! Bisa saja ia mengajak handai taulannya karena ia baru menemukan daging segar di sini!* Ikin mulai menyesal karena ia tak membawa obor. Setidaknya ia bisa kabur dari sini setelah melemparkan obor ke macan pertama yang muncul. Lumayan, macan bakar cukup untuk empat hari makan.

 Tidak ada respon apapun yang muncul, selain suara jangkrik yang semakin intensif. Ikin mengurungkan skenario pertamanya. *Mana ada macan yang tidak terpancing oleh cahaya? Goblok. Goblok.* Ikin kembali memutar otaknya.

Ia ingat, sewaktu mampir sejenak ke kota untuk mencairkan uang hasil mencuri *tape* di rumah pak RT Rosidi, pernah berbicara dengan teman yang mengaku orang pintar. Aji-ajiannya mampu membuat macan manapun bersahabat dengan dia. Di satu sisi, Ikin masih skeptis dengan kemampuan orang tersebut mengingat gaya bahasanya mengindikasikan ia orang pesisir tak pernah bertemu dengan satupun macan. Namun, Pak Tani yang manusia biasa-biasa saja bisa bertengkar dengan kancil. Jin saja bisa membantu Bandung Bandawasa membangun candi. *Masa' gua ga bisa main catur sama macan? Masa' Yusep yang tiap hari kerjaannya bunuh-bunuhin macan ga punya kekuatan biar ga disamber?*

Lamat-lamat dengkuran terdengar, makin keras. Ikin mengukuhkan diri untuk menyibak semak-semak; setidaknya, kalaupun ia diterkam macan, keluarganya masih bisa menegakkan kepala dan mengingat kejantanannya melawan macan saat masa pemakamannya. Samar-samar ia terpikir skenario lain yang mungkin ia hadapi selanjutnya.

Ia pernah mendengar kejadian yang serupa dengan yang ia hadapi sekarang, di kampung sebelah. Saat rapat dengan ketua RW setempat, beberapa warga yang sedang asyik merokok di beranda rumah memergoki *g-string* dan celana dalam pria tergantung sekenanya di dahan pohon jati rumah pak RW. Istri Pak RW awalnya berkata itu sajen untuk penunggu pohon. Namun warga, yang tak percaya setelah mendengar sayup-sayup erangan dari pohon, memutuskan untuk menengok celah sempit di antara pohon dan batas kebun. Anak gadis Pak RW terpergok sedang bermesraan dengan jejaka Cipasaga, tanpa pernah ke kantor catatan sipil setempat sebelumnya. Katanya, kalau di dalam rumah berisik; tidak enak dengan tamu Pak RW.

Ikin masih ingat sang perempuan tak memakai sehelai benangpun saat ia dan sejolinya dikerubungi warga. Sayang mukanya tak kelihatan; rambutnya terlalu panjang. Ikin juga masih mengingat sang jejaka masih mengocok batang kesenangannya dengan santainya saat ia diarak keliling desa. Cairan keputihan berkali-kali muncrat dari lubang pipisnya, jatuh menembus terpal bioskop desa ke atas rambutnya. Cukup banyak. *Eksibisonis*, kalau kata Yusep ketika Ikin menceritakan pengalamannya mengarak mereka.

Dengan sorotan senter yang sinarannya semakin melemah, Ikin menyoroti apapun yang bersemayam di balik semak itu, sembari mengingat-ingat tiga skenario khayalannya.

Ketiga tebakannya benar. Ada macan. Ada Yusep. Dan keduanya telanjang bulat. Tidak; Yusep mengenakan selembar kain seperti selendang yang dililitkan sekenanya ke pinggangnya. Nampaknya dengkurannya sedikit terganggu oleh cahaya senter Ikin. Batangnya masih berdiri cukup tegak. Seperti jejaka yang Ikin arak dahulu, cairan keputihan masih tersisa dari lubang pipisnya.

Ikin terkejut, namun lega setelah macan yang ia lihat bersama Yusep memiliki bekas tembakan di kepalanya. Sudah wafat. Namun, *kenapa macan ini memakai beha? Lebih lanjut lagi, kenapa harus beha Mak Yusep?* Ikin tahu celana dalam, kaos dalam, dan celana dalam setiap anggota keluarga rumahnya karena ia rajin mencucinya saban hari. Namun, tetap saja, *kenapa ia di sini? Apakah Yusep yang mencurinya? Kurang ajar. Bapak harus gua balas sepulangnya ronda.* *Enak aja matahin gigi gua.*

Dongkol, Ikin menyoroti kembali lingkungan di depannya. Dicermati lebih dekat, mulut dan pantat sang macan mengeluarkan bau yang aneh. Bukan bau bangkai, bukan. Lebih seperti bau tangan Ikin selesai memuaskan hasrat di tempat buang hajat di pinggir sungai sembari membayangkan Dena tanpa sehelai benangpun.

Ikin mematikan senter. Terlalu banyak pemikiran. Terlalu banyak cerita yang perlu ia gali.

Ikin pernah mendengar cerita tentang seseorang yang bercumbu dengan penghuni ruang jenazah rumah sakit kota. Ikin juga pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang memuaskan hasratnya dengan bebatuan kali, atau binatang rawa, agar kesaktian dan aji-ajian yang mereka miliki tak pudar. Namun sampai dengan saat ia membuka semak-semak di malam itu, Ikin belum pernah mendengar, apalagi bertemu, orang yang melakukan keduanya sekaligus di saat bersamaan. Sialnya, saat Ikin akan menceritakan pengalaman Yusep dan macan barusan, kentongan dibunyikan sebelas kali dari arah pos ronda.

Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih sedikit saat Yusep terbangun oleh suara kentongan dan sukses menembak kepala Ikin dalam kegelapan dan keadaan setengah mengantuk. Kemampuan pemburu macan memang tak perlu diragukan.


Entry #06: The Mirror Crack'd from Side to Side
Spoiler: ShowHide
The Mirror Crack'd from Side to Side

Specks of dust drifted down lazily in the midday haze. Only my footsteps broke the silence of the shoddy one-room studio apartment I had to call home. All around me were haphazard stacks of books and old and tattered scripts, on the desk, chair, and even the bed.
“Canadian bacon and cheese.”
“Canadian bacon AND cheese,” I repeated. No, the stress was obviously misplaced.
“Canadianbaconandcheese,” I repeated yet again. I sounded like a machine gun, or a drunk Scot.
I frowned. It didn’t sound right. It would never sound right.

I put the script down and took a big gulp from my water bottle, out of desperation rather than thirst. It was not even a lead, or supporting character, the role was little more than background dressing. He was a bartender, described simply as ‘stocky and gruff’, who would be serving the main cast dutifully, his grumpiness and groans notwithstanding.

Maybe reading the preceding line would help, I bargained to no one in particular.

“What’s on the menu?” I said.

“Canadian bacon and cheese,” I repeated once again.

It didn’t help. Shit.

My phone buzzed. It was from the Karen, the stage manager.

‘aaron are you on your way? dont be late again’

Double shit.

===

It was a little bit past noon. Streaks of light illuminated the empty bar

“Long time no see, man!” greeted Victor to his childhood friend, Steven. The latter offered a weak smile; Victor reciprocated with a big hug that nearly took the smaller man down.

“Yeah, you’re looking good.”

“You look like shit. C’mere, sit down.”

The stool creaked as the shriveled man rested upon it, his sight unfocused and jittery. He rested his hands on the bar counter. They, too, were jittery.

“Now lay it on me, Stevie, how have you been?”

“Not good, Vick. I think I…”

Steven’s lips moved up and down like a dying fish but no sound came out.

“What?”

“I think I left my wife.”

Victor raised his bushy eyebrows and inched closer.

“What do you mean you think you left your wife?”

To this, Steven began to sob -- softly at first, but it quickly grew into a violent, pathetic whimper. Victor looked on helplessly; he was not at all acquainted with such emotional display from other adult men. He looked at me. I gave the tiniest shrug anybody could muster as I kept polishing a beer stein with a greying rag.

Victor let out a very authentic sigh. He was splendid. “Right, I know what you need. You need a good meal.”

This is it.
Victor turned to me and raised a hand. His eyes met mine. I tried my hardest not to look away.

“Arti, what do you have to eat?”

I drew breath.

“Can-- Candadian bacon and-- shit!”

A collective groan from around the room. ‘Steven’ stopped sobbing and yawned loudly instead. ‘Victor’ stood up and stretched with his back to me.

I put down the perpetually dirty stein and then the rag on top of it. The rag slid off the stein, then the table, until it laid sadly on the floor. I let it be.

“Okay, take five,” muttered Harry, our director, from his chair. He rose and took a step toward me as I walked around the table we were using as stand-in for the bar, “Aaron, we need to  talk--”

“Actually, Harry, let me,” said Karen, who walked in from her spot to the side of the ‘stage’, a rolled script gripped tightly on her hand.

“But--”

“I got this.”

Harry shrugged. He could never really stand up to Karen. None of us could. That was why she was such an effective stage manager.

Karen pulled me to the most secluded corner of the studio, far away from everyone else. I didn’t want to look at her so I looked down at the carpeted floor.

“I can’t do this, Karen. I’ll never be like--”

THWACK
Karen smacked my arm with her script. I gasped and looked up at her, meeting the deep brown eyes behind her thick glasses. She was a good deal shorter than me yet to me she appeared gigantic.

“Listen to me, Aaron. You just need to relax. Look, you’re overthinking things again. Andrew just goes-- went for it, every role he did.”

A familiar feeling crept upon me; it felt like my heart started pumping ice instead of blood. The coldness pulsed and crawled inside out, freezing my limbs and extremities.

“I am not him.”

Karen must’ve noticed the piercing tone. She stepped back. Good.

“Aaron, I’m--”

“He’s gone now,” I stepped forward, chasing her, “and I’ll never be him. I don’t know why you’re trying so hard to get me to play his part but it’s not working. I don’t know why I’m trying so hard. You better get someone else to play your dead boyfriend.”

I’d never seen Karen so shaken. Her eyes were shrouded behind a veil of tears. The feeling of triumph washed away any pang of guilt I would’ve otherwise felt.

I ran out, heeding neither the confused shouts of my co-stars nor the Director’s attempt to grab me. I caught a taxi before anybody could catch up. I told him to drive as fast as he could back to the desolation of my apartment.
As I arrived, it started raining. Warm and humid Californian rain which made my skin feel as sticky and awful I felt inside. After some fumbling with the keys, I walked in into my room. It was dark. I passed the light switch.

I sank onto the bed, surrounded by Andrew’s relics, his books -- which he had kept complaining that he’d no time to read them -- and his old scripts.
I’d tried to read the notes he scribbled on their pages, faded by friction or simply the passing of time. He’d been a brilliant thespian, with inventive ideas on delivery and staging and character motivation. Everybody loved him for that.
But no matter how hard I tried, I couldn’t emulate his thought process. I was left to awe at the testament of his genius, graphite and ink on paper, and the words of adulation from everyone who knew him -- which was everyone.

Without looking, my head still buried in the increasingly warm and wet pillow, I sweeped Andrew’s things off the bed. I vengefully spread myself over the whole bed, finally mine again, another pitiful triumph.

I cried until the benevolence of sleep took me.

When I woke up, the first thing I noticed was how light-headed I felt. The second thing was how parched I was. And then, I felt very disappointed and angry at myself that I wanted to vomit, to purge myself from the rottenness inside.
But instead I pulled myself up and leaned on the headboard. I noticed I was still wearing my shoes so I kicked them off. My eyes, still swollen as they were, got used to the darkness. The typically ordered chaos had melted into pure mess thanks to the barrage of books and scripts.

When we were cleaning his things, mom insisted on me keeping his belongings. It was like being a donor recipient of sorts, grafting some of Andrew’s talent and dedication onto me, who’d given up acting way back in the first grade.
Or perhaps she wanted to distance herself from the tragedy, to run even a little from those accusing her of being an overbearing mother who drove Andrew to the brink of despair. And perhaps...her avoiding me was also part of her an attempt to cope. I never met her again after the day we packed what remained of Andrew’s life into cardboard boxes.

After a long moment of stupor, I finally mustered the energy to flick the light switch on.

I walked around my room, among the other remnants of Andrew. My own things were shelved, buried, or otherwise hidden.
Who had really died that day?

I picked up a book lying by my right foot. It was heavy, with a thin layer of dust.  ‘American Theatre Wing: An Oral History’. I’d never even opened this one.
Still staring at the book, I pulled a cardboard box from underneath my desk and dropped the book into it. The thud the drop made was music to my ears.

It became the starting signal for me to gather all the books and scripts -- a frenzied hunt. The cardboard quickly became engorged with novels,nonfictions, and plays.

As the room became free from clutter, my steps began to slow. Until finally there was only one script left, partially hidden under my bed. The yellowing page signaled that it was older than the others. As I pulled it out, I felt a rush of nostalgia. I knew this script. I was in the show.

It was an adaptation of The Three Little Pigs back on my second year of grade school. Andrew would have been on the fifth grade. I remembered how I tirelessly nagged my parents so I could  be on the stage with Aaron.

He was my hero.
I wanted to be like him.

Yet, he was on the brink of puberty, when boys and girls tried really hard to conform to a very particular brand of cool. Being in the theatre activity hadn’t earned him any social cred and having a shrill little brother following him must’ve been mortally embarrassing.

Thinking about it now, perhaps that had been the reason for hsi cold shoulder treatment. I’d never understood back then, how could I? I’d been barely a child.

He’d avoided me whenever he could. He’d played the Wolf and I, the smallest piglet. He’d spent time rehearsing with the other piglets - they were a couple years older than me - and I could still remember the first pangs of jealousy seeping into my adolescent mind.
I had nobody to talk to -- I hadn’t wanted to come off as whiny to my parents as I know they had to cut some corners to enroll me in the same theatre activity. And it hadn’t been like he’d actually hurt me or anything. So I’d pushed forward, giving it the least effort I could get away with and faked excitement at the dinner table.

On the big day, we’d still performed it to a roaring applause and our parents praised me just as lavishly, the experience had soured me from acting ever again.

Just as I was about to put the brittle sheets into the box, something fell out from between the layers. A photo.

I picked it up.

I’d thought it would have been a picture of him in costume. A silly wolf cap and an overall that I could still see in my mind. He’d looked dashing, despite the acne and awkward posture of a teenager.

But the one greeting me on the photo was...me. In striped shirt and silly ears and nose made out of pink construction paper. I’d forgotten about the silly bowl cut. I had a wide grin on me. It might’ve been at the dress rehearsal.

And it had two words written on it.

‘I’m sorry’

Those were not the doodles of a child, but his adult handwriting, with the way it curved elegantly at the edges.

Something was very wrong. I’d never, we’d never--

He’d never brought the incident up. I’d forgotten about it -- I did my best to forget it. And that was why I’d thought he’d, too, forgotten about it. But why-- it didn’t make sense.

In the trauma counseling and support group meetings, I had been taught not to seek for answers. Not to hypothesise his reasons and ideate what we could have done differently so he might have been saved from himself. Speculation would only do harm, they’d warned.

Yet thoughts flooded me -- had he been trying to get more and more roles, in bigger theatres and productions, tirelessly, so he could perhaps one day lured me back to the stage? So I would see him as my hero again?

So the distance between us would not be painfully unreachable?

...was I just projecting my ideas onto him? To make sense of his pyrrhic ambition, to give it a more personal and human twist, instead of being just a tragic manifestation of a sickness? Was I just being sickeningly arrogant?

I would never know. I would never be able to get the answers from him, or from anyone else.

But if I turned it around, that would mean that it was possible that this conclusion was not only my delusion. And perhaps it was the privilege of the living to make sense of the lives of those who passed before them.
I picked up my phone. There were dozens of messages from Karen and the others. I would never know what Andrew wanted me to do, but at least I knew what I wanted to do.

===

“Congratulations.”

I handed over a single rose to Karen. She looked surprised to see me here.

“Aaron...thanks for coming.”

If she had hesitated, she didn’t show it and accepted the rose gracefully.

“And thanks for coming too, Barbara. It’s been a while,“ said Karen to my mom beside me who proceeded to give her a small but intimate hug.

“Everyone was fantastic. I know An--Andrew would have been proud of you as well.”

There would have been an uncomfortable silence if not for the fact nearly all the audience had stayed after the show to greet, congratulate, and take a selfie with the actors.

“Yes. Thank you. I’m sorry that you couldn’t join us on stage, Aaron.”

“It’s my fault,” I shrugged, “I should not have said those things. Is Harry still mad at me?”

“No. Well, not really. But his pride wouldn’t allow him to appear to have forgiven you yet. He’s silly like that. Just give him some time.”

“Well, I’m glad to hear that then.” I truly was.

“I heard you auditioned for Navarro’s 12 Angry Men?” her eyes probed me. I met them, bare.

“Yes. I don’t know if I was good enough. But I gave it my best.”

“I could tell.”

I raised my eyebrows.

“How?”

“You look relaxed now. Happier.”

“Huh…maybe I am. Yeah.”

“Met someone special lately?”

To this, my mom couldn’t help but interject. “Did you, Aaron? You should tell me. What is she like? Or is it a he?”

I laughed. “No, it’s nothing like that. I just reconnected with an old friend.”

It amused me that somehow Karen and my mom looked very much similar when they were waiting for me to say more, goading me silently.

“A childhood hero, I guess.”


Entry #07: *Review* Makanan: Laboratorium Sate Mas Xar | May be mildly disturbing for some.
Spoiler: ShowHide
 Hai *gengs*, kembali lagi di blog *gua*~ Sebelumnya mohon maaf beberapa minggu ini *gua* jarang *update*; maklum, ada urusan, sibuk *#plak*.

 *Anyway,* kali ini *gua* bakal membahas pengalaman *gua* makan di warung sate milik temen gua, Xar. Mas Xar, biasanya dipanggil begini karena dia setahun lebih tua dari *gua* meskipun satu angkatan di kampus, ini teman dekat *gua* pas masa kuliah dulu. *Yha,* bisa dibilang untuk zaman sekarang teman se-*circle* lah~

 *Gua* masih ingat dulu kami kalau malam-malamsetelah *ngambis* (sebenarnya gibah teman-teman sejurusan sih) sering makan *bareng* di warung sate Cak We di pinggir gerbang kampus. Dulu warung sate ini salah satu yang paling enak di seluruh kota, jadi sewaktu kami datang seluruh bangku warung biasanya terisi; jadinya kami biasanya cuma beli bungkus. Harga bisa dibilang selisih *ga* jauh ama sate biasa, tapi rasanya? Mantap banget lah, *kayak creamy* pedas tapi rasa kacangnya juga *tajem* gitu. Rasa dagingnya juga berbeda banget dengan sate biasanya, kayak, teksturnya khas gitu; alot tapi *ngangenin*. Dagingnya pun besar-besar. Benar-benar idaman mahasiswa meskipun saat akhir bulan~

(FYI, karena rame dan banyak orang, terutama mahasiswi, ke sini, dulu tempat ini juga terkenal sebagai tempat *PDKT-PDKT gitu.* Bahkan meskipun sejurusan, *gua* sama istri *gua* sekarang mulai berdekatan bukan sewaktu kegiatan di kelas atau di forum jurusan, tapi sewaktu mengantri di warung ini #plak)

 Namun sayangnya, beberapa saat setelah kami lulus kuliah, warung beliau menghilang dari gerbang kampus. Ada yang bilang Cak We pulang kampung. Ada yang bilang Cak We wafat tanpa keturunan. Yang jelas, seantero kampus bisa dibilang kehilangan sate ini. Banyak *sih* penjaja-penjaja sate baru di sekitar kampus sekarang, tapi *ga* ada yang rasanya sama seperti Cak We. Pokoknya sate beliau itu sudah menjadi legenda kampus gitu lah~.

 Lah, kenapa dari tadi bahas sate Cak We, bukan warung mas Xar? Jadi begini *gengs*...

 Cerita awalnya, *gua* tiba-tiba ditelpon mas Xar beberapa hari lalu,

 "Zar, mau *nyobain* sate yang *kayak* Cak We ga?"

 "HAH?"

Ya kaget dong *gua;* kapan lagi bisa merasakan sate yang mirip Cak We setelah sekian lama? Seperti yang *gua* katakan tadi, Cak We tak tergantikan. *Unforgettable* *lah,* biar keminggris *dikit.*

 "Ya udah *kuy, ntar* sore ke Laboratorium Sate."

 "Hah, *apaan tuh? Di mana? Baru denger."*

"Udah, *dateng* *aja*. Di perempatan jalan Amen dan Hotep."

"Ah, *mager gua,* banyak *kerjaan* di kantor-"

 "*Gua* traktir. Semuanya."

 "Siap."

 *Gua* bertemu mas Xar di Laboratorium Sate sekitar jam 3 sore. Bangunannya sangat baru, tapi tidak terlihat ada pengunjung sama sekali. Tentu saja, *gua* juga mengajak istri *gua*; sekalian reuni masa kuliah, biarpun hanya bertiga.

 Sewaktu datang, *gua* langsung disambut oleh lagu band era 2000-an dan mas Xar di pintu masuk.

 "Silakan, silakan Zar, masuk sini ya... Wah... ada Nie. Jadi ingat masa-masa kita dulu *nugas* bersama waktu Zar sibuk kompetisi... Kangen..."

 *Gua* sama istri *gua* langsung didudukkan di kursi yang paling mewah di sana. Zar memesankan sate ayam dua porsi, pakai lontong, ditambah jus lemon. Istri *gua* terus kebelet ke toilet, jadinya *gua* ama mas Xar berduaan aja.

 Nah, ternyata setelah ngobrol-ngobrol lama, Laboratorium Sate ini ternyata warung bener-bener baru dan punya mas Xar sendiri. Sebenarnya warung ini baru buka tiga hari lagi, namun kata dia, "Anggap aja ini *soft opening* buat kamu lah Zar, sebagai teman makan bersama di Cak We dulu." Kata dia pula, modalnya dari keutungan investasi dia di pasar modal selama bertahun-tahun (*FYI* dia sudah jago berinvestasi dari SMA lho~). Terus juga, dia berani klaim satenya mirip sate Cak We karena ia sudah menemukan resep dari Cak We sendiri. *Gua* sih awalnya tidak yakin karena banyak sate di sekitar kampus yang mengklaim hal serupa sepeninggal Cak We; tapi apa salahnya percaya teman sendiri? (*toh* dibayarin #plak).

 Nah, setelah menunggu sekian lama, sekitar sejam, akhirnya sate ayam a la Mas Xar *featuring* Cak We datang juga. Bumbunya memang benar-benar khas Cak We; baunya pun juga khas sate beliau. Tekstur sate dan rasa dagingnya pun sama alotnya seperti sate Cak We dahulu, tapi tetap sama enaknya.

 Terus tiba-tiba, mas Xar juga *nyiapin* satu porsi tongseng buat *gua* bawa pulang. Katanya anggap saja sebagai hadiah pengantin baru.  Maklum, dia *kayaknya* terlalu sibuk sehingga tidak sempat ke pernikahan *gua*. Atau mungkin *baper* karena dia dulu sempat lama pacaran dengan Nie, *ya*?

 Cita rasa tongsengnya juga mantap *sih*. Daging yang dipakai sepertinya sama dengan daging sate tadi. Meskipun sebenarnya *gua* sempat tersedak setelah memakan bagian daging yang agak aneh dan keras sewaktu tengah-tengah makan *sih*.

Nah, gara-gara itu, *gua* minta izin ke mas Xar untuk ke toilet. Sewaktu ke sana, *gua* entah kenapa justru *muntahin* seluruh isi perut *gua.* Ternyata cincin perkawinan *gua* sempat nyangkut di mulut. Aneh, padahal cincin punya *gua* masih *gua* pakai. Lah, ini cincin siapa dong yang nyaris *gua* telan?

 Terus *gua* baru *nyadar* istri *gua* ternyata belum *balik-balik* dari toilet.

Karena *posting-*an ini menceritakan pengalaman *gua* dan sate mas Xar, bukan pengalaman *gua* jadi saksi kasus pembunuhan istri *gua* oleh mantan pacarnya, *gua* potong cerita *gua* sampai sini dulu aja ya. Kapan-kapan mungkin *gua posting* kelanjutan cerita *gua* dan mas Xar (kalau niat). Tapi meskipun begitu, *gua* bersumpah tekstur sate dan rasa dagingnya sangat mirip dengan sate di warung Cak We. Bahkan mungkin sama persis.

 Ohya, kalau mau nyobain warung ini, sayangnya Laboratorium Sate punya mas Xar katanya sedang ditutup buat sementara. Nanti *gua* infokan lagi kalau sudah buka.


Entry #08: Malam Kehancuran - Edisi M
Spoiler: ShowHide
​                     **Malam Kehancuran - Edisi M**   

​   Penampilan adalah hal yang penting bagi sebagian besar orang. Saat pertama bertemu, penampilan sering menjadi basis asumsi pertama orang lain terhadap seseorang. Bahkan setelah pertemuan pertama pun, penampilan lah cara orang lain menilai apakah seseorang sedang bahagia, stres, sedih, depresi, atau sebagainya. Penampilan juga dapat digunakan untuk merayu orang lain untuk melakukan apa yang seseorang inginkan. Oleh karena itu, sebagian besar orang menjaga penampilan mereka, bahkan ada yang mau menghabiskan uang dan waktu mereka hanya untuk penampilan mereka.

​   Tapi tidak denganku. Rambutku tidak teratur, pilihan bajuku hampir tidak cocok sama sekali, tidak ada aksesoris indah yang terpampang dari pakaianku, kalungku miring, dan kumis serta janggutku yang mulai tumbuh terasa panjang sebelah saat aku pegang. Oke, mungkin yang terakhir itu salahku karena tidak mencukur kumis dan janggutku secara berkala, tapi aku yakin jika aku cukur pun tidak akan jauh lebih baik. Hasil cukurku pasti tetap jelek karena aku tidak bisa melihat refleksi diriku.

​   Aku sudah mencoba mencari suatu permukaan yang dapat memantulkan refleksiku tapi belum berhasil. Air, kaca, es, logam; tidak ada satupun permukaan tersebut yang memantulkan refleksiku. Bahkan baju yang asalnya bisa terlihat pantulannya akan menghilang jika dipegang olehku cukup lama. Ini sangat aneh karena kedua orang tuaku keduanya normal-normal saja. Mereka bilang mereka sempat takut sang Alpha akan mengusirku dari kawanan *werewolf* kami. Akan tetapi, ayahku bilang sang Alpha hanya menyeringai dan mengatakan aku akan jadi Epsilon mata-mata yang baik saat besar nanti karena para Manasa --Manusia non-*werewolf*-- tidak akan bisa melihat diriku melalui alat yang mereka sebut 'kamera' yang konon bekerja menggunakan pantulan-pantulan kaca.

​   Tapi... uh, aku takut dengan para Manasa. Para Epsilon yang aku kenal sering menceritakan hal-hal yang mereka lihat dari para Manasa saat ditugaskan di luar kawanan. Mereka bilang para Manasa memiliki alat-alat mengerikan seperti balok L yang dapat membuat tuli dan berdarah pada bagian tubuh apa saja, balok trapesium yang dapat membuat orang hanya tinggal tulang dan kulit, balok-balok pipih yang bisa terbang dan memotong apapun yang mengenai pisau-pisau di keempat sudutnya, kota palsu kosong yang dapat membuat ledakan hanya dengan benda-benda kecil, serta balok-balok I kecil yang dapat membuat cahaya yang bisa memotong apa saja yang disinarinya. Aku bahkan pernah mendengar ada Manasa yang menempelkan balok-balok I tersebut di daerah matanya dan ia memotong apapun yang dilihatnya. Urnf, bahkan memikirkan semua itu saja aku jadi merinding jika harus sendirian di sekitar para Manasa saat aku sudah dewasa nanti.

​   "Sedang apa, Lastron?" tanya sebuah suara berat nan kasar dari belakangku secara tiba-tiba. Oh tidak, itu suara sang Alpha.

​   Sebuah tangan besar tiba-tiba menggenggam bahu kananku dan memutarku. Saat mataku tidak berputar-putar lagi, aku melihat sang Alpha di hadapanku, tangan kirinya kini menggenggam bahu kiriku. Sang Alpha tersenyum dengan ramah(ya, seramah yang ia mampu) padaku, janggut dan kumisnya yang berwarna coklat tua dan hitam mengerut ke atas sedikit. Gigi taringnya keluar sedikit dari mulutnya. Matanya yang kuning dengan bercak-bercak merah menyala terang, bahkan dalam cahaya senja ini. Rambutnya yang berwarna coklat tua dan hitam mengibas-ngibas dalam angin yang sedang berhembus untuk menyambut malam. Ia mengenakan sebuah kemeja hitam dengan garis-garis kuning dan merah yang tidak dikancingkan sepenuhnya, sisi kiri kemejanya diikat ke bahunya, menunjukkan dada sebelah kirinya tempat tanda sang Alpha berada--sebuah garis abu tua vertikal yang berpotongan di bagian atasnya dengan dua garis miring abu tua di kanan dan kirinya (/|\\).

​   "Uh, tidak ada, Alpha. Hanya menunggu matahari terbenam," kataku gugup. Bahkan saat tersenyum ramah sang Alpha tetap menakutkan.

​   "Ah, tentu," ucapnya sembari melepaskan bahuku. Ia kemudian menengadah dan menutup matanya, menghadap ke matahari. "Tapi... Apa kau sudah siap menerima peranmu, Lostran?"

​   "Uh... Bisakah aku jadi Epsilon dalam kawanan saja, Alpha?" ucapku dengan sedikit berharap, karena aku tahu apa yang akan dikatakan sang Alpha selanjutnya.

​   "Lostran," desah sang Alpha. Sang Alpha kemudian membuka matanya dan menggenggam kedua bahuku sebelum menurunkan badannya supaya matanya sejajar mataku. "Kamu ini unik, Lostran. Keunikanmu ini bisa sangat berguna untuk kawanan kita. Aku tidak mengatakan kamu tidak bisa memiliki pekerjaan lain ataupun hobi. Saat umurmu sudah sangat tua nanti, kamu bisa berhenti menjadi seorang Epsilon dan pensiun atau bekerja sebagai seorang guru atau apapun. Dan menjadi seorang Epsilon tidak menghalangimu untuk melakukan hobimu, apapun itu. Kamu mungkin bermimpi menjadi seorang penjaga pohon, tukang kayu, atau dokter. Akan tetapi keunikanmu ini hanya benar-benar berguna bagi kawanan jika kamu menjadi seorang Epsilon mata-mata. Seorang *werewolf* yang memiliki kemampuan lebih di satu bidang namun tidak menggunakannya dianggap tidak berguna bagi kawanan, Lostran. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada mereka yang tidak berguna bagi kawanan?"

​   "Mereka jadi Omega, Alpha," jawabku, berusaha mengalihkan pandanganku dari mata sang Alpha tapi gagal, sang Alpha memaksaku tetap memandangnya.

​   "Benar. Jangan jadi seorang Omega, Lastron. Kamu akan menyesal."

​   Sang Alpha kemudian berdiri tegak kembali dan melepaskan kedua bahuku.

​   "Eh... Ngomong-ngomong, kenapa kamu ingin jadi Epsilon dalam kawanan? Naksir seseorang?" ucap sang Alpha sambil tersenyum sedikit bagai mendengar lelucon kuno yang sudah tidak lucu lagi.

​   "Um, aku hanya tidak ingin bertemu para Manasa, Alpha," ucapku sembari membuang muka.

​   "Masih takut para Manasa?" tawa sang Alpha. Sang Alpha kemudian menyeringai dan kembali menggenggam kedua pundakku.

​   "Lastron, kamu tahu ini bulan apa?" tanya sang Alpha sambil kembali menurunkan badannya.

​   "O-oktober."

​   "Benar. Kamu tahu di bulan purnama Oktober ada apa?"

​   "Uh, jurit malam."

​   "Benar. Dan karena kamu masih takut para Manasa, aku memerintahkanmu untuk ikut jurit malam. Lagi."

​   Sang Alpha kemudian mengetukkan telunjuk kanannya di atas jantungku. Sensasi terbakar dan terkilir menghampiri kulit di atas jantungku sesaat setelahnya. Kalungku mengayun sedikit karenanya.

​   "Jika tidak, aku akan menjadikanmu seorang Omega saat kamu dewasa," ucap sang Alpha sembari melepaskan kembali bahuku dan berdiri, wajahnya kini mengerut dan serius. "Selamat malam purnama, Lastron."

​   Sang Alpha berjalan melewatiku. Aku bergegas membuka kancing kemejaku setelah sang Alpha pergi, dengan kuatir melihat ke arah jantungku. Tapi syukurlah, tanda yang ada di kulit di atas jantungku masih berupa sebuah garis vertikal di antara tanda-lebih-kecil-dari dan tanda-lebih-besar-dari ( <|> ), tanda seorang Phi, tanda seorang *werewolf* muda. Aku memutar badanku dan melihat sang Alpha menghampiri *werewolf* lain dan menyapanya, melanjutkan ritualnya setiap sebelum malam purnama--menyapa setiap *werewolf* yang ia temui dan mengobrol sebentar dengan mereka. Jika sang Alpha tidak menyeramkan, ia akan terlihat ramah.

​   Aku berpaling untuk menghadap tempat jurit malam dimulai dan melihat seorang Epsilion sedang berdiri dan mencatat siapa saja yang akan ikut jurit malam nanti. Aku mulai berjalan menghampirinya, ketakutan. Bukan karena aku takut dengan sang Epsilon. Bukan juga karena aku takut dengan jurit malam, meski aku cukup takut karena beberapa kali melihat Manasa yang membawa senjata saat jurit malam tahun-tahun sebelumnya. Bukan juga karena hutan yang akan dijadikan tempat jurit malam, meski bagian hutan itu jarang kawanan kami kunjungi dan sedikit lebih berbahaya. Bukan, aku takut karena di balik hutan itu ada sebuah bukit yang di atasnya terdapat reruntuhan bangunan putih penuh kaca yang besar. Setiap kali aku bertanya tentang bangunan itu kepada *werewolf* yang lebih tua, mereka hanya mengatakan bahwa dulu bangunan itu menyala-nyala saat malam hari sebelum akhirnya sebuah ledakan yang mengerikan menghancurkannya. Tidak ada yang tahu bangunan itu apa, tapi aku yakin dahulu para Manasa membuat senjata mengerikkan di dalamnya.

​   "Lastron," panggil seorang serigala antropomorfik dengan bulu coklat, garis-garis merah di lengannya yang mengikuti kontur ototnya, celana hitam dengan sabuk yang penuh alat tulis dan alat-alat lain yang tidak aku ketahui namanya, serta baju biru gelap yang hanya dikenakan bagian kanannya saja. Di dada kirinya, di atas jantung sang *werewolf*, terdapat tiga garis horizontal hitam (≡) yang mirip hasil cakaran--garis yang paling atas lebih menjorok ke kanan dan garis yang paling bawah lebih menjorok ke kiri. Tanda seorang epsilon.

​   Sang Epsilon mengambil sebuah jam kecil dari sabuknya saat aku menghampirinya. "Jurit malammu dimulai 3 menit 37 detik lagi," ucapnya sambil memandang jamnya itu.

​   "Oke," jawabku dengan sedikit gugup. Aku gugup bukan karena takut dengan sang Epsilon, atau bahkan karena jurit malam ini. Bukan, aku takut karena bahkan dari tempat aku berdiri pun aku masih bisa melihat bagian atas runtuhan bangunan putih itu dan entah mengapa hanya itu yang bisa aku perhatikan.

​   Aku merasakan sang Epsilon memandang ke arahku selama beberapa saat sebelum ia mendesah dengan nada kewalahan. "Kau tahu, ketakutanmu pada para Manasa itu berlebihan," ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi bulu coklat halus.

​   "Tapi-," aku mulai membantah, tapi ia segera mengangkat tangannya--untuk menghentikanku berbicara-- kemudian menatapku dengan matanya yang berwarna kuning dan oranye yang menyala-nyala dalam malam hari.

​   "Tidak semua Manasa memiliki senjata, Lastron," katanya secara lamban sambil menurunkan kembali tangannya. "Bahkan sebagian besar dari mereka seperti menganggap senjata itu hanyalah beban," ia mengangkat bahunya.

​   "Lagipula...," lanjut sang Epsilon setelah diam beberapa detik. Mungkin membiarkanku menyerap kata-katanya? "Kalau jadi Epsilon mata-mata pun kamu tidak akan sangat sering bertemu Manasa. Akan cukup banyak waktumu yang habis hanya melewati hutan-hutan untuk mencapai kota selanjutnya," sang Epsilon melirik saat mengatakan bagian terakhir.

​   "Uh... pernahkah bapak melihat seorang Manasa yang membawa senjata?" tanyaku pada sang Epsilon, akhirnya mengalihkan pandanganku dari runtuhan bangunan di seberang hutan.

​   "Eh, paling 'Polisi' dan 'Tentara'," sang Epsilon membuat tanda-tanda kutip di udara dengan tangannya. "Pendeknya, mereka adalah Epsilon dari para Manasa. Selain mereka, tidak."

​   "Oh, *shoot*," umpat sang Epsilon secara tiba-tiba, memandang jam miliknya. "Sudah lewat satu menit. Masuklah," sang Epsilon berjalan ke belakangku lalu mendorongku masuk ke dalam hutan.

​   "Aku bisa jalan, pak!" protesku, mengayunkan kedua lenganku di udara.

​   "Lastron," mulai sang Epsilon setelah kami cukup jauh di dalam hutan hingga *werewolf* yang menunggu giliran mereka masuk tidak terlihat. Suasananya sunyi. "Jangan jadi seorang Omega. Percaya padaku," lanjut sang Epsilon tak lama kemudian.

​   Sang Epsilon kemudian melepaskan bahuku dan mulai berjalan kembali. "Bersenang-senanglah," ucapnya sebelum menghilang dibalik pepohonan.

​   Aku hanya berdiri diam di antara pohon-pohon selama beberapa menit. Aku membuka kancing kemejaku dan menempelkan tangan kananku yang memiliki bulu abu dan cakar yang cukup besar di atas dada kiriku, di atas tanda Phi-ku. Aku menggerakkan tanganku, tanda Phi-ku terasa sangat kasar di antara bulu-bulu putih yang memenuhi dada dan leherku. Bagaimana... jika aku gagal dan menjadi seorang Omega?

​   Tiba-tiba saja hutan menjadi gelap. Cahaya bulan yang sebelumnya menyinari hutan menghilang dengan sekejap. Kegelapan itu membuat bunga-bunga bercahaya di akar beberapa pohon terlihat lebih terang. Akan tetapi, ada satu sumber cahaya yang jauh lebih dekat dari bunga-bunga itu.

​   Di dadaku, kristal kalungku menyala dengan warna kuning, merah dan biru secara bersamaan. Kalungku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Dan... entah aku saja atau cahaya yang dipancarkan kalungku terlihat seperti bentuk-bentuk geometris kotak, lingkaran, dan segitiga. Aku mengangkat kalungku untuk memeriksanya lebih lanjut, tapi pada saat itu cahaya bulan kembali dan cahaya dari kalungku menjadi tidak jelas.

​   Karena merasa aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu dan takut peserta selanjutnya akan segera masuk, aku mulai mencari penanda jalan jurit malam kali ini. Aku berjalan mengitari tempatku berada dan memeriksa setiap pohon yang lebih tinggi dari diriku. Akhirnya di salah satu pohon aku menemukan tanda tersebut--Sebuah bekas cakaran besar yang membentuk segitiga terbalik.

​   Aku berjalan mengikuti tanda tersebut dan mencari tanda selanjutnya di pohon-pohon setelahnya. Sepuluh menit berlalu, dan yang aku temukan hanyalah beberapa kelinci dengan berbagai warna. Salah satu dari mereka ada yang berwarna putih dan terlihat sangat gemuk dan *fluffy*.

​   ...

​   Aku jadi ingin memeluk kelinci tersebut.

​   ...

​   Atau memakannya. Akankah sang Alpha marah jika aku memakan kelinci di hutan saat melakukan jurit malam? Semoga tidak. Tapi... Um... Aku sudah makan saat masih di kota kawananku. Selain itu, jika aku terlalu banyak makan dan sangat kenyang, aku akan jadi mudah untuk ditangkap para Manasa. AAAAA!

​   Berusaha mengalihkan pikiranku dari kelinci-kelinci yang imut nan terlihat lezat itu, aku mulai berlari dengan kedua tangan dan kakiku. Berlari biasanya dapat mengalihkan pikiranku dari banyak hal.

​   ...

​   Termasuk tanda jurit malam. Dengan segera aku membelokkan badanku dan mencari tanda jurit malam selanjutnya.

​   Setelah berlari beberapa menit aku mulai memperlambat lariku sebelum akhirnya berhenti. Sudah hampir lima belas menit sejak aku memulai jurit malamku dan jalan keluar hutan belum terlihat sama sekali. Sepanjang apakah rute jurit malam kali ini?

​   Dengan sedikit terengah-engah aku mulai berjalan kembali menyusuri hutan, mengikuti penanda jalan jurit malam. Selama beberapa menit aku hanya berjalan, mendengarkan suara-suara lembut dari jangkrik dan daun-daun yang berhembus terkena angin. Sejujurnya, jika ini bukan jurit malam perjalanan ini akan sangat menenangkan.

​   Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiriku. Aku memperlambat jalanku dan berusaha mendengarkannya. Suara itu semakin lama semakin membesar. Itu... suara sesuatu bergerak? Beruang? Tidak, suaranya kurang berat untuk seekor beruang. Rusa? Tidak, aku sering memburu mereka dan suara mereka bergerak tidak seperti itu. Kelinci? Mmm... Enak rasanya kalau ada kelinci yang tiba-tiba melompat masuk ke dalam mulutku. Tidak, tidak, suara ini terlalu berat untuk seekor kelinci.

​   Karena aku payah dalam menghubungkan suara gerak dan makhluk yang membuatnya, aku mengendus udara sekitar. Wangi tanah dan rumput hutan memenuhi indra penciumanku, dibalik kedua wangi tersebut terdapat wangi batang pohon, dedaunan, bahkan bunga-bunga bercahaya yang tumbuh di akar pohon-pohon. Di kejauhan aku mencium wangi seekor rusa, tapi rusa itu terlalu jauh untuk membuat suara tersebut. Akhirnya, di balik itu semua aku mencium sebuah bau  yang cukup dekat dari samping kiriku, bau tanah liat yang dicampur dengan bau metal. Oh tidak.

​   Sebuah makhluk tiba-tiba melompat dari sisi kiri di hadapanku. Dalam panik aku menutup mataku dan mengangkat tanganku dengan cepat sembari berteriak, "AAAAA!"

​   Sayangnya di balik teriakkanku ada teriakkan lain yang lebih melengking. Suara darah bersemburan dimana-mana terdengar saat aku merasakan tanganku mengenai daging sang makhluk. Tak lama kemudian terdengar suara sang makhluk jatuh, masih berteriak. Saat aku membuka mataku, seorang Manasa terkapar dihadapanku dengan sejumlah darah berceceran di sekitarnya.

​   A K U   B A R U   S A J A   M E N Y E N T U H   S E O R A N G   M A N A S A

​   Aku mulai membalikkan badanku, siap untuk kabur dan menjauhi sang Manasa. Tentunya jika ada seorang Manasa, ada Manasa lain di dekatnya. Jika Manasa yang satu ini sudah tidak dapat menyerangku menggunakan senjatanya karena aku, tentu Manasa lain dapat melakukannya. Aku tidak mau bertemu Manasa lain dan menjadi mainan senjata mereka. Aku mulai berjalan perlahan, berusaha bergerak tanpa suara agar Manasa lain tak dapat mengikutiku.

​   Akan tetapi, setelah beberapa langkah yang aku dengar hanyalah rintihan sang Manasa. Aku tidak mendengar suara apapun lagi bergerak di sekitar kami. Aneh, rasanya kami berteriak dengan cukup keras.

​   Aku mulai berjalan beberapa langkah lagi, dan satu-satunya yang aku dengar tetaplah rintihan sang Manasa. Apa ini? Tidak adakah Manasa lain yang akan menghampirinya? Yang aku tahu Manasa selalu bersama-sama.

​   Aku menoleh ke belakang dan melihat sang Manasa merintih kesakitan sambil memegang lengan kanannya. Mata sang Manasa menatapku penuh air mata, alisnya terangkat ke atas. Bajunya sedikit robek di beberapa tempat, tapi sebagian besar kelihatannya bukan karena cakarku.

​    Aku mulai mencari di sekitar sang Manasa. Tidak ada, tidak ada senjata di sekitarnya. Apa yang ia lakukan di sini?

​   Mungkinkah ia akan mengeluarkan cahaya mematikan dari matanya?

​   ...

​   Jika ia bisa ia pasti sudah melakukannya.

​   Apakah yang sang Manasa lakukan di sini?

​   Sial, apakah aku mulai merasa bersalah karena mencakar sang Manasa karena panik? Tapi ia yang membuatku panik. Tapi sang Manasa terlihat tidak membawa senjata. Tapi ia mungkin menyembunyikannya. Tapi rintihannya mengingatkanku pada rintihan saat aku membawa *werewolf* lain sebayaku karena diserang beruang. Sial.

​   Jika aku mati sekarang, setidaknya aku tidak mungkin menjadi seorang Omega.

​   Dengan pikiran itu, aku mulai menghampirinya. Sang Manasa mulai bergerak mundur, menjauhiku. Tentu saja.

​   Aku mulai mengangkat tanganku untuk menyapa sang Manasa dan agar ia dapat melihat bahwa cakarku jauh dari dirinya. Ia terlihat semakin takut dan bergerak mundur lagi. Gerakannya membuat beberapa tetes darah menyembur keluar dari lukanya.

​   "Aku tidak akan menyakitimu," ucapku dengan suara selembut mungkin. Sebuah suasana sunyi yang panjang nan canggung mengikuti pernyataan itu. Aku dapat mencium beberapa tetes darah menyembur keluar lagi dan sang Manasa meringis dengan lebih keras.

​   "Aku sudah menyakitimu," kataku mengakui apa yang sudah aku lakukan. "Tapi aku tidak akan menyakitimu lagi jika kamu tidak menyakitiku."

​   Sang Manasa hanya menatapku terbelalak. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar. Sepertinya ini hari yang besar untuk kami berdua.

​   "Kamu," ucap sang Manasa dengan parau, akhirnya mengucapkan sesuatu. "Bisa bicara?" lanjutnya.

​   Oke... Ini tidak berjalan sesuai dugaanku.

​   "Uh... Tentu," jawabku canggung, menggaruk-garuk leher belakangku. "Kami *werewolf* manusia."

​   Mata sang Manasa kembali melebar, namun kali ini irisnya bergerak ke kanan dan kiri. Mulutnya kembali ternganga. Alisnya mengerut. Apakah sang Manasa ingin membantahku?

​   Akhirnya yang keluar dari mulut sang Manasa hanyalah rintihan lainnya, beberapa tetes darah kembali mengalir dari lukanya. Aku segera berlutut di depannya, entah mengapa. Gerakkanku yang tiba-tiba membuat sang Manasa kembali berteriak keras. Teriakkan yang sedikit menyakiti telingaku membuatku kaget dan berdiri kembali.

​   "Um, aku mungkin dapat membantu menyembuhkan lukamu," kataku setelah sang Manasa berhenti berteriak.

​   "Uh, apakah kamu akan menjilatiku?" tanya sang Manasa, menatapku.

​   "Apa?" aku memiringkan kepalaku.

​   "Aku dengar serigala menyembuhkan luka dengan menjilatinya,"

​   "Oh. Tidak. Um, aku akan membuat obat dari tanaman di hutan,"

​   Kini sang Manasa yang memiringkan kepalanya, "Untuk apa *werewolf* membuat obat? Kan kalian punya regenerasi yang sangat bagus."

​   Aku mendesah pelan, "Sayangnya tidak semua luka bisa disembuhkan hanya dengan regenerasi kami."

​   "Jadi, mau coba aku obati?" tanyaku, mengunci tatapanku pada matanya.

​   "Boleh. Aku tidak bawa obat," jawab sang Manasa setelah beberapa saat.

​   "Kita sebaiknya menghentikan pendarahanmu dulu sebelum kamu kehabisan darah," ucapku sembari melepas bajuku untuk dijadikan perban-pengganti sementara.

​   "Uh, oke," sang Manasa akhirnya berhenti memegang lengan kanannya.

​   Aku mulai melilitkan bajuku pada lukanya, memastikan bagian yang paling bersih dan kering adalah bagian yang paling dekat lukanya. Saat aku memerban lengannya aku melihat bahwa ia kehilangan cukup banyak daging di lengan atasnya, dekat dengan bahunya. Jika ia lebih dekat denganku aku yakin ia akan kehilangan lengannya.

​   "Jangan gerakkan lengan kananmu," saranku setelah aku mengikat ujung-ujung bajuku di bagian depan lengan sang Manasa. Lengannya kini memiliki lingkaran kuning dengan garis-garis biru di bagian atasnya karena bajuku. Setidaknya tidak ada warna merah darah. Hasil perbanku cukup berhasil.

​   "Oke," ucap sang Manasa, berusaha kembali berdiri. Aku mengangkatnya dengan menarik lengan kirinya pelan-pelan. "Terima kasih. Tapi setahuku sebelum menggunakan obat sebuah luka harus dibersihkan."

​   "Oh," aku mulai berputar-putar mencari sumber air. Setelah beberapa kali aku mengendus udara dan menajamkan pendengaranku pada beberapa titik, aku menemukan bau sekumpulan air.

​   "Kalau begitu kita ke sana," kataku sembari menunjuk arah danau, jauh dari jalan jurit malamku.

​   Sang Manasa mulai berjalan ke arah yang aku tunjuk sebelum tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arahku. "Ada apa di sana?" tanyanya.

​   Aku terdiam sejenak. "Danau," jawabku singkat.

​   "Oh, oke," ucap sang Manasa sambil mulai berjalan kembali. Apakah para Manasa memiliki tempat untuk membersihkan bahkan mengobati semua luka?

​   Dalam perjalanan menuju danau aku memetik beberapa daun dan tanaman yang pernah diajarkan kepadaku dapat mengobati luka. Aku harap tanaman-tanaman tersebut memiliki efek yang sama pada Manasa dengan pada *werewolf*.

​   "Karena kamu bisa bicara, kamu punya nama kan?" tanya sang Manasa saat aku tengah memetik sebuah daun.

​   "Um, ya," aku mulai menimbang apakah aman untuk memberitahunya namaku. "Lastron," kataku akhirnya. "Kamu?" tanyaku balik. Jika ia memberiku namanya tentu aman bukan?

​   "Rinstof," jawabnya.

​   Kami tidak mengobrol lebih lanjut, tapi sepertinya kami berdua senang karena mengetahui nama satu sama lain.

​   "Aku kira *werewolf* itu makhluk buas pemakan manusia," ucap, er tanya(?), Rinstof saat aku sedang mengambil herba.

​   Oh, sang Alpha tentu pernah memakan manusia. Mungkin. Ia terlihat dapat memakan manusia, setidaknya. "Er, tidak selalu. Aku tidak pernah memakan Manasa," jawabku.

​   "Manasa?" tanyanya. Aku dapat merasakan Rinstof memiringkan kepalanya ke arahku.

​   "Sebutan kami untuk kalian, manusia non-*werewolf*," jawabku sembari menoleh ke arahnya.

​   "Oh," ucap Rinstof.

​   Rinstof pun terdiam, mungkin memikirkan mengapa kami menyebut mereka 'Manasa'.

​   "Kau tahu," mulaiku saat memetik beberapa bunga, berusaha mengajak Rinstof mengobrol. "Aku kira Manasa dapat menembakkan cahaya mematikan dari mata mereka dan memiliki banyak senjata."

​   Rinstof tertawa mendengarnya. Aku menoleh karena tawanya. Apakah perkataanku lucu?

​   Tiba-tiba tawanya berhenti dan ia meringis kesakitan. Sepertinya lengan kanannya bergerak saat tertawa. "Kami tidak bisa menembakkan laser dari mata kami, Lastron," ucap Rinstof, giginya terkatup.

​   "Laser?" tanyaku. Sebutan macam apa ini?

​   "*Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation*. 'Cahaya mematikan' yang kamu sebut."

​   Aku tidak mengerti apa itu '*Radiation*', tapi itu tidak penting. "Kalian memberinya nama?" tanyaku tercengang.

​   Rinstof terdiam sejenak, "Ada banyak cahaya yang mematikan, Lastron."

​   ... Oke. Aku kembali memfokuskan pikiranku untuk memetik bunga.

​   "Ngomong-ngomong, senjata apa yang kamu maksud?" tanyanya setelah beberapa saat.

​   "Kau pasti tertawa lagi tapi," aku menghembuskan nafas, "salah satunya  balok L yang dapat membuat tuli dan berdarah pada bagian tubuh apa saja."

​   "Hah?" ucap Rinstof heran, sepertinya merasa kesal dengan caraku mengucapkannya.

​   "Balok berbetuk L," aku kembali menoleh untuk menjelaskan maksudku kepadanya. "Warnanya biasanya hitam, membuat suara benda jatuh sangat keras yang bisa membuat tuli, bisa membuat berdarah?"

​   Rinstof hanya menatapku kosong.

​   "Biasanya sering digenggam?" ucapku setelah beberapa detik, berusaha mengingat detail-detail lain yang pernah para Epsilon ceritakan padaku.

​   "Oh, um," Rinstof menundukkan kepalanya dan menggaruk-garuk dahinya dengan tangan kirinya. "Pistol? Tapi kamu butuh izin untuk memilikinya, jadi bukan barang yang umum dimiliki."

​   "Kalian memberi benda itu nama?" tanyaku, tercengang untuk kesekian kalinya malam ini.

​   "Lebih mudah daripada menjelaskan seperti caramu," Rinstof mulai tertawa kecil, "dan jika kamu tidak mengatakan bentuk dan warnanya, yang kamu jelaskan bisa merujuk pada banyak hal."

​   Aku hanya mengedipkan mataku beberapa kali dan kembali memetik bunga.

​   "Hey, Lastron," panggil Rinstof saat aku mengambil akar pohon. "Apakah kamu tahu *werewolf* lainnya dan mereka menyiksamu?"

​   "Tidak, kenapa kamu bertanya?" aku menoleh sedikit heran.

​   "Di dada kirimu seperti ada bekas cakaran, jadi... aku kira," suaranya mengecil dan ia membuang muka.

​   "Oh, itu hanya lambang Phi--seorang *werewolf* muda," aku kembali menatap akar pohon yang sedang aku potong dengan cakarku.

​   "Muda? Aku kira kamu sudah dewasa. Umurmu berapa?" tanyanya. Entah kenapa tapi ia terdengar sedikit gembira.

​   "Er, enam puluh enam musim."

​   "Tujuh belas tahun?" tanyanya setelah beberapa detik, mengonversi musim ke tahun, mungkin.

​   "Er, ya. Umurmu berapa?" tanyaku balik.

​   "Tujuh belas tahun."

​   "Oh, er, oke," ucapku sebelum terdiam dan mengakhiri perbincangan. Entah mengapa aku kira ia sudah dewasa.

​   Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di danau yang kami tuju. Bulan purnama yang putih nan indah terlihat di langit yang berwarna biru tua. Hutan yang lebat mengelilingi kami dari segala arah. Bunga-bunga bercahaya tersebar di atas rerumputan hijau yang mengelilingi danau. Dan danau yang kami tuju? Airnya terlihat kebiruan di bawah langit, dan sesekali mengilap di bawah cahaya bulan. Ini malam yang indah.

​   Tapi ada yang aneh, kristal kalungku bercahaya kembali. Berbagai warna keluar dari kristal itu, membentuk berbagai benda geometris. Apakah ada kristal seperti ini juga di sekitar sini?

​   "Kalungmu kenapa?" tanya Rinstof saat kami di dekat danau.

​   "Entahlah, baru malam ini begini," jawabku singkat. Aku kemudian mengambil beberapa batu dan mulai membuat obat dengan pertama menghancurkan tanaman-tanaman tadi dengan batu-batu.

​   "Bersihkanlah lukamu," perintahku pada Rinstof. Tapi aku terlambat, ia sudah ada di atas danau dan sedang membuka balutanku.

​   Setelah beberapa menit aku menghampirinya dengan membawa beberapa batu yang berisi beberapa campuran tanaman-tanaman tadi. Rinstof sedang duduk di dekat danau, memegangi lengan kanannya. Oh, iya, apa yang akan ia pikirkan saat tahu aku tidak punya refleksi?

​   Saat aku berada di sebelahnya tanganku hampir menjatuhkan semua batu yang aku genggam. Di permukaan danau ada dua refleksi, bukan satu. Akan tetapi ada yang lebih aneh, itu bukan refleksi kami.

​   Di sebelah kanan terdapat refleksi seorang anak lelaki berambut hitam dan abu dan bermata biru dengan bercak-bercak kuning yang menyala di kegelapan. Ia mengenakan bajuku--kuning dengan garis-garis biru-- dan kalung yang persis seperti milikku, kalungnya pun menyala-nyala seperti milikku. Di sabuk celananya terlihat sebuah 'pistol' yang mengarah ke bawah. Wajahnya terlihat tercengang, persis seperti apa yang aku rasakan saat itu.

​   Di sebelah kiri, bukanlah refleksi Rinstof yang terlihat. Bukan, tapi seorang *werewolf* berwarna coklat dengan garis-garis hitam. Sang *werewolf* mengenakan baju Rinstof--Baju berwarna biru dengan corak awan berwarna merah-- yang hanya dikenakan bagian kanannya saja. Di dada kirinya ada tanda seorang Phi, dan tepat di atas terdapat sebuah luka berbentuk bulat kecil yang masih berkucuran darah.

​   "Lastron? Kamu baik?" tanya Rinstof, menoleh ke arahku. Pada saat yang bersamaan sang *werewolf* di permukaan danau pun menoleh ke arah refleksi si anak laki-laki.

​   "Ya," kataku perlahan sambil berjalan mundur. "Aku baik."

​   Aku mengeluskan sebagian campuran tanaman pada luka Rinstof. "Sudah lebih baik?" tanyaku, berharap.

​   "Ya, sedikit. Terima kasih," jawabnya. Akan tetapi ia meringis kesakitan.

​   "Kau yakin? Kamu meringis."

​   "Ya, ya. Cuma perih," jawab Rinstof sambil kembali membalutkan bajuku di atas lukanya.

​   Aku memiringkan kepalaku. Apakah obat perih itu normal bagi para Manasa?

​   "Oh, tenang, memang seharusnya perih kok," ucap Rinstof, Seperti menjawab pertanyaanku.

​   "Oh, oke. Tapi sepertinya kamu harus tetap ke dokter," ucapku menatapnya.

​   "Ya, tapi besok saja. Aku tidak ingin masuk ke hutan itu lagi malam ini."

​   Untuk beberapa menit kami hanya berbaring di dekat danau. Rinstof terlihat tenang, tapi aku tidak. Bagaimana mungkin aku tenang, aku baru saja melihat refleksiku--atau mungkin tubuh manusiaku-- di permukaan danau.

​   Apakah benar itu refleksiku? Ataukah hanya pikiranku saja?

​   Karena penasaran, aku berdiri kembali dan mulai berjalan ke danau.

​   "Lastron?" panggil Rinstof heran. Aku mengabaikannya.

​   Di atas permukaan danau, terlihat refleksi yang sama seperti sebelumnya, tapi *werewolf* yang sebelumnya ada bersamanya tidak terlihat. Gerak-gerik kami sama persis, setiap kali aku bergerak ke kanan, ia pun akan mengikuti. Setiap aku memiringkan kepala, ia pun memiringkan kepalanya dengan arah yang sama.

​   Akhirnya, aku berjalan memasuki danau. Dengan kakiku sedikit berada di dalamnya, aku memasukkan tanganku ke dalam danau. Tidak apa-apa selain-

​   Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan manusia menyentuh tanganku. Dan, entah kenapa, tanganku menggenggam tangan tersebut. Rasanya aneh.

​   THOOM

​   Tiba-tiba terdengar sebuah suara ledakan besar. Aku melompat ke belakang karena kaget.

​   "Lastron!" panggil Rinstof dengan panik.

​   Aku menoleh ke arahnya. Tapi ada sesuatu di belakangnya, bentuk-bentuk geometris dari berbagai warna terlihat bergerak dengan cepat dari kejauhan menuju kami. Dan, di kejauhan, di belakang Rinstof, runtuhan bangunan putih yang besar kini terlihat seperti baru. Dari kaca-kacanya yang besar terlihat cahaya berbagai warna memancar.

​   Tiba-tiba semunya semua warna. Tiba-tiba semuanya gelap.

​   Saat aku dapat melihat lagi yang aku lihat hanyalah warna hitam dan sebercak cahaya beberapa warna di ujung-ujung penglihatanku. Di hadapanku ada Rinstof yang tergeletak tak bernyawa, dan disebelahnya ada tubuh refleksi manusia serigala tadi. Dari tubuh mereka keluar bentuk-bentuk geometris berbagai warna yang berkelip-kelip dalam ruang hitam ini.

​   Aku menoleh ke belakang dan melihat bagian kiri tubuhku yang telah--entah bagaimana-- digabungkan dengan bagian kanan refleksi anak laki-laki tadi. Dari bagian yang tidak dapat sepenuhnya digabungkan terlihat cahaya berbagai warna menyinar keluar. Beberapa bentuk geometris keluar dari seluruh bagian tubuh tersebut. Di atas tubuh tersebut ada kalungku, tapi kristalnya terlihat patah berwarna hitam.

​   Di dadaku, aku sadari, masih ada kalungku, dan ia menyala-nyala dengan berbagai warna.



-- Tunggu kelanjutannya di Malam Kehancuran - Edisi M~!
(Di suatu waktu di masa depan~)
« Last Edit: March 27, 2019, 01:59:21 AM by Vision »

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #2 on: March 16, 2019, 10:34:12 AM »
Aku terharu tahun ini konsisten lumayan banyak entrinya setiap Challenge :')

Dan btw aku senang banyak yang pakai Markdown dan gak diganti jadi BBCode huehue karena jadi gampang buat versi ebooknya huehuehue.

EPUB: https://drive.google.com/open?id=172DEF71CLBHKjgMSi4__cYhW8p-wUhaT
MOBI: https://drive.google.com/open?id=13tIjSTAHuGSDt3-5UkptBI7FAhd9rkEd
PDF: https://drive.google.com/open?id=1aY7WEgYnahGYwqAJ9fXFdWzlJMOPnvdD

BTw Kalau Markdown mau dijadiin format forum bisa pakai ini: http://feralhosting.github.io/
« Last Edit: March 16, 2019, 10:40:09 AM by PseudoStygian »

Offline Rheine

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 203
  • Like wine, getting better with age
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #3 on: March 21, 2019, 03:27:30 PM »
1. Kiamat Mikroba
Spoiler: ShowHide
Premisenya menarik. Sayangnya penceritaannya terlalu datar dan berkesan seperti paragraf dari Wikipedia, rasanya akan lebih menarik jika diceritakan secara lebih personal misalnya dari anggota tim peneliti atau teman/saudara dari orang yang hidup di kota pertama yang terkena serangan (atau sekalian saja dibuat seperti artikel berita/esai kalau mau, sekarang masih tanggung).

Banyak kalimat yang terlalu ambigu sehingga kurang memberikan dampak bagi pembaca, misalnya dari dua kalimat pertama:

Quote
Setelah beberapa hari pernyataan suatu organisasi misterius dinyatakan, muncul suatu keanehan pada kota itu. Orang-orang di kota tersebut mulai berubah bentuk dan bangunan-bangunan rusak.

Di sini saja sudah banyak yang ambigu: 'pernyataan dinyatakan' -> pernyataannya apa? dinyatakan melalui media apa?
organisasi misterius -> semisterius apa? apakah tiba-tiba muncul atau sebelumnya sudah ada? siapa yang mewakilinya?
mulai berubah bentuk -> seperti apa?
kota itu -> 'itu' adalah kata acuan, sedangkan kita belum tahu sama sekali kotanya seperti apa. Ini seperti perbandingan before-after tapi kita nggak tahu beforenya seperti apa. Kota metropolitan? Kota kecil? Modern?
bangunan-bangunan rusak -> kerusakaannya seperti apa?

Untuk berikutnya coba dibuat lebih deskriptif supaya menggugah imajinasi pembaca. Kalau terlalu ambigu justru bisa jadi membingungkan.

Lalu di paragraf akhir-akhir juga masih terdapat ambiguitas.
Quote
Setelah semuanya itu terjadi, organisasi misterius tersebut menyatakan dirinya sebagai mikrob dan sengaja mengubah negara tersebut menjadi mikroskopis. Ia ingin menguasai negara tersebut dengan kekuatannya untuk selama-lamanya.
Jadi sebenarnya mereka bukan organisasi tapi seekor mikrob? Atau satu koloni? Bagaimana cara ia bisa berkomunikasi dan bahkan memiliki kekuatan untuk mengubah materi organik (manusia) dan inorganik (bangunan) menjadi mikrob?

Terus semangat, ditunggu cerita ajaib berikutnya.


2. After 17 Centuries
Spoiler: ShowHide
Love it! Short and sweet.
An epistolary fiction like this can be very effective in painting a fictional world without having to get into all the nitty-gritty details. It's also remarkable that the writer succeeds in giving Valedir has a strong 'voice'/character from only a short letter.


3. Kehanuran
Spoiler: ShowHide
Baru nyadar, apakah judulnya typo?
Cerita yang to the point, relatable, dan disampaikan dengan baik. Struktur cerita sederhana tapi dieksekusi dengan baik.

Mungkin bisa dirapikan sedikit lagi dengan penyuntingan supaya lebih bagus lagi, termasuk merapikan typo dan penulisan kata panggil.

Kalau mulai nitpicky,  bagian "Seandainya saja aku tahu bahwa sungai mematikan itu diam-diam menghanyutkan." terasa kurang tepat penempatannya, karena 'sungai mematikan' mengacu ke soalnya, bukan persiapan si karakter.

Dan endingnya bisa lebih impactful kalau nggak pakai kalimat yang dalam kurungnya.


4. The Flame Moth
Spoiler: ShowHide
Sangat stylish dan menarik. Pacingnya juga bagus.

Hanya saja beberapa bagian bisa diperjelas karena jadinya ambigu sehingga pembaca harus berhenti sejenak untuk memahaminya, sedikit menganggu pacing membaca.

Terutama di:
1. Bagian awal, apakah menaranya di hutan? Kalau dengan penceritaan sekarang masing-masing karakter terasa sangat terpisah sehingga seperti bukan bagian dari cerita yang sama.
Lalu maksudnya apa si bard 'in search of a certain light'...nyari lampu? /jk
Lebih dibuat konkret aja.
2. Bagian tengah, maksud kamu kan keempat karakternya bertemu di tengah (CMIIW), tapi karena nggak ada patokan awal jadinya malah kayak saling menjauh ke empat penjuru bumi.
3. Bagian terakhir, rentetan kejadiannya bisa lebih rapi lagi penuturannya. Selain itu ada kesan bahwa Flame Moth itu mempengaruhi semua orang ('The witch was the first to fall...') tapi ada juga kesan bahwa kutukannya itu singular dan berpindah-pindah ('...it sought a new host.').

Juga karena ada bagian yang kurang lebih memberi pesan 'dongeng yang kamu dengar itu bukan kisah sebenarnya' mungkin bisa lebih menarik lagi jika versi dongeng pertama dan kedua lebih mirip lagi, untuk menunjukkan bahwa kejadian yang sama jika diceritakan dengan cara yang berbeda bisa menghasilkan efek yang berbeda pula. Terutama di cerita pertama bardnya hilang aja setelah muncul pertama.


5. Macan di Ladang Jagung
Spoiler: ShowHide
SIAPA INI YANG NULIS.
Sakit kamu. Kebanyakan baca fanfic Zootopia.  Tolong segera cari layanan kesehatan mental ya, mungkin coba ke BMG. https://yankes.itb.ac.id/jadwal-layanan/

Selain itu err...penulisannya bagus. Penulisnya sangat menguasai gaya bahasa ini. Konsisten. Penyusunan ceritanya juga bagus (build up ke twist-nya).


6. The Mirror Crack'd
Spoiler: ShowHide
Salah formatting di tengah ya?
Cerita yang disampaikan cukup oke tapi sepertinya bagian tengahnya bisa diperhalus lagi atau ditambahkan sedikit, karena saat ini rasanya epiphany karakternya agak mendadak.
Dan ada bagian yang tidak konsisten, line sebelum "Canadian bacon and cheese" itu yang bener yang mana? Beda di bagian pas dia baca sendiri dan bagian pas dia latihan sama yang lain.


7. Laboratorium Sate Mas Xar
Spoiler: ShowHide
Gaya penceritaannya halus dan terasa natural, sesuai dengan karakternya. Cara penceritaan yang menarik dan cerita yang cukup oke, walau sayang twistnya agak klise, tapi dieksekusi dengan baik.

Yang menjadi poin yang bisa dibenahi lagi adalah saat pengungkapan twistnya, rasanya bagi saya agak janggal bahwa si penulisnya masih di tengah-tengah antara peduli atau tidak. Kalau dia memang tidak peduli mestinya bisa lebih 'dangkal' lagi sikapnya ke pembunuhan istrinya (misal 'Kalau video ini sampai 100,000 likes gw bakal ceritain kejadian gw jadi saksi pembunuhan istri gw') tapi kalau si penutur peduli rasanya aneh cuma segitu doang yang diceritakan.

Dan nama-namanya rasanya janggal karena tidak ada kesan bahwa ini di dunia/negara lain atau di masa depan selain nama-nama anehnya.


8. Malam Kehancuran - Edisi M
Spoiler: ShowHide
Cukup menyenangkan! Berhasil membangun suasana dunianya tanpa eksposisi terlalu banyak atau gamblang. Karakternya juga menarik. Entah kenapa terasa aroma-aroma BL tapi mungkin perasaan saya saja.
Yang agak janggal itu Lastron bingung manusia memberikan sebutan ke senjata mereka. Konsep pemberian kata khusus untuk benda-benda itu konsep yang rasanya sangat dasar di bahasa dan budaya apa pun.
Overall, terasa seperti LN supernatural (b)romance yang cukup baik, ditunggu kelanjutannya.
« Last Edit: March 24, 2019, 08:58:52 AM by Rheine »
Did you know you're all my very best friends?

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #4 on: March 23, 2019, 12:21:40 PM »
Sekali lagi bersama saya dalam review writchall ketika pusing jadi ngelantur aja. Yang dipasangi spoiler mengandung spoiler ceritanya ya.

1. Kiamat Mikroba
Konsep yang menarik, tapi mungkin karena fokus narasinya terlalu luas (i.e. gak satu karakter aja), atau karena ritmenya yang terlalu teratur, rasanya agak "kering"? Kayak baca textbook. Dan mungkin hanya karena aing gak fokus saat bacanya, tapi gak begitu nangkep kenapa/apa/bagaimananya.

2. Dragon Council
Spoiler: ShowHide
Terima kasih poster di atas atas komentarnya uwu. Aku senang karakter Valedir bisa terbaca.

Tadinya mau coba nulis sekuelnya (surat balasan dari naga lain/ reaksi manusia setelah para naga membuka diri) tapi belum bisa nangkep feel/plotnya. Mungkin memang lebih baik dia berdiri sendiri seperti ini saja ya.


3. Kehanuran
Ahahaha. Nice.
Spoiler: ShowHide

"Kisah hidup SMA" 100% bukan genreku, dan ini gak relateable karena aku tipe paranoid yang selalu double-check saat ngerjain soal :P, tapi penggambarannya ok.   


4. The Flame Moth
Eh ini siapaaa? Rasanya kayak kak Lisa/aing tapi lebih... lite? Aku suka gaya mitos/cerita rakyatnya, walau ritmenya masih agak canggung. Endingnya terasa kurang nyambung sih, kayak kebelet pengen tamatin tapi gak ada ide gimana namatinnya :(.     

5. Macan di Ladang Jagung
INI SIAPA YANG NULIS HAYO NGAKU. AFIF YA? AFIF!!

Spoiler: ShowHide

Rasanya sangat sastra koran. Vague. Menacing. Vaguely menacing. Hasilnya apa? Hasilnya saya ngebacanya pakai muka serius. Sampai menebak-nebak apakah ini metafora untuk keadaan negara atau apa.

Tapi kesimpulan yang kutarik setelah memikirkannya lagi adalah penulis hanya ingin menulis tentang seks aneh dan memasang tampang sastra koran untuk mengelabui kita semua.

AaaaaaAAA


6. The Mirror Crack'd from Side to Side
Aing sepertinya mabok saat pertama bacanya karena... gak begitu ngerti? Setelah baca lagi akhirnya ngerti, tapi feelingnya udah gak dapet :<.

Penyuaraanya yang pakai bahasa Inggris lumayan bagus uwu, tapi masih sedikiiiit kurang alami. Mungkin hanya butuh sentuhan editor.

Btw apakah paragraf2 yg di-italic-in itu salah formating?

7. Laboratorium Sate
Spoiler: ShowHide

Aha, cerita yang sering kita temui. Klise mungkin, tapi aku suka bungkusnya yang pakai review restoran dan suara penulisnya yang terdengar jelas santai. Gak banyak tulisan, baik fiksi atau bukan, yang berhasil memakai nada santai tapi tetap dengan mulus menyampaikan maksudnya. 


8. Malam Kehancuran
Seperti False Happiness di writchall kemarin, ini adalah sebagian novel yang dipaksa masuk ke kotak seukuran cerpen. Tapi di sini rasanya sayang banget karena sebenarnya kalau ditulisnya dengan niat membuat cerpen, ini bisa jadi cerita yang berdiri sendiri. 
« Last Edit: March 23, 2019, 12:27:42 PM by PseudoStygian »

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #5 on: March 27, 2019, 02:01:04 AM »
Entry #06 sudah di fix ya, ada tag Italic yang tidak tertutup dengan slash. Post ini sekaligus menjawab komentar. ^^

-V

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #6 on: March 27, 2019, 02:41:31 AM »
Vision's Corner #tres

Thank you for the submissions!

Entry #01
Spoiler: ShowHide
Sudah cukup baik, tapi menurut aku sih terdapat beberapa bagian yang membingungkan ya, jadinya jalan ceritanya terlihat kurang jelas.
Misalnya pada bagian opening, dan ending dari cerita. Contohnya asosiasi penyerang, jadi mikrob atau organisasi ya. Hehehe. Keep it up. ^^


Entry #02
Spoiler: ShowHide
Akhirnya ada entri dalam bentuk surat ya, untuk karakter Valedir, terlihat dengan sangat baik, bukan info dump, just right.


Entry #03
Spoiler: ShowHide
Relatable sekali ya. Secara plot cukup menyegarkan, mungkin pronoun yang digunakan kurang tepat untuk beberapa situasi dan karakternya, karena seorang pengajar seharusnya (mungkin) lebih formal dalam tutur katanya. Tapi sudah baik kok. Keep it up. ^^. Jangan lupa +Cnya ya.


Entry #04
Spoiler: ShowHide
Flow storytellingnya sudah baik, akan tetapi terdapat inkonsistensi antara cerita yang pertama dan kedua, dan sepertinya terlihat seperti ada yang kurang. Tapi tidak apa-apa kok, masih banyak ruang untuk melanjutkan cerita ini.


Entry #05
Spoiler: ShowHide
Yah, sudah bisa ditebak lah ya siapa yang menulis. Cerita bergaya jenaka dengan gaya bahasa yang informal. Tapi sudah sesuai sih dengan latar dan semangat stensilan dan imajinasi yang begitulah.


Entry #06
Spoiler: ShowHide
Pengennya sih lebih panjang lagi. //eh. Pacing sih paling yang err berasa kurang aja, karena mungkin perubahan latar cerita yang cukup sudden. jadi ya, terasa kurang fleshed out. Untuk ending, seperti meng-tease. Waduh.


Entry #07
Spoiler: ShowHide
P.S Nanti bakal diupdate ya formattingnya, mohon maaf nih author, hehe. | Review : Gaya tulisnya lebih agak modern ya, kayak a certain YouTuber. Tapi pesannya tetep tersampaikan sih, joke-jokenya juga bolehlah.


Entry #08
Spoiler: ShowHide
Mungkin ada typo ya pada judul, atau footnotenya, M dan W mungkin tertukar, Manasa dan Werewolf? Hahaha. Seharusnya cerita ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain itu tercium bahwa cerita ini akan menuju ke suatu hal. Ahem. Semoga ceritanya dilanjutkan ya, sayang kalau hanya standalone. Sepertinya bisa dimasukkan ke sebuah website tertentu.

Offline miapapun

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 197
  • The Selecao
    • .no nothing heart.
Re: Writing Challenge #3 2018-2019 : People's Choice.
« Reply #7 on: March 30, 2019, 04:15:37 PM »
Hai, semuanya! Terima kasih sudah mau ikutan Writing Challenge #3, ya. Saya akan coba komentar karya-karya yang sudah masuk, semoga berkenan!

#1: Kiamat Mikroba
Spoiler: ShowHide
Jelas, lugas, dan deskriptif sekali. Ibarat sebuah narasi, ini mungkin cocok dibacakan oleh pembaca berita atau narator TV. Konsep yang ditampilkan baik dan jelas. Entah seperti sebuah kejahatan yang bertujuan masif, tapi terasa tidak destruktif, malah cenderung "mulia"? Kesannya mungkin kiamat, tapi bisa jadi ini peperangan konsep baru yang menarik. Kalau dikembangkan menjadi serial mungkin akan sangat seru :3c


#2: After 17 Centuries with the Dragon Council, I Humbly Submit My Resignation
Spoiler: ShowHide
Segar dan unik untuk dibaca. Dari sebuah surat pengunduran diri, kita bisa mengeksplorasi sebuah konsep dunia yang terbangun dalam kisah tersebut serta intrik-intrik di dalamnya. Benar juga, kenapa dulu ga kepikiran demikian, ya? :))

Mungkin kalau dipikir-pikir, seorang petinggi negara yang usia penduduknya lama, ini terkesannya lucu, tapi di satu sisi juga menjadi seru. Mungkin konsep seperti ini bisa dipakai untuk sebuah cerita pendek yang bagus. Great job!


#3: Kehanuran
Spoiler: ShowHide
....seriusan, kupikir awalnya ini typo loh :)))
Ah, kesakitan manusia-manusia matematika ini sangat sesuatu. Terima kasih sudah menyuarakan isi hati persepelean yang tidak sepele ini, hiks.

Aku senang cerita ini dengan menyertakan perumpamaan atau peribahasa yang berkaitan dengan 'kesepelean berujung malapetaka' seperti "pisang" atau "susu-nila". Penceritaannya pun tertata dengan baik meski masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki lagi. Awalnya yang serius menjadi jenaka, mungkin cerita ini bisa memukau banyak orang. Meski memang, hanya orang-orang yang pernah mengalami integral atau anti-turunan yang mengalaminya. ga cuma anak matematika kok


#4: The Flame Moth
Spoiler: ShowHide
Tema fantasinya dapat, dan alur setengah awal ceritanya enak untuk diikuti. Mungkin bagian terakhirnya jadi kayak penuh banget, karena bagian awalnya mengalir tenang dan hening sementara ketika masuk ke bagian 'pertarungan'nya jadi riweuh gitu, haha. Mungkin karena kurang rapi jadinya kurang menikmati, tapi harusnya bisa diperbaiki dengan lebih baik. Semoga makin bagus, ya~


#5: Macan di Ladang Jagung
Spoiler: ShowHide
Emm... ga tahu harus komentar apa, hahaha. Tapi campuran antara lawak dan stensilan mungkin menjadi ciri khas cerita-cerita Indonesia yang absurd, ya hahaha. Awalnya sih konsepnya dari awal memang sudah terbentuk akan berakhir aneh, tapi tidak menyangka akan mengarah ke 'sana'. Tapi ending-nya memang segitu aja, ya? Jadinya sih kayak 'ya udah gitu' aja. Meski memang akhir seperti itu paling cocok buat cerita semacam ini, haha. Terima kasih sudah membuat saya bingung :)) //nggak


#6: The Mirror Crack'd from Side to Side
Spoiler: ShowHide
Hmm, sepertinya kalau dibaca lebih dari sekali, seharusnya bisa nangkap apa yang sebenarnya terjadi dengan lebih sempurna lagi. Yang aku tangkap ceritanya ini seperti penyesalan seseorang di masa lalu dan bagaimana dia "dibandingkan" dengan orang lain. Mungkin kalau penataan ceritanya sedikit lebih sederhana bisa lebih membantu pembaca mengerti apa yang ingin disampaikan. Konsepnya sudah dapat, tinggal eksekusinya dibersihkan lagi. Semangat~


#7: Review Makanan-Laboratorium Sate Mas Xar
Spoiler: ShowHide
...waw oke. Awalnya aku menduga akan ada plot twist kayak begitu, tapi aku anulir karena kayak "ga mungkin", eh ternyata beneran hahaha.
Agak kaget aja dengan penguakan kayak "mantan pacar" dan sebagainya jadi muncul tiba-tiba di tengah penguakan yang lainnya. Karena mikir anak-anak Genshiken pasti gampang kepikiran dengan model plot twist seperti ini, jadinya udah gitu aja. Cuma model 'blog' seperti ini memang membuat penuturan ceritanya jadi segar dan enak dibaca. Good job!


#8: Malam Kehancuran - Edisi M
Spoiler: ShowHide
...loh ini sebuah novel yang ditaruh dalam Wrichal? Nggak berarti jelek sih, tapi okelah :)))
Kalo buat aku sendiri, ada semacam inkonsistensi suasana penulisan yang dibawah, apakah mau formal atau informal. Kadang kaget yang awalnya pakai kata 'basis' terus ujug-ujug ada bahasa fluffy (padahal kita punya istilah "gempal". Konsep LN-nya kerasa banget sih, tapi mungkin untuk sebuah Writing Challenge, tulisan ini bisa dibuat lebih padat dan menjelaskan alur ceritanya dengan baik. Beberapa bagian juga ada yang inkonsisten dalam penulisan (Epsilon ini huruf awalnya besar atau kecil?, dsbnya).

Tapi terima kasih sudah mau menyertakan ceritanya, mana tahu bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih menarik lagi~


----

Sekian komentar dari saya, semoga berkenan ya :D
In the the unchangeable landscape, there are unchangeable creatures.
It was just like a paradise.
It was like Eden, where only the sky changes.

Kalafina - Seventh Heaven