Author Topic: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!  (Read 210 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« on: January 04, 2019, 01:03:32 AM »
Hai semuanya, Selamat Tahun Baru 2019!
Selamat datang kembali dengan saya.
Karena berbagai hal, maka writing challenge baru bisa dipost saat tahun sudah berganti.

Gambar ini dapat mewakilkan sebagian dari judul challenge kali ini :

Tema kali ini adalah : NeToRaRe-Bizzare-Mencari Kesenangan
Jumlah entry kali ini adalah 24
Selamat telah memecahkan rekor sebelumnya!
Seperti biasa, nama penulis tidak dicantumkan! Selamat menebak ^^

Akan terdapat 4 post yang berisi semua entry yang telah disubmit.
Post ini merupakan bagian pertama. dari 4

A Question Word count : 385
Spoiler: ShowHide
A Question
How the hell we keep doing something over and over again? Yeah, I keep asking myself about that. Well, all human has a “boring point”. But, there is activities that will never bore us. Yeah, pornography. Like, you know, we watched some sexual entertainment that mostly practiced by different people but same “moves”. Some has a stories (like an erotic literature) and some of them are just “bareback” act. In the end, we all enjoyed a little spice of pornography in all aspects. Which bring us back to the first question, Why are we attracted to pornography? For example, We saw a naked body of our sexual counterpart before, yet when we saw it again in the other occassion, we get aroused. Is it because the release of hormones? (Yes) Does that mean our desire was controlled by some chemical compunds in our brain? (Yes) So our emotion can be easily modified if someone can make a sythentic hormone and injects it to our brain? (Yes) Is it still count as living? When your life is controlled by some chemical compunds in your brain? If it’s still count as living, does that mean robots are living things too? They have a “brain” that control their activities. The differences is human brain was controlled by chemical ingredients in our brain and robot brain was controlled by machine language. What if God made us and make us to obey him like what we did to robot?  God may give us free will is just like what we give to robots for developing A.I (Artificial Intelligence). But, today some human questioning the existence of God, will it be the same as A.I in the future? There is a war because a religious difference, will it be the same when the robots controlled by a human to fight against another robot that was controlled by another human?
Well, despite this I still live like I used to be, for me the chemical ingredient is the answer why human have emotion. It was called “God’s Mechanism”. But it still grinds my gears that how easily human emotion can be changed easily (well not as easy as it sounds, the chemical still needs to be “activated”). Well this is it, my first story writing challenge. Thank you for reading my story.

Antara Masa Lalu dan Sekarang Word count : 469
Spoiler: ShowHide
Angin berhembus sangat deras hari ini. Seperti yang dikatakan peralamal cuaca kemarin, badai hari ini akan sedikit kencang. Namun entah mengapa, SMA Rito tetap melaksanakan UAS hari ini.
“Mama, aku pergi dulu.” Rito berpamitan pada Mamanya.
“Umm hati-hati ya.”
Seharusnya, hari ini Rito menjemput pacarnya, Lala. Namun, Lala hari ini sakit sehingga dia tidak bisa mengikuti ujian. Ia berjalan ke sekolah seorang diri. Kemudian di depan sebuah taman, hujan semakin deras sehingga ia harus berteduh.
“Ahh kenapa hujannya deras sekali. Kalau begini terus tidak akan ada kereta ataupun bis yang bisa beroperasi.” Gumamnya kesal.
“Rito ?”
Suara seorang gadis terdengar ketika Rito masuk ke sebuah wahana yang bisa digunakan untuk berteduh.
“Ehh... Yui ?”
Yui, teman sekolah Rito yang pernah dia taksir dulu. Sebenarnya Rito hampir menembak Yui bulan lalu sebelum Lala menembaknya. Namun karena Ia tidak bisa menolak Lala, mereka akhirnya pacaran dan Rito tidak bisa bertemu Yui lagi sejak saat itu. Selain itu, kabar burung juga mengatakan Yui sudah pacaran dengan Yukki, teman sekelas Rito.
“Kamu juga berteduh disini ya. Aku ga nyangka kamu juga tinggal didekat sini.”
“Ehh iya. Tadinya ku pikir hanya aku sendiri yang rumahnya disekitar sini.”
“Ehh ga ko. Aku sama Lala juga tinggal deket sini ko.”
Mereka terdiam sejenak. Rito mulai gelisah karena tidak memiliki bahan pembicaraan yang menarik. Sebenarnya, dia juga tidak menyangka akan bertemu dengan Yui secara tiba-tiba seperti ini. Lalu...
“Ahh... Jika saja ku bisa mengatakan suka padamu...” gumam Rito.
Yui tiba-tiba kaget mendengar Rito mengatakan itu. Wajah mereka berdua tiba-tiba memerah. Kemudian...
“Btw Yui, kamu udah jadian sama Yukki ya?” Rito bertanya secara tiba-tiba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
 “Umm... Kamu juga udah tau ya.”
“Umm, banyak yang bilang kalau kamu udah jadian sama dia. Tapi banyak juga yang mengatakan kalian tidak akrab sama sekali.”
Sejenak Yui terdiam mendengar Rito mengatakan hal itu. Sebenarnya sejak jadian mereka sangat jarang untuk berbicara  langsung. Jangankan mengajak kencan, Yukki sangat jarang meluangkan waktunya untuk Yui. Memang benar Yui yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu, jadi Yui juga memahami kalau sebenarnya Yukki tidak terlalu tertarik dalam hal ini.
“Ehh Yui kamu kenapa ?” Tanya Rito kaget.
   Mata Yui tiba-tiba berlinang air mata sambil terus terdiam. Suara hujan yang semakin deras juga membuat hatinya remuk.
   ”Yui... Yui...” Rito berteriak padanya sambil memegang bahunya.
   Tidak tahu apa yang dipikirkan Yui, Rito tercengang dengan apa yang dilakukannya. Tiba-tiba Yui memegang pipinya kemudian menciumnya.
   “Yui... ada apa denganmu?”
   “Rito, putusin Lala trus jadian sama aku ya...”
   “Hah..? Kamu ngomong apaan si ?”
   “Kamu masih suka sama aku kan?
   Rito terdiam lalu mengangguk. Kemudian Yui kembali memegang pipi Rito. Semakin lama semakin dekat. Sejenak Rito menyadari kalau suhu tubuh Yui sangat panas. Namun kemudian kesadaran mereka hilang dan mereka berciuman lagi.
   Di rumah, Lala memeluk bantal dengan erat setelah mengalami mimpi buruk.
“Rito, ada apa dengannya ya...”

Netto - Rare Word count : 1254
Spoiler: ShowHide
Netto Rare

Timbuktu – Megacorp’s 27th Branch Office
7th of March, 2118

“Introducing Megacorp’s limited-edition Netto-rare!”

In a bright sunny Monday, the floating holo-screen connected to the speaker system is doing their usual routine of advertising, ignored by most of the masses as a mere daily ambient sound of the city

“any lucky customers that got their hands on the Netto-Rare edition of any of our products will be rewarded with a handsome prize!” 

The screen displayed a lavish luxurious mansion on some far away beauty of a tropical island, an extreme rarity in these times, it’s impressive how the Megacorp could acquire such island

“So, what are you waiting for? Get your Megacorp’s product today!”

The advertisement then ended on Megacorp’s slogan of ‘creating a better future, for you!’, the only reason why I was listening to it was because in this breaktime that was provided to me, I don’t really have anything to do, I don’t know how to do anything but work

I worked at Megacorp as a software engineer, the massive network that Megacorp owned require constant tweaking and debugging that consumed most of my time, which is why when I was given a free time, I don’t really know what to do with it

“Hey! There you are”

A voice called out to me, when I looked around, there I saw Vishjal, my fellow colleague at Megacorp, a software engineer too

“hey, Vishjal”
“hey, have you seen the new Megacorp’s product??”
Vishjal proceeded to sit beside me

“of course, the ad had just ended”
“would you look at that! They promised you a mansion, on a tropical island!”
“yeah, well, if it’s Megacorp, anything is possible”
“dude, that’s so cool, I’m going to seek this so called Netto-Rare products of theirs”

I looked at Vishjal, at first, I thought he was joking, but when I look at his eyes, he looked very enthusiastic about it

Which is….

To say the least, not good
“It’s just some of their products that have a different Netto value than others, please, think about it”
Cold sweat started to pour out of my skin, to think that I said something like that on public
“yeah and I’m going to get a mansion on a tropical island just for that slight difference of value! Isn’t that awesome?!”

Oh, poor Vishjal I thought, I really wanted to say no, to deny him, to tell him that it’s not how Megacorp worked, but I can’t

“I… see, good luck, then…”
“thankyou friend! Well, our breaktime is almost over, come, lets go to work again”
“yeah… yeah I’m coming”

I can’t. Out of the fear of getting purged by Megacorp’s ‘special service’ branch, heck, after saying that previously, I don’t even know whether I would go home safely without a deliberate accident being thrown at me

I returned to my office with restless thought plaguing me for the rest of the day, fortunately, I still get to see the sun the next day

14th of April, 2118

“Megacorp’s 11th Research wing is proud to announce that our Nanite Repair system is the best in the world!”

I sat again on that same spot, finding solace from my work, by doing nothing

“ah… so tired”

When I graduated from IIT top of my class, I never thought that my future would be this mundane, I used to have a friend, his ambition was to create a business that could rival Megacorp
On the first semester, when everyone was being ambitious and pursuing a 4.0 GPA’s, he stated that we’re all so short-sighted, when asked about it, he said “the mantle of Cumlaude interest me none”

When most of the top graduates were absorbed into Megacorp, he went on his way to build his own business, earning initial success, and when his business is big enough…

…it costed him his life

It was at the news of his death that I realized we don’t have any choice for our future

“Heyy… Arman”

A voice brought me back to my senses, a voice which I recognized, it was Vishjal

“oh, hey Vishjal, haven’t seen you much lately”
“yeah, hey guess what?”

Vishjal proceeded to take something out of his bag, it was a bottle which bore Megacorp’s logo. Aquarius, Megacorp’s mineral water brand

“Aquarius? What abo-“
“hehe, you get it?”
“no way… is that, the Netto Rare???”
“you got it right!”
“can I take a look at it?”
“here you go friend”

I stared at the bottle in disbelieve, the thing actually existed, I turned the bottle around to see the Netto of the bottle says 270ml instead of the usual 250ml, there’s almost no difference between the two

“so… you get the mansion?”
“hehe, not yet though, I have to send this to Megacorp’s spire office, the closest one being on Delhi”
“ohh, I see”
“which is why I have come here, Arman… I… need your help”
“oh, you want me to help you with postal code?”
“no… no… the thing is…”

Vishjal paused for a while before continuing

“… I don’t have any money left…”

My eyes widened at that statement, I stared at him
“you what?!”
“I spent the last of my money hunting for this, so, yeah…”
I cannot believe what I just heard, poor Vishjal
“don’t they exempt any fares for this?”
“well I asked but as a matter of fact they don’t”
“no way…”

He now bowed his head to me

“Please! Lend me your money! I have not fully paid my rent, I have not eaten since yesterday, I don’t want Megacorp’s special service branch to visit me, so please! Lend me some money!”

Vishjal begged to me, his body is shaking, when I looked at his face, I noticed now that he looked very pale, he has a black markings under his eyes

“o.. okay, I’ll lend you money, but… only for sending the Netto-Rare, okay?”
“yes! Thankyou Arman, Thank you soo much!”

I opened my Integrated Holo-circuit, opened up my bank account app and asked for his bank account number, he in turn does the same, and so I transferred him some considerable amount of money

“thank you Arman, I will not forget this, when I have won the main prize, I’ll let you enjoy it too!”
“wait, what do you mean by…”

Before I get the chance to ask, Vishjal had already left, he ran in the direction of the postal service office

He said ‘main prize’ does that means that not everyone will earn it? That there’s a secondary prize?

My alarm suddenly goes off, it’s time to work, I shoved aside that thought from my head as I walked to my office, the rest of the day was business as usual

When I got back to my flat, I turned on my Holographic circuit to browse the hypernet, as that was my usual routine, suddenly, there’s a breaking news tab popped up below the screen, it was a news about an accident that just happened near my office some hours ago

I gulped, nervously opening the tab, and when I do opened it, my fear was confirmed

A man was killed when a construction crane cable failed, and the container it carried fell into his head

And the name of the man, was Vishjal Shivaji, The poor bastard. While the news was somehow shocking to me, I think I started to get used to it

Afterall, We don’t really have any choices for our future

Tainted Greys Word count : 2025
Spoiler: ShowHide

Sehubungan dengan file asli yang menyertakan ilustrasi, maka link file :
Tainted Greys
Twilight peeked through the thick clouds. Its greyish rays illuminating a monochromatic city. One that I have called home for so long. One that never seem to change. The city’s buildings never tumble nor rise any higher. Its people following a routine that has become very predictable that it is monotonous. Unfortunately, I was no better.

I stood on the rim of my apartment building’s roof, gazing upon the city in twilight. A routine I had been doing every single day since some time in the past that I could not remember. I had tried remembering. Unfortunately, nothing has ever come of it. The city’s monotonous state providing no anchor to remember. At the thought, I remembered something that always seem to change.

I turned my back upon the city in the west. As I did, I met the gaze of a monster almost twice my height. It would have been startling had it not been happening every single day.

The monster looked at me with its blank empty gaze from the other side of the roof. Its jet-black form resembling a gorilla. That is, if gorillas had clawed limbs about as large as their torso, a spiky head with three iris-less eyes, and a multitude of smoke-like tentacles coming out of its back.

Unfortunately, it did not provide me something to anchor time either. Its form changes every time I turn my gaze towards it, its form never changes whilst my eyes are fixed upon it. Some time ago, I would turn my eyes to the monster frequently, for fear of a sudden aggression, a sudden death. It has been so long since I've felt that way, however. As days went by, I noticed that it never moved. The monster simply stood at the other side of the roof with its eyes boring a hole on where I would stand. Nothing more, nothing less.

I didn't understand why I had been so scared of it.

The tentacles were new, however. Twitching and moving in bizarre, unnatural, physics-defying ways around the monster and the building. And still, the monster didn't move. It felt as if the monster tried to take another shape but I had interrupted it.

I tried to find something else to help me anchor time then. A park on my left caught my attention. A park I had crossed many times. A park which houses my NTR (Necessary Transportation Resources) Bus stop.

Dozens of kinds of trees dotted the park. Their grey leaves swaying gently in a sea of dozens of shades of greys. Paths from the park’s sides snaked around the trees, converging near a pond almost in the middle of the park. The pond’s plain white water glistened in the encroaching twilight. An NTR bus pulled to stop near the far side of the park then, pouring grey figures to the already crowded park.

Looking at the NTR bus prompted me to think of all the time I had spent inside one. Having used one virtually every day I must have spent a decently noticeable fragment of my life simply commuting in an NTR bus. And yet, I could not distinguish one commute from the other. The memories of them collapsed, leaving only a memory of sitting near a window at the back.

All of the memories collapsed, except one.

"Sorry, could I sit here?" An unassuming man of average height and build asked. His dull grey eyes and clothes practically indistinguishable from everyone else.

"Sure," I answered as I returned my gaze to the blurred view of the window as always.

And, as always, that's all the social interaction that we'd have made. I'd simply stare at the city's blurred view through the window silently while the other person does their own thing to pass the time. Except, he hadn't.

"The city's quite beautiful. Right?" He said in a bizarre tone not long after. It was as if he was lying and believed it at the same time.

I turned my head to see him looking at the window with a half-open mouth and soft shades of blue tainting his irises. I was so taken aback at the sight that I could not answer, I simply gazed at him for a long moment. He must've felt my gaze because he turned his own gaze towards me not long after. He gave me a sad smile as his eyes met mine. His irises returned to the dull grey when he did.

"Yeah," I answered at last, refocusing my gaze to the blurred city behind the window.

The distant yet familiar sound of the NTR bus leaving returned my mind from the day's memory to the present. I continued to watch the park until two more NTR buses had left. The park had become even more crowded then. Figures of grey blocking the greyness of the grasses and trees in erratic yet familiar movements. That, or perhaps I was simply imagining things. It's quite hard to differentiate the greyness of the people and the environment from such a distance.

Finally feeling enough, I turned to the left and took one last look at the city and the receding sunset.

A sudden sound came from behind me just then. I turned around to see what had made it.

Jet black color greeted my vision as I turned. The sea of black felt as if it was moving erratically at great speed, though I could not understand how I could tell. Suddenly I felt very heavy and very light at the same time. My feet no longer feeling the roof's ridges under them. I was falling. I flailed my arms at the thought. Perhaps it looked like the animation of a character who's about to fall in an old video game. But in my mind, I pictured myself rowing the air upwards in an attempt to quicken my fall, if such a thing was possible.

Perhaps that's what I had been doing, perhaps I was attempting to gather air in hopes of slowing down my fall. Either way, I could not find much logic behind the action. Nor did I find any faith that it would work. I was falling from a tall apartment building, how would rowing the air even help?
I closed my eyes then. The last thing I saw was a grey sky filled jet-black tentacles moving erratically at great speed, threatening to cover it in black. At that moment, I felt nothing but the force of gravity pulling me to my death.


A warm sensation was felt by my right hand then.

I opened my eyes to see another hand grasping my own. I followed the hand's arm and saw a man's face at the end of it. It was the man who had sat next to me that day, the man whose irises were tainted by blue for a moment. My body was somewhat pulled by him, swinging until I hit the building.
His expression was hard to read. His eyes were wide open, as was his mouth. His brows curved in a weird way. I simply looked at him, too dumbstruck to do anything.

"We live in the same building, apparently," he tried to say with a smile, a sad one, but a smile nonetheless. Behind him, a sea of jet-black tentacles flailed around erratically.

He grabbed my right wrist with his other hand and began to pull me back up. I kept my gaze at the tentacles, afraid that they would push him towards his death. I wanted to shout at him to let me go and run for his own life but I couldn't. My throat refused to make any sound, like I had forgotten how to use the muscles within them. Despite the multitude of erratic tentacles behind him, he kept pulling me. My body scraping the outdoor paint of the building.

As my face reached the rim of the roof, I got a view of the monster that had always accompanied me. It was still standing there, unmoving, as always. Its form had even more spikes on its surface. Its tentacles, long and erratic, blocking the city behind it in jet-black color. Its iris-less eyes still bored at where I would stand, where I had stood several moments ago, where the man was standing then. It was then that my fear for the monster came back, not because I was afraid it would kill me, but because I was afraid it would harm him. Once again, I wanted to shout, once again, my throat refused to work.

With a loud grunt from the man, he pulled my whole body off the rim of the roof, followed by another one from both of us as my body landed on top of him. I kept my gaze at the monster, ready to shove him away should it make any sudden moves.

A finger poked at my triceps.

"You're heavy," the man tried to say.

"Sh-Sorry," I replied almost inaudibly, my throat still refusing to work correctly. I got off of him, gaze still fixed at the monster. Its tentacles seemed to be retreating, though they still moved erratically at great speed.

"What's wrong?" he said with a curious tone from behind me. "Is... something wrong?" he rephrased.

He walked to my side while staring at where I was looking, right at the place the monster was standing silently. He then looked around and moved his head from left to right. He looked confused, couldn’t he see the monster?

"Hey, uh... Want to drink soda in my apartment?" he suddenly offered, seemingly unbothered by the monster.

"You... are asking a stranger to drink soda with you," I asked with a tone that felt like a statement without looking away from the monster.

"Yeah, well, um..." he fell silent for a long while. "I'm Salcharyn, by the way," he said awkwardly as he extended his right hand in greeting.

I didn't want to break my gaze from the monster but decided it was alright as its tentacles seemed to have returned to its body. I turned to him and took his hand in mine. "Bramun," I replied.

For a while, we just stood there with our right hand holding the other's. Neither of us shook our hand for some reason, even until we decided we'd just take our hand back.

Salcharyn walked towards the door then kneeling to grab two plastic bags that I hadn't noticed were there. "So, do you want to drink soda in my apartment?" he offered again with a faint smile as he stood back up while facing me. "I can kind of guarantee it's more fun than standing on this rooftop," he tried to joke while continuing to smile faintly. I didn't respond and simply looked at him, the monster visible on the upper edge of my vision.

"Perhaps," I said after some silence.

He walked towards the door and I followed him, ignoring the monster. He stopped and turned around just as he reached the door.

"The world's not monochromatic, y'know," he said with a sad smile and irises tainted with blue as he looked at the sunset. I couldn't be sure if he was talking to me or if it was some quote he recited for himself.

I followed his gaze. The sun had almost disappeared completely from the horizon. The thick clouds had become greyer as darkness set in. The sky a little bit darker than how it was a few minutes ago. Some of the buildings in the distance sent out long shadows that made anything behind them a darker shade of grey. Others glinted in lighter shades of grey, or even whites. If anything, it was quite beautiful. Perhaps that was the reason that I started standing on the rooftop.

"C'mon," he said as he opened the door and went in.

I walked backward toward the door, still wanting to see the sky some more, still fearing that the monster would attack unexpectedly. Just as I closed the door, the sky was tainted with soft shades of amber. Perhaps, the world is not monochromatic.

Kisah Cinta Ajaib Handi Word count : 2217
Spoiler: ShowHide
Kisah Cinta Ajaib Handi

‘Aku sangat cinta dia, segalanya cocok untukku, parasnya, hobinya, pembelajarannya, semuanya deh’ ujar seorang lelaki yang bernama Handi sambal menatap seorang wanita yang duduk di tengah kelas. ‘Mengapa bisa ada dia di dunia ini, dunia ini tidaklah berhak menampung seorang malaikat seperti dia’ lanjutnya di dalam pikirannya sambal bengong menatap wanita ini. Tiba-tiba terlempar sebuah spidol ke arah Handi. ‘Handi, bengongin apa? Cepat jawab soal nomor 5 ke depan, sekarang!’ teriak guru matematika di depan kelas. Handi dengan malu maju ke depan kelas dan mulai menyelesaikan soal tersebut. ‘Memang dasar, sudah tidak mengerti, masih aja bengong’ komentar dari guru matematika. Handi kemudian kembali ke tempatnya dan kelas berlanjut seperti biasanya.

Pada saat istirahat, teman Handi, Beo, datang kepadanya ‘Kenapa tadi kamu bengong? Bengongin dia lagi ya?’ sambut Beo. Kemudian Handi mengangguk ‘Iya, aku masih mabuk dengan keberadaannya di kelas ini’ balasnya. Beo kemudian ketawa sambal melihat Handi dengan ekspresi tidak percaya dengan Handi. ‘Masih banyak loh di model kayak dia di kelas lain, lagi pula dia juga enggak terlalu dekat dengan kamu kan?’ Beo menyahut. Kemudian Handi terlihat kesal dengan respons si Beo dan dia dengan tatapan kesal pergi keluar kelas tanpa memandang si Beo.

Handi kemudian pergi ke tempat dia biasanya nongkrong, depan lab fisika. Dia duduk di lantai dan membuka handphonenya untuk memainkan gim yang biasanya dia mainkan. Datang seorang perempuan menghampiri Handi ‘Main gim lagi ndi? Nggak belajar buat ulangan abis istirahat’ saut Neni khawatir dengan tingkah si Handi. Handi kemudian keringat dingin dan memasang ekspresi tegang. ‘Eh, ulangan sehabis istirahat ini? Ulangan apa ya?’ Andi bertanya balik kepada Neni. ‘Aduh, lupa lagi nih, pasti lagi kesel sampe bisa lupa begitu ya?’ tebak si Neni. ‘Iya, yaudah gw balik sekarang juga’ Handi mematikan handphonenya dan langsung berangkat ke kelas dengan Neni.

Sesampai di kelas, Neni datang ke meja si Handi dan langsung membuka buku di hadapannya. Handi yang sudah terbiasa dengan situasi tersebut lalu langsung mendengarkan Neni yang sedang mereview. Kemudian beberapa orang berdatangan untuk mendengar reviewnya si Neni. Neni terus melanjutkan reviewnya dan kerumunan orang semakin banyak. Handi yang mulai merasa gelisah dengan kerumunan orang-orang tersebut kemudian teriak ‘Woi, jangan bikin sesak dong, kasih personal space gitu’. Beberapa orang kemudian meninggalkan Neni dan Handi dan berbisik-bisik tentang hal tersebut. Handi kemudian kembali ke fokus utamanya, review, untuk nilai ulangan yang baik.

Bel tanda masuk berbunyi dan guru masuk ke dalam kelas membawa tumpukan soal ulangan. Murid-murid kemudian kembali ke tempatnya dan mempersiapkan perlengkapan ulangan mereka. Kertas soal dibagikan dari depan kebelakang secara beruntut. ‘Wah, pas banget nih yang dibahas tadi langsung keluar di soal ulangan’ pikir Handi dalam hati. Suasana sunyi di kelas pun merakar, bunyi AC yang biasanya tidak terdengar sangat terdengar jelas memenuhi satu ruangan kelas. Beberapa murid ada yang tertidur, beberapa ada yang serius mengerjakan dan Handi melanjutkan bengong dengan perempuan yang dia idamkan. ‘Wah, memang tidak bosan menatap dia’ lanjutnya dengan bengong. Guru kemudian menyebutkan tinggal 5 menit lagi waktunya, dan menyuruh untuk mengumpulkan bagi yang sudah mengumpulkan. Perempuan yang dibengongkan Handi kemudian berdiri dan mengumpulkan soal ujian berserta lembar jawaban ke guru di depan. Melihat hal itu, Handi langsung tersadar dan dia lanjut mengerjakan dengan tergesa-gesa. ‘Aduh, terjadi lagi, masih banyak lagi yang belum dikerjain…. Bagaimana ini!!?’. Guru pun berteriak waktu habis dan langsung keluar ruangan sambal membawa banyak kertas. Murid-murid yang belum mengumpulkan termasuk Handi bergegas mengejar sang guru yang langsung berangkat ke kelas lain. ‘Tunggu pak, saya mau mengumpulan ulangannya’ ujar Handi mengejar guru tersebut. Guru tersebut kemudian mengambil kertas ulangan dan lembar jawaban Handi dan menyatukan dengan tumpukan kertas tersebut. Handi kemudian kembali ke kelas dengan ekspresi yang sangat sedih. ‘Aduh, habis deh satu nilai lagi’ ucap Handi tersemungut. Neni kemudian menyampiri si Handi ‘Kok sedih, di? Bukannya tadi kamu sudah lancar ya pas aku review?’. ‘Iya Ni, terima kasih banyak buat reviewnya tadi, cuman karena beberapa hal jadi nggak fokus gitu…’ balas Handi menjawab pertanyaan Neni. Beo kemudian menghampiri meja Handi, katanya kepada Handi yang sedang duduk tersedih ‘Bengong lagi nih pasti? Wah sepertinya perlu cek ke dokter di. Dokter cinta.’. ‘Iya, terserah kamu aja, aku udah pusing mikirinnya’ kata Handi. ‘Tapi gpp sih, keberadaan dia di kelas ini sudah menawarkan hati yang sedih ini.’. ‘Eh? Buset, sampe segitunya di, kamu serius gpp?’ jawab Beo dengan ekspresi khawatir. Handi menatap Beo dengan ekspresi datar dan menjawab ‘Fix o, gw bakal nembak dia hari ini.’. ‘Akhirnya buat pergerakan juga, yowes, sukses yaaaa’ jawab si Beo.

Tidak sengaja mendengar percakapan si Beo dan Handi, Neni datang dengan perasaan kesal ke Handi. ‘Di’ dengan ekspresi kesal, muka merah ‘Nanti habis pulang aku mau bicara dengan kamu 4 mata saja’. Handi terkejut dengan perkataan si Neni. ‘Kok tiba-tiba ni? Ada apa?’. ‘Pokoknya datang’ ucapan terakhir dan Neni langsung berangkat keluar kelas memakai jas lab ke lab Kimia. Handi kemudian  mempersiapkan diri dengan jas lab dan berangkat ke lab Kimia. Sewaktu lab kimia, Handi tidak berani untuk bengong karena takut merusak perlengkapan lab.

Lab Kimia pun selesai dan Handi langsung bergegas kembali ke kelas dan membereskan perlengkapannya. Neni kemudian datang ke Handi, ‘ayo!’. Handi dengan perasaan bingung dan sedih karena tidak dapat tembak perempuan itu langsung mengikuti Neni di tempat yang sepi di depan Lab Fisika. ‘Di’ kata Neni dengan suara yang terlihat kesal namun menahan rasa malu. ‘Aku cinta sama kamu di’ ucap Neni dengan sangat malu dan mukanya mulai memerah. Handi dengan kebingungan mendengar ucapan Neni langsung merespon ‘Hah’ dan Handi langsung terdiam. ‘Udah lama kupendam perasaan ini, dan saat aku mendengar bahwa kamu mau menembak dia, aku tidak kuat lagi dan ingin kamu hanya mencintai aku saja’ lanjut Neni. Handi kemudian terlihat sedih dengan ucapan Neni. ‘Neni, sebenarnya aku juga mencitai kamu, tapi aku lebih mencintai dia yang sudah lama berada di dalam pikiranku.’ Neni pun terkejut dengan balasan Handi. Dia kemudian terdiam dan mulai mencucurkan air mata. ‘Kamu jahat di, kamu tahu itu?’ teriak si Neni dengan kesal dan langsung pergi. Handi sangat bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dia mengambil perlengkapannya dan kembali pulang. Di rumah dia memikirkan Neni dan berencana untuk minta maaf.

Keesokan harinya, sebelum kelas masuk, Handi datang ke Neni. Neni menyambut dengan ekspresi kesal. Beo pun menunjukan ekspresi kesal. Handi bertanya ke Beo ‘kamu ngapain?’. Beo menajawab ‘lucu aja ngeliat kalian, ada masalah apa sih?’. Neni kemudian sangat kesal dia langsung berdiri dan langsung menuju ke toilet. Handi pun menjelaskan kepada Beo tentang apa saja yang baru terjadi. Beo pun merespon ‘wah, mulai ribet nih urusannya.’. Bel tanda kelas dimulai pun berbunyi. Semuanya kembali ke kursinya masing-masing, begitu juga dengan Neni yang masih dalam muka kesal masuk dan kembali ke tempat duduknya. Setelah itu kegiatan sekolah berjalan tanpa ada kontak antara Handi dan Neni.
Handi mulai bingung, bagaimana ini bisa terjadi. Handi sudah berteman sangat lama dengan Neni sampai-sampai Handi tidak menyadari jarak dengan Neni sudah sangat begitu dekat. Sekolah usai dan Handi masih ingin bertekad untuk datang ke perempuan itu dan menembaknya. Saat Handi mulai melakukan pergerakannya, Beo datang ke perempuan itu. Kemudian mereka berdua pergi keluar kelas. Handi terkejut dengan hal itu. Ada apa urusan Beo dengan perempuan itu. Handi pun mengikuti mereka dengan sangat hati-hati sehingga tidak diketahui mereka berdua. Sesaat sudah beberapa lama dan posisi sudah agak jauh dari sekolah, Handi melihat Beo dan perempuan itu sedang mengobrol berdua di sebuah kursi. Tempat itu sedang sepi sehingga mereka tidak malu-malu berbicara dengan sangat dekat. Handi sangat bingung dan patah hati. Mengapa Beo bisa begitu dekat dengan perempuan itu. Rasa kecewa dan kepahitan semakin besar, Handi berbalik arah dan pulang ke rumahnya. Dia tambah sedih dengan apa saja yang baru terjadi. Sudah membuat hati Neni, teman baiknya tersakiti, sekarang Handi tersakiti oleh Beo. Sungguh gusar perasaan Handi dengan hal yang saja terjadi. Handi pun tertidur setelah sekian lama merefleksikan apa saja yang sudah terjadi.

Pagi kembali mendatangi Handi. Handi dengan masih sedih dengan apa yang terjadi kemarin. Handi pun langsung bergegas mempersiapkan perlengkapan sekolahnya. Dia datang ke sekolah lebih pagi daripada sebelumnya, sehingga masih terlihat sepi kelas saat dia masuk. Namun dia melihat hanya ada satu orang yang berada di kelas itu, perempuan yang selama ini dibengongin oleh Handi. Masih merasa sakit hati oleh apa yang terjadi kemarin, dia langsung duduk di kursinya dan membaca buku pelajaran. Tiba-tiba perempuan itu datang ke Handi ‘Namamu Handi….bukan? Aku… Mimi…. Salam kenal’. Handi sangat sangat terkejut ada suara yang berbicara di kelas yang begitu sepi. Mimi melanjutkan ‘kamu tahu… Beo sungguh perhatian dengan aku… Diam-diam… dia menghindari mu… melihat aku dengannya…  sehingga kamu…. Tidak tahu…. Bahwa aku… berpasangan dengannya…’ Handi pun masih memasang muka ketakutan dan bingung terdiam. Mimi kemudian mengambil bangku yang ada di dekat dan duduk di depan meja Handi. ‘Namun… selama ini… aku sungguh mencintaimu… tetapi… Beo sudah… deluan menembak aku…. Dan dia…. Tahu kelemahan…. Ku’. Handi makin sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengar. Sungguh aneh luar biasa kejadian-kejadian yang terjadi, semakin lama semakin absurd. Handi kemudian mulai berbicara ‘Mohon maaf, mimi, Aku masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan kewarasan ku kembali, berikan aku waktu’. Mimi mengangguk dan mengembalikan kursi yang baru dia Tarik tadi. Dia pun kembali ke mejanya. Begitu dia duduk, sekolah tiba-tiba mulai terdengar banyak murid masuk ke dalam kelas. Handi sangat bingung dengan kejadian tersebut. ‘Biasanya tidak mungkin satu kelas masuk secara bersamaan dengan ramainya, harusnya satu per satu yang datang‘. Apa yang sebenarnya terjadi. Handi pun mulai pusing dengan apa yang terjadi. Kelas pun mulai seperti biasanya. Tidak ada yang membicarakan keanehan tersebut.

Pada saat istirahat, Neni datang ke Handi ‘Hei Handi… ada sesuatu yang ingin kubicarakan, bisa kau… pergi ke lab fisika?’. Neni langsung keluar kelas untuk belanja makanan seperti biasanya. Masih pusing dengan apa yang baru saja terjadi, Handi mengikuti begitu saja perintah Neni tanpa mengingat bahwa pernah ada masalah sebelumnya dengan Neni. Begitu Handi sampai di depan lab fisika. Dia melihat Mimi berdiri di tempat biasa dia duduk. ‘Kau tahu… Handi…. Aku…. Sudah lama mengamatimu…’ kata Mimi. Lalu secara perlahan, angina kencang berhembus masuk melalui jendela kecil yang ada di tempat itu. Handi mulai ketakutan, dia sangat bingung. Kewarasannya hampir hilang. Tiba-tiba datang seperti kilat, Neni yang sedang memegang makanan, menjemput Handi. Handi pun ikut lari Bersama Neni menjauhi Mimi. ‘Apa yang sebenarnya telah terjadi?’ teriak Handi. Neni pun menjawab ‘Inilah hal yang ingin kuhindari…’. Handi dengan semakin bingung ‘Apa? Tidak masuk akal! Aku mulai muak dengan apa yang terjadi! Bisakah semuanya kembali normal seperti sebelumnya?’. ‘Sudah terlambat…. Ayo, kita cepat ke kelas lagi’ jawab Neni.
Mereka pun berhasil sampai ke dalam kelas. Anehnya, di dalam kelas sangat sepi, tidak ada orang yang terlihat. ‘Apa yang terjadi!? Mengapa kelas kosong lagi!’ ucap Handi dengan sangat bingung. ‘Handi, dengar, kamu sedang diburu oleh seekor alien. Aku sudah mengetahui hal ini dari lama… Maka waktu kamu sedang berbicara dengan Beo untuk menembak Mimi, aku langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkanmu, tapi kamu menolak dan aku pun kesal oleh karena itu’. ‘Tapi… bukankah kau menembak aku… sebagai ungkapan cinta…?’ ucap Handi. Muka Neni mulai merah lagi oleh karena malu mendengar perkataan Handi. ‘I-itu, itu karena aku salah perhitungan…’ Neni sambil kesal menjawab Handi. ‘Terus bagaimana sekarang, benarkah Mimi adalah alien?’ tanya si Handi. Neni mengambil secarik kertas dan mulai menggambar di atas kertas dengan pulpen. ‘Lihat, aku sedang menggambar denah kelas. Kau perhatikan? Mimi benar-benar berada di tengah kelas.’ Handi memperhatikan dengan serius. ‘Dia adalah Alien yang dapat mengekstrakkan gas ilusi dengan radius hampir satu kelas ini, termasuk kamu yang terkena oleh gas ilusinya. Handi kemudian menjawab ‘Oh, itu mengapa aku bengong menatap dia terus…’. Neni kemudian kesal dan langsung melanjutkan tanpa mendengarkan komentar Handi. ‘Tapi Beo kan duduk di paling belakang…. Dengan beberapa probabilitas, Beo bisa tidak terkena gas ilusi tersebut dan melihat Mimi yang begitu menyeramkan’. Handi kemudian teringat ketika Mimi bilang bahwa Beo tahu kelemahannya. ‘Tentunya kamu tidak tahu hal yang sebenarnya dengan Mimi, karena kamu terkena gas ilusi tersebut’. Handi pun terpikirkan satu hal ‘Terus bagaimana denganmu Neni? Mengapa kamu bisa sadar akan hal sebenarnya Mimi?’. Neni menjawab ‘itu… karena aku dikaruniai kekuatan angin yang memblokir gas-gas tersebut terhirup.’ Handi bingung dengan jawaban Neni. Kemudian Handi mulai mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Seketika itu juga Handi langsung mengeluarkan suara yang begitu keras, teriak ‘AKU MENCINTAI MU NENI’, dan kelas pun berubah menjadi ruangan kosong tanpa batas. Hanya ada Neni dan Handi. Neni kemudian mengeluarkan air mata mendengar hal itu. Handi menjelaskan ‘Terlalu aneh semuanya ini… kamu hanya menguji aku dengan kekuatanmu saja bukan? Kau sangat ingin mencintai aku saja dan aku hanya mencintai kamu saja bukan? Sudah selesai, aku mencintaimu’. Neni pun mengangguk dengan sangat bahagia karena hal tersebut menyelesaikan misi Neni. Neni rupanya sedang mencari kebahagiaan sejati. Selama hidup Handi, Neni sedang memformulasikan cinta yang dapat membuat kebahagiaan sejati. Handi akhirnya tahu bahwa dia sedang berada di bawah kekuatan Neni. Dengan tidak berdaya dan menghilangkan pikiran yang tidak-tidak, akhirnya dia menurut dengan Neni. Neni pun kemudian mengembalikan Handi ke dunia semula saat dia berada di kelas, dan waktu masih menunjukkan pagi hari sebelum pelajaran dimulai. Teman-teman yang lain kembali seperti normal. Orang berdatangan satu persatu ke kelas. Beo pun lanjut menyapa Handi dengan tampak bahagia. Handi membalas juga dengan tampak bahagia. Tetesan air mata keluar dari mata Handi. Akhirnya aku menemukan cinta sejatiku, Neni.
Anehnya, keberadaan Mimi hilang, dan tidak ada yang menyadari akan hal tersebut. Apa…. Yang… sebenarnya…. Telah…. Terjadi….

Kegemaran Word count : 658
Spoiler: ShowHide
Keceriaan, kegembiraan, kegemaran…

Kalau dipikirkan, setiap manusia pasti menginginkan semua itu. Siapa sih, yang tidak mau hidup tenang dan senang? Menjalani hidup dengan penuh suka adalah hal yang menyenangkan. Dari yang muda hingga yang tua, pasti semua menginginkannya. Termasuk aku.
Dan di sinilah masalahku: Aku belum menemukan kesenanganku.

“ Hei, Hena!”
Aku mengerjap. Tersadar. Langsung aku berhenti menopang dagu dan duduk tegak di bangku dengan kepala menoleh ke kanan. Dila sedang mencondongkan badannya ke arahku dari kursinya.
“Apa sih Dil?”
“Udah beres?”
“Belum lah, ini lagi mikir.”
Kami mengobrol dengan suara yang sedikit terlalu keras untuk dikatakan berbisik. Jelas begitu, karena kami berada di dalam kelas. Meski berada di baris keempat dari depan (yang artinya cukup jauh dari Pak Asto dan meja guru), ngobrol dengan suara biasa akan terdengar oleh seisi kelas yang sunyi ini. Sebagian besar sedang terpaku melihat kertas di hadapan masing-masing. Beberapa terlihat mantap mengisi kolom jawaban, sedangkan sisanya (termasuk aku) harus memutar otak untuk mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan diri sendiri.

Aku, Hana, murid kelas 6 SD, sedang kesulitan mencari apa ‘kegemaran’ yang membuatku senang!

Hari ini, Pak Asto, wali kelas kami, meminta kami mengisi angket data diri. Aku sama sekali tak ada masalah dengan bagian data diri seperti nama, tanggal lahir, nama orang tua, dan pertanyaan sejenisnya. Tapi, begitu diberikan pertanyaan tentang kegemaran dan hobi beserta cerita mengenai itu dalam beberapa kalimat, aku langsung diam. Jangankan kalimat, menjawab singkat saja aku sudah bingung. Sebagian waktu kuhabiskan untuk merenung (atau lebih tepatnya melamun), dan begitu aku sudah sadar …
…bel berbunyi.

“Ya! Karena waktu wali kelas sudah habis, silakan dilanjutkan nanti. Yang sudah, simpan di meja bapak di belakang. Langsung kumpulkan hari ini ya,” kata Pak Asto sambil membawa angket yang sudah terisi penuh ke mejanya sebelum meninggalkan kelas.

Begitu Pak Asto pergi, seketika kelas menjadi lebih ribut. Aku pun langsung merengek pada Dila.
“Dil, bingung nih, kegemaran aku apa coba?”
“Kok nanya aku sih?” Terlihat jelas dahinya berkerut saat memperbaiki ikat ponytail-nya dan menjawabku enteng. “Main game gitu? Apa kek?”
“Itu sih hobimu, Dil. Dulu aku coba ikutan main game-mu itu, gak tahan lama. Aku memang gampang bosan kalau urusan game.”
Posisi dudukku kini tengah bersilang tangan di atas meja, dagu di atas keduanya. Ya, aku malas.

“Mungkin karena memang kamunya payah,” ejek Dila, langsung membuatku tertohok. “Main game gak bisa. Main alat musik gak jago. Gambar gak jelas. Masak gak enak. Jahit gak rapi. Paling kemampuanmu yang bagus hanya kecepetanmu balas chat dan scroll timeline.”
Kalau diingat-ingat, memang aku tidak pernah bisa menjadi unggul di permainan apapun. Apalagi kalau melawan atau bermain bersama Dila. Kami sudah bersama sejak TK, dan permainan apapun itu, mulai dari yang tradisional seperti congklak dan catur hingga yang canggih, aku pasti payah. Mungkin karena itu juga aku berhenti menemukan kesenangan jangka panjang dari permainan-permainan itu.
Soal hal lainnya, aku tidak lebih buruk darinya, tapi tidak juga lebih baik. Aku banyak kalah dalam beberapa hal. Kami sama-sama payah dalam memasak, contohnya ketika dia membuat nugget gosong atau aku menghasilkan ikan goreng setengah mentah. Soal gambar, ia pintar dalam menggambar manusia, sedangkan aku lebih mahir membuat gambar latar belakang, sehingga aku tak yakin siapa yang lebih baik. Kemampuan menjahit kami pun sama. Sama-sama tidak rapi, dan sama-sama tidak bisa menjahit kancing. Pelajaran? Harap jangan ditanya.
Ah, mengingat semua hal yang kulewati dengannya yang merupakan sahabat terbaikku rasanya cukup menyenangkan. Memang tak semua merupakan masa suka, tetapi entah apa yang akan kualami seandainya tak memilikinya sebagai sahabatku.

Ya, itu menyenangkan.

“Selamat pagi, anak-anak!”
“Yah, Bu Anna udah datang. Nanti kita lanjut lagi deh, Hen. Aku bantu nanti.”

Lagi-lagi tersadar dari lamunan, aku melihat Dila sibuk menyiapkan buku pelajaran Matematika untuk kelas Bu Anna. Ia memang teman yang baik. Saat aku membutuhkan pertolongan dan hiburan, dia membantuku, dan aku tersenyum mengingatnya.

“Gak usah deh, Dil. Aku udah tahu apa kegemaranku,” ucapku sambil menulis kalimat pertama untuk jawabanku.

Aku senang bermain bersama teman-temanku, terutama sahabatku.

Room Word count : 389
Spoiler: ShowHide
Aku tiba-tiba terbangun. Aku tidak tahu ini dimana. Yang terlihat hanyalah kegelapan. Aku merasakan ubin dingin menusuk kulitku. Ditambah rasa pusing dikepala, mungkin aku diculik. Aku tidak tahu maksud apa orang yang menculikku. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku diculik. Aku bahkan tidak ingat apapun. Aku siapa? Aku siapa? Bagaimana aku bisa berakhir disini?

Aku terus bertanya-tanya kepada diri sendiri. Ruangan itu sedikit demi sedikit menjadi terlihat karena mataku mulai terbiasa dengan kegelapan. Tidak bercanda, satu-satunya sumber cahaya yang ada hanyalah ventilasi kecil dimana sinar bulan bisa masuk. Siapapun yang meninggalkan orang di sini bukanlah orang waras.

Aku mencoba bangun untuk mencari pintu tetapi ruangan itu terasa gelap kembali karena aku bangun terlalu cepat. Sepertinya jantungku yang berdebar-debar tidak cukup cepat memompa darah ke kepalaku.

Sekitar beberapa menit aku meraba-raba sisi ruangan itu. Aku tidak menabrak apapun. Ruangan itu benar-benar kosong dan tidak berpintu. Mungkin karena gelap aku tidak melihatnya dengan jelas. Yang pasti aku terus meraba-raba seiring dengan semakin dinginnya ruangan itu. Ventilasi kecil diatas mungkin melewatkan terlalu banyak udara.

Semakin kesal karena tidak menemukan jalan keluar, aku mulai menendangi dinding. Sepertinya harapanku dinding ruangan ini terbuat dari kertas dan bukannya batu bata menghilang bagai debu. Aku terduduk diam merasa usahaku percuma. Aku hanya merasa udara bertambah dingin.
Ternyata aku merasa ada angin dari bawah ubin. Setelah aku periksa ternyata ada celah yang bisa dibuka. Aku ternyata mencari pintu di tempat yang salah. Setelah aku buka pintu rahasia itu, yang terlihat hanyalah tangga kecil. Ruangan dibawah gelap dan berangin. Aku tidak tahu seberapa dalam ruangan itu. Tapi mungkin karena insting kebebasanku aku menuruni tangga itu.

Beberapa langkah pertamaku tidak ada masalah. Tangga itu sepertinya aman untuk dinaiki. Dan sepertinya pemikiran itu tidak bertahan lama. Setelah aku turuni 1-2 meter, tangga itu jatuh. Aku berteriak karena takut. Prang! Suara tangga itu jatuh.

Untungnya aku jatuh saat sudah dekat dengan tanah. Ya! Tanah. Aku merasakan tanah dan rerumputan dibawah tanganku yang menahan jatuhku. Setelah aku melihat sekitar, aku memang berada ditengah semak-semak. Ternyata aku tadi terjebak dibawah sesuatu yang mirip gudang yang diletakkan di atas pilar penyangga untuk menghindari hewan pengganggu. Aku mencoba melangkah keluar.

Satu langkah lagi aku pergi dari bawah bangunan itu, aku mendengar suara angin kencang dan suara tangga jatuh seperti tadi. Aku berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Dan bangunan itu rubuh menimpa rata tubuhku.

When I Was a Kid
Spoiler: ShowHide
When I was a kid,
Everytime I play a prank on you
Or do mischievous act
You will always scream at me
You will always scold me
You will always threaten to cut my allowance
And then there, a silent me.

When I was a kid,
Everytime I make a mess midnight
And disturb your sleep
You will always yell at me
Telling me to go to sleep
And then there, me laying in bed next to you.

When I was a kid,
Everytime I throw a tantrum
And refused to go to school
You will always beat the hell out of me
Dragging me into school
And then there, a surrendered me

When I was a kid,
Trouble means I make you angry for something

When I was a kid,
I probably hate you for yelling at me
I probably hate you for beating me
I probably hate you for cutting my allowance
I probably hate you for forcing me into eating lettuce and broccoli
I probably hate you for no reason

But when I was a kid,
I never realize why you yell at me
I never realize why you scold me
I never realize why

When I was a kid,
I never know what love is like
I grew up without knowing what love is like
I think you hate me for all the scold
I think you hate me for all the yelling

But, no.
You still love me.

Now, I am a no kid anymore
I think I am not a kid anymore
And still at some time I hate you for yelling at me
And still at some time I hate you for questioning my decision
And still at some time I hate you for having different opinion
And still at some time I hate you for no reason

I am still a kid, playing adult's game
I am still a kid, no idea what love is like
I am still a kid, no idea how to express love
I am still a kid, playing in my own small world

I had no idea what love is like
I had no idea how to say "I love you"
I had no idea how to live beyond my ego
I had no idea

And yet, you still love me.
Bizzare, isn't it?

« Last Edit: January 04, 2019, 11:59:26 AM by Vision »

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #1 on: January 04, 2019, 01:28:48 AM »
Post ini adalah bagian kedua. dari 4

Bambang Bizzare Adventure Word count : 982
Spoiler: ShowHide
Bambang Bizzare Adventure

   Jakarta 202X terjadi sebuah kejadian aneh dimana orang orang tiba tiba hilang secara nmisterius. Bambang seorang detektif polisi yang sedang mengusut kasus ini. Detektif Bambang sedang menunggu rekannya yang sedang mencoba menangkap pelaku penembakkan itu. Tiba tiba handphone Bambang berdering.
   Bambang : “Halo dengan detektif Bambang disini.”
   Penelpon : “Tidak ada waktu detektif cept! Datang ke alun alun kota.”
   Bambang : “Budi? Itukah kau? Apa yang sedang terjadi?”
   Telpon dari Budi pun tertup.
   Bambang : “Ah sial”
   Bambang pun langsung menuju ketempat yang telah diberitahukan, dia langsung menuju ke motornya dan mengegas motornya. Dia melaju dengan cepat diantara mobil mobil di jam makan siang. Sesampainya disana dia melihat gerombolan orang disebuah pangkaralan pos ojek dekat alun alun. Bambang segera bergegas menuju kerumunan tersebut dan menerobos, dia melihat ada Ahmad yang merupakan bahannya yang sedang mengurusi sebuah mayat, Bambangpun berjalan mendekati Ahmad.
   Ahmad : “Ah Detektif Bambang, untung anda ada disini.”
   Bambang : “Apa yang terjadi?”
   Ahmad : “Seperti biasa, korban yang lain.”
   Bambang :”Dimana Budi? Tadi dia menghubungiku.”
   Ahmad : “Dia sangat buru buru tadi, tiba tiba dia memyuruhku mengurusi mayatnya dan tiba tiba pergi begitu saja.”
   Bambang : “Dia pergi kemana?”
   Ahmad :”Tidak tahu kelihat dia seperti mengejar seseorang.”
   Bambang langsung mengambil handphonenya dan berusaha untuk mengonhubungi Budi, namun Budi tidak segera menjawabnya, Bambang berulang kali menghubunginya namun masih tidak segera diangkat, namun tiba tiba Bambang menerima SMS dari Budi yang bertuliskan Jl. Cendana 65. Bamabang segera menaiki motornya dan menarik gasnya dalam dalam. Bambang menuju tempat yang dituliskan di SMS nya dengan cepat.
   Sesampainya disana Bambang segera menginfestigasi alamat yang dimaksud. Dia langsung menyiapkan pistolnya dan mengamati gedung tersebut.Sunyi dan aneh itulah kesan pertama yang didapatnya, tidak mau gegabah dia menghubungi Budi untuk menemuinya, namun Budi tidak segera membalasnya, tiba tiba Bambang mendapakan pesan yang bertuliskan “4 18”. Bambang menggrutu “Jangan mengrim pesan seperti novel misteri dong” Bamabang segera masuk kedalam gedung tersebut., dia berspekulasi pesan tersebut menunjek ke lantai 4 no 18 dia segera menuju tempat tersebut. Akhirnya dia ,menemukan ruangan yang dimakasud, Bambang membuka pintunya secara perlahan, dan terkejut budi sedang duduk kecapaian sementara disampingnya ada dua orang yang tergeletak.
   Bambang : “Budi? Apa yang sedang terjadi?”
   Budi : “ Ceritanya panjang, kita harus segera keluar dari sini.”
   Tiba tiba mereka mendengan suara orang di luar.
   Budi : “Sial, kita harus menyamar, cepat ganti pakaian mu.”
   Orang yang diluar itu semakin mendekat, mereka mendengar suara dari salah satu kamar. Mereka bergegas mengecek kamar tersebut dan membuka pintunya.
   Penjaga : “apa yang kalian lakukan disini?”
   Budi : “Eh kami.”
   Penjaga : “Jangan banyak alasan langsung ke gudang, kita punya banyak kerjaan”
   Mereka langsung menuju gudang bagian belakang. Truk truk berjejer bersiap untuk pergia Budi dan Bambang langsung menuju truk tersebut, mereka berangkat bersama truk yang lain menuju suatu daerah yang cukup jauh dipegunungan. Mereka ternyata menuju markas dari teroris tersebut. Akhirnya truknya sampai dan segera menurunkan muatan mereka, ternyata muatan tersebut adalah orang orang yang diculik dan dibawa masuk kedalam markas. Didalam markas tersebut mereka melihat robot raksasa dengan wajah Barto yang merupakan diktator dari pemerintah sebelumnya. Mereka sangat terkejut dan tidak mempercayai apa yang terjadi bahwa orang orang ini diculik untuk menciptakan robot raksasa.
   Tiba tiba Bambang melihat seseorang yang tidak asing baginya. Dia segera mendekati orang tersebut Budi berusaha untuk menahan Bambang karena mereka masih menyamar namun Budi terlambat.
   Bambang : “Paman Joko itukah kau?”
   Joko : “Bambang? Kenapa kau bisa disini?”
   Semua penjaga langsung mengetahui Bambang bukanlah bagian dari mereka dan segera menangkapnya. Budi dengan cekatan merebut senjata dari penjaga dan berusaha melindungi Bambang.
   Budi : “Aku tahu reuni ini sangat penting tapi tidakkah anda mengutamakan tugas terlebih dahulu.”
   Baku tembak tidak terelakkan lagi merekapun segera mencari tempat aman. Budi berusaha untuk memancing perhatian penjaga yang lain supaya Bambang dan pamannya bisa mencari tempat yang aman. Merekapun terpisah, Bambang berusaha untuk mencari jalan keluar, namun mereka menemukan ruangan yang luas/ Lalu tiba tiba mucullah sesok orang dari balkon   
   Orang itu adahlah Subarto namun dengan wujud yang aneh setengah badannya adalah mesin. Bambang terkejut tidak percaya.
   Barto : “Wah wah wah ternyata ada tikus yang masuk disini.”
   Bambang : “ Tidak mungkin kau harusnya udah mati.”
   Barto : “Namun tidak sekarang, habisi dia.”
   Barto meninggalkan ruangan itu, Bambang langsung dikepung oleh para penjaga, tidak ada jalan keluar lagi. Namun tiba tiba Budi datang dengan Machine gun menghabisi semua penjaga. Tiba tiba sirine berbunyi lantai tiba tiba bergetar, mereka mencari tahu apa yang sedang terjadi. Robot raksasa itu bersiap untuk bergerak. Mereka berusaha untuk mencari masuk kedalam robot tersebut. Akhirnya mereke menemukan pintu masuknya, paman Bambang tidak bisa ikut lebih jauh. Mereka pun akhrnya masuk kedalam robot tersebut.
   Bambang : “Kita harus segera menghentikan robot ini sebelum hal buruk terjadi.”
   Mereka berusaha untuk mencapai ruang kendali. Didalam robotnya sendiri juga terdapat banyak penjaga. Bambang dan Budi langsung menerobos menuju ruang kendali. Akhirnya mereka mencapai runga kendali. Bambang dan Budi mendekati Barto yang sedangmengendalikan robotnya, namun sebuah robot macan menekam Budi. Bambang yang dalam keadaan lengah dimanfaatkan Barto. Barto menyerangnya dengan lightsaber dan mengenai pistolnya. Bambang kehilangan senjatanya dan melawannya menggunakan tangan kosongnya. Barto mengayunkan lightsabernya dengan cepat, namun tidak secepat gerakan Bambang. Dengan kekuatan penuh Bambang meluncurkan tinjunya mengenai muka Barto. Barto terlempar keluar dari robot dan terjatuh.
   Budi akhirnya bisa menaklukkan robot macan tersebut. Bambang segera menuju ruang kendali dan berusaha untuk menghentikan robot itu namun rumitnya kendali tersebut membuat Bambang kebingungan. Tiba tiba Budi memukul tombol merah besar yang bertuliskan “Self Destruction”
   Bambang : “Oh yang benar saja.”
   Sirini peringatan berbunyi kencang. Timer menunjukkan tiga menit mundur. Bambang bingun bagai mana caranya untuk keluar dari robot tersebut. Budi tiba tiba melemparakan parasut ke Bambang dan melompat keluar dari jendela. Tanpa pikir panjang Bambang segera mengenakan parasutnya dan menyusul Budi. Tidak lama kemudian robot tersebut meledak. Mereka akhitnya menyelamatkan kota dari robot Barto. Semua pengikut Barto ditangkap dan para korban penculikkan akhirnya dibebaskan.


Kisah Anak Bandung Word count : 531
Spoiler: ShowHide
Kisah Anak Bandung
Di Bandung, tentu saja semua menjalani kehidupannya dengan normal. Ada yang sedang belajar di perpustakaan, ada yang bekerja di kantor, ada yang sedang di laboratorium, dan lain-lain. Semua orang di sini menjalankan kehidupannya seperti biasa. Tak terkecuali bagi dua orang ini. Sebut saja mereka Af dan Th. Mereka sedang makan di tempat yang menurut mereka mewah, yaitu di Jalan Ir. H. Djuanda Nomor 181-183, Bandung. Kenapa mereka makan di sana? Kenapa mereka tidak  makan di Jalan Ir. H. Djuanda Nomor 40-42? Kenapa mereka tidak belajar, tapi makan?
Tentu saja jelas, karena mereka lapar. Tapi cerita lapar ini tidak hanya sekedar melibatkan mereka makan saja. Ada cerita kenapa mereka terpaksa makan di sana.

“Woi, kenapa sih jadinya makan di sini?” Keluh Th. “Alah, liat aja di depan gimana kondisinya.” Af menunjuk ke luar, di mana hujan sangat deras. Waktu menunjukkan pukul 18.59 WIB. Hari ini tanggal 14 Desember 2018 dan bulan ini bulannya hujan selalu datang. “Hari apa sih yang ga hujan?” Th masih protes-protes, dia memang benci makan di tempat itu. “Kenapa tanya gua? Mana gua tau, gua cuma tau cara ngitung doang..”
Menyadari di dalam tempat makan itu ramai, Th berusaha merendam protesnya itu. “Oi Af, pesenin gua makanan dong! Udah jam segini nih.” Af ga terima di suruh-suruh sama Th. “Napa nyuruh-nyuruh gua dah? Minta tolong yang baik aja susah amat..” Th yang masih kesel gamau jawab perkataan Af dan segera memainkan HPnya. Af pasrah dan segera pesan makanan untuknya dan Th.

Tak berapa lama, makanan tiba di meja mereka. Untung saja antrian makanan tidak panjang. “Th, makannya udah nih!” Th masih main HP dengan memasang earphone di telinganya. Th mendengar musik yang dicintainya (jika penasaran, judul musiknya dan ketika denger musik  itu, dia tidak bisa diganggu. “OI, MAKANNYA UDAH SIAP NIH!” Teriak Af di dekat telinga Th setelah mencopot earphonenya. Th pun kaget.

“Lontong!” suara latah Th, ketika dia kaget terdengar satu tempat makan. Tentu saja Th jadi malu. “Mau makan ga sih?” Tanya Af ke Th. Th makin kesel sama Af, dan segera makan. Makanan di depan mereka yaitu 4 potong ayam bagian paha, masing-masing mendapat 2 potong ayam beserta nasi yang banyak dari porsi makan pada umumnya. Untuk minuman, mereka memesan air putih.

“Uh…..” Th masih mengeluh. “Ga enak banget, enakan ayam yang di kantin Jalan Tamansari Nomor 71.” Af hampir menyerah melihat keadaan Th sekarang. Tiba-tiba Af teringat sesuatu. “Eh iya, tadi dapat ini karena lagi ada promo.” Af mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Terdapat uang kembalian, struk belanja, serta suatu mainan yang berbentuk seperti Th mengambil mainan itu dari tangan Af dan melihatnya.
“Dari beli makan jadi dapat ini??” Muka Th terlihat lebih ceria dibanding sebelumnya. Af mengangguk. Padahal tadi mau makan yang murah-murah di luar tapi jadinya dapat mainan yang disukai sama Th. Th memang lagi miskin, pengeluarannya untuk bulan ini sangatlah kencang sehingga dia harus cari makan yang murah. Af bernafas lega karena akhirnya Th ga protes lagi. “Eh iya, jangan lupa bayar ya! Makanan kita mahal lho..” Th tidak memedulikan perkataan Af, dia masih melihat mainan itu dengan mata berkaca-kaca.

Begitulah cerita di musim hujan bagi Th dan Af. Tidak hanya kenyang, Th pun juga jadi senang.

Benci Jadi Cinta Word count : 557
Spoiler: ShowHide
Benci Jadi Cinta

Pertama kali aku bertemu denganya, ku terpukau oleh dia. Warna yang dipakainya, penampilanya, harum baunya, semua tentang dia seperti diciptakan oleh tuhan untuk memikat hatiku. Ditambah lagi, entah mengapa, semua anggota keluarga dan teman dekatku menyukai dia. Dia itu baik, kata mereka, cocok untukmu. Yasudah, mendengarkan apa kata isi hatiku dan suara orang-orang terdekatku, ku dekati dia.


Pengalaman pertamaku yang kubayangkan akan seperti surga di dunia malah jadi neraka. Mulutku di sakitinya. Dia serang habis-habisan hingga rasanya seperti terbakar. Entah berapa kali kutahan muntahku agar tidak keluar. Tidak puas dengan itu, dia juga menyerang lubang duburku hingga lecet dan luka.

Malam itu aku menangis, takut dan malu. Namun, berapapun besarnya penderitaanku, tidak bisa kuberitau ke siapa-siapa. Siapa yang mau percaya? Image dia terlalu baik di mata semua orang. Lagian, aku terlalu malu untuk mengakuinya.

Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mau lagi bertemu dengannya. Namun, kemanapun ku pergi, dia selalu muncul di tempat yang tak terduga dengan penampilanya yang menggoda. Bahkan kadang-kadang, dia muncul karena keluargaku ingin mempertemukanku dengannya. Setiap kali dia muncul, aku tatap dia tajam-tajam dan kutolak keras-keras. Keluargaku dan teman-temanku juga akhirnya mengerti kalau aku benci dia. Setelah kesekian kali kutolak, mereka berhenti mencoba mempertemukan kami.

Bertahun-tahun berlalu tanpa dia muncul dikehidupanku selain sebagai figuran di kejauhan. Kejadian yang kukira tak akan pernah kulupakan perlahan pudar dari ingatanku. Sampai  suatu ketika, temanku membawaku menemui dia lagi. Temanku membujukku untuk mengenalinya lagi dari awal dengan jaminan bahwa dia tidak seperti yang dulu. Awalnya ku tak mau, ku tolak, tapi bujukan teman dekat terlalu hebat. Hatiku luluh.

Dan ya, pengalaman keduaku sangatlah berbeda. Tidak seperti pengalaman pertama, kali ini terasa luar biasa. Sakit ada sakit, tapi perlahan-lahan dan lembut, dan kenikmatan yang mengiringinya jauh lebih terasa dari sakitnya.

Aku akhiri hari itu dengan senyum diwajahku setelah mengalami kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Waktu itu belum aku sadari, tapi ada sesuatu yang berubah di dalam hatiku. Kalau aku sadari waktu itu, mungkin aku akan takut, akan kujauhinya lagi, tapi takdir berkata lain.

Hari-hari berlalu, dan yang bisa kupikirkan hanyalah kenikmatan saat itu. Berulang kali kepalaku memutar setiap momen sebelum, saat, dan setelah pengalaman itu. Setelah bertahun-tahun membencinya secara terang-terangan, tiba-tiba aku jadi suka. Sungguh memalukan. Harga diriku tidak membiarkan diriku mengakui bahwa aku suka. Tapi fakta berkata lain. Tanpa sadar, aku selalu melirik kearahnya. Dengan satu dan lain hal aku membuat alasan agar bisa mendekati denganya. Hanya untuk melihat. Aku belum berani untuk mendekatinya lagi.

Rasa penasaran dan memori akan kenikmatan pengalaman kedua lama-lama mengalahkan egoku. Kupastikan tidak ada teman yang melihat, atau keluarga disekitar, lalu aku hampiri dia.

Aku tidak tau apakah ini aneh atau normal, untuk mencintai dia yang dulu pernah menyakitiku. Bahkan memori tentang pengalaman pertama yang pedih dan perih sudah tertimpa oleh kenikmatan yang dia berikan. Dan sekarang, aku mulai menyukai dirinya yang lebih kasar dan ganas.

Aku suka dia. Hanya itu yang bisa kupikirkan setelah bersama denganya. Esoknya kuhampiri dia lagi, esoknya lagi, dan esoknya lagi. Setiap hari aku bisa berkeliaran sendiri, kuhampiri dia. Sampai suatu hari, aku tidak bisa bertahan seharipun tanpanya. Kutelan rasa malu dan egoku bulat-bulat dan kuakui ke semua teman dan keluargaku bahwa aku mencintainya. Tidak peduli mereka mau mengejekku atau mengataiku apa. Demi bersamanya, demi kenikmatan yang dia berikan, aku rela.

Ya, tidak bisa kupungkiri lagi. Aku cinta kamu.


Ruang Hampa Word count : 727
Spoiler: ShowHide
Terkadang, jika waktunya memang tepat, motor saya mogok, tidak ada kuota internet dan
teman-teman saya sibuk dengan urusan mereka sendiri, saya mendapati diri saya terjebak
berjam-jam di jalan raya duduk di sebuah angkutan umum melihati wajah-wajah penduduk
yang semuanya berwajah kesal, marah dan mendesis menahan tangannya yang seolah-olah
ingin memukul supir angkutan tersebut karena terlalu lama menuggu pelanggan.

Ada pula mereka yang menemukan kesibukan mereka sendiri, mereka yang bepergian dengan
teman, bepergian dengan membawa pekerjaan, telepon genggam dan mereka yang tak
dibatasi oleh ketakutan atau kegugupan dengan mudahnya membuka pembicaraan dengan
orang-orang baru yang tak mereka kenal. Sekilas, itu saja tipe-tipe orang yang akan anda
temui jika anda memutuskan untuk menaiki angkutan kota, tetapi saya bukanlah penunggang
biasa; saya telah menemani banyak kendaraan hijau sejak saya masih belum bisa memahami
perkalian dan pembagian. Di lain waktu, terkadang ada penumpang yang masuk di tengahtengah
hujan lebat dan dia naik sembari menarik tudung jaketnya yang tadinya berdiri
melindungi kepalanya dari kebasahan. Kemana dia bergerak, dia meninggalkan kubangan air,
terkadang ada ibu-ibu yang menumpang kendaraan dan ibu tersebut memelototi dirinya.
Pemuda ini tersenyum, mengangguk dan mengatakan, "Maaf." dan ibu tersebut mengangguk
kembali. Suasana kendaraan kala itu sunyi, ibu tersebut tak henti-hentinya menggunakan
telepon genggam, saya juga mempunyai telepon genggam. Yang masih berbicara waktu itu
hanyalah suara tumbukan butir hujan terhadap kaca kendaraan dan teriakan klakson yang
saling berdebat kendaraan mana yang boleh bergerak duluan. Terkadang pula, saya
mengangkat kepala dan memilih untuk mengamati orang-orang ini. Di kiri ibu tersebut masih
sibuk, tetapi di pojok kanan pria itu tidak menggenggam apa-apa. Wajahnya terarah ke suatu
titik tetapi mata orang itu berkata lain, layaknya seseorang yang mengamati deburan ombak
yang membiaskan sinar matahari terbenam, matanya melihat ke ujung sana yang tak terbatas.
Giginya terkadang beradu dan badannya bergemetar, genangan-genangan di sekitar dirinya
tidak menarik bagi matanya dan begitu pula layar telepon genggam, dia hanya duduk di situ
entah melihat apa, entah memikirkan apa, dan entah menuju mana.

Mungkin pemuda itu tidak membawa telepon genggam? Tetapi dari wajahnya yang masih
dipenuhi dengan jerawat saya meragukan dia tidak membawa ponsel. Dibandingkan dengan
tipe yang lain, tipe seperti inilah yang selalu memunculkan pertanyaan. Diriku teringat
dengan saudaraku dari masa lampau, jika berkendara bersama, dia selalu terdiam dan
mulutnya erat tertutup. Wajahnya kosong dan dia selalu berada di kamar tidak mengundang
orang lain untuk bersosialisasi degan dirinya bahkan anggota keluarganya sendiri, kurang
lebih postur yang sama seperti pemuda ini. Pemuda ini terdiam di pojok dengan postur
melipat tangan dan kakinya terbuka tetapi tidak terlalu lebar. Dia duduk seolah-olah ada
orang di sebelahnya.

Pada masa lampau kusempat-sempatkan beberapa saat untuk berbicara dan bertanya, "Ada
apa di sana?" dan dia tidak akan langsung menjawab, dia terdiam sejenak dan baru
mengarahkan kepalanya padaku setelah beberapa saat. Matanya terbuka lebar, tetapi pada
saat yang sama saya tidak yakin dia menyadari saya ada di situ sejak lama. "Oh nggak ada
apa-apa." Sudah begitu saja. Kutanya lagi. "Bagus?" Dan lagi, butuh waktu beberapa detik
untuk dia melihatku. "Apanya?" Kutunjuk titik tempat matanya memandang tadi. "Ada apa?"
Tanya ia balik. Aku menggaruk pelipis dan menaikan alis. "Kamu cuma diam melihat ke
sana, melamun?" Dia menggelengkan kepala. "Enggak juga sih." Saya masih merasa
bingung. "Terus kamu ngapain?" Dia memegang dahinya. "Mikirin nasib Randon." Daftar
pertanyaanku bertambah. "Randon? Siapa Randon?"" Mungkin itu teman sekolahnya?
"Randon itu laksamana armada laut." Daftar pertanyaanku semakin panjang, tetapi aku tetap
ingin terus menggali. "Armada laut? Dari negara mana?" Dia tersenyum. "Negara Koana,
serangan terakhir ke pantai Timasi belum berhasil kemarin dan sekarang Randon minta

Kalau anda mengira cerita itu hanya sebatas pertempuran laut, maka anda masih belum tepat.
Setelah terus-menerus bertanya dia menceritakan tentang bagaimana sistem politik Koana,
siapa pendirinya, bagaimana sejarah pendiriannya, negara mana yang menjadi tetangganya,
konflik apa saja yang dihadapinya, diaspora yang terbagi-bagi di sana dan bahkan sistem tata
surya yang menyangkut planet Koana tersebut. Terlihat tak bertujuan, terlihat kosong, tetapi
ternyata penuh dengan detil terkecil. Kulihat pemuda itu kembali, mungkin dia juga memiliki
Randon dan seorang jendral yang membutuhkan seseorang untuk menenun ceritanya,
mungkin saja jika dia tidak terdiam dan berpikir laksamana Radon bisa tenggelam atau
mungkin selamat karena ditenun ceritanya untuk mati oleh pemikir? Membuatku berpikir
juga, apakah dunia ini tercipta karena ada sesosok yang tak terbayangkan tiba-tiba
membayang-bayangkan alam ini? Kubiarkan pemuda itu hanya terdiam sebagaimana
kubiarkan saudaraku untuk menentukan nasib laksamana Radon. Pencarian kebahagiaan bisa
dalam bentuk apapun bukan?

Clarence Meminum Kopi Word count : ~600
Spoiler: ShowHide
Clarence Meminum Kopi

Di depan meja kecil di pinggir beranda perpustakaan, Clarence telah meminum kopinya, atau tidak meminum kopinya. Di atas meja tersebut tergeletak secangkir kopi dan sebuah buku. Dari bau yang menyeruak ke hidung saya, bisa jadi ia memesan kopi *home-made* yang ditawarkan di sini. Tetapi mungkin saja bau itu merupakan campuran rumput halaman kafe selepas hujan dan asap *vape* yang tak henti-hentinya dikepulkan oleh lelaki di meja belakang saya. Hanya ada saya, dia, orang di meja belakang saya, dan penjaga perpustakaan yang bisa saya lihat di perpustakaan ini di siang hari, akhir minggu ini.

Hanya ada tiga alasan mengapa saya tidak berdiam diri di kos dan justru menghabiskan akhir pekan saya di perpustakaan pinggir kota ini. Pertama, saya baru mengepel lantai kamar kos saya setelah sekitar empat bulan. Kedua, saya mencari kesenangan setelah dihajar berbagai macam tugas perkuliahan; saya bahkan meminjam buku teks perkuliahan saya di sini. Ketiga, penjaga perpustakaan hari ini sangat cantik. Untuk mengelaborasikan alasan terakhir saya, penjaga perpustakaan hari ini adalah teman sekaligus calon pacar saya, Eileen.

Saya kembali melihat beberapa buku yang saya embat dengan izin dari raknya dan sudah saya letakkan di atas meja di depan saya. *Pengantar Analisis Real*, sudah tuntas. *Sukses Menjadi Ayah di Umur 18*, sudah setengah jalan namun saya selesaikan kapan-kapan saja. *Rafilus*, belum. Oke, *Rafilus* yang akan saya buka selanjutnya. Namun selanjutnya, mari kita intip Clarence; atau nama dia bukan Clarence?

Sebenarnya, sampai hari ini saya belum pernah bertemu Clarence. Saya bahkan belum sempat bertukar kata dengannya. Saya bahkan tidak yakin nama dia Clarence. Bisa saja Udin, Adi, atau semacamnya. Bisa saja ia tak bernama dan menunggu saya memberinya nama baru.

Saya mengalihkan pandangan saya ke meja yang dihuni Clarence. Oh, Calzoum. *Selera yang aneh,* gumam saya. Seaneh kopi *home-made* perpustakaan ini yang membuat saya diam-diam muntah minggu lalu. Seaneh jaket belang-belang yang ia pakai. Seaneh *earphone* tiga puluh ribuan yang ia cantolkan di telinga kanannya. *Sebentar, Eileen juga menyukai kopi perpustakaan ini, selalu memakai jaket belang-belang. Siapa tahu dia mencoba merebut Eileen dari saya?*

Pikiran saya, yang kelelahan selepas membuktikan ragam persoalan epsilon-delta, mencoba membayangkan ragam skenario yang dapat dilakukan Clarence di kisah cinta saya dan Eileen. Bisa saja ia teman main gundu Eileen yang mencoba merajut kisah cinta monyet mereka di sini. Bisa saja ia teman sekampus Eileen yang biasanya membaca novel-novel picisan namun kagok ketika dibawa ke sini, lalu memutuskan mengambil buku Calzoum hanya karena ia dahulu pernah mendengar namanya di buku pelajaran Bahasa Indonesia.

Oke, saatnya membaca *Rafilus*. Sebelumnya, saya pesan minuman dulu.

"Oi, kopi hitam satu!"

Pelayan dan penjaga perpustakaan ini datang dengan tergopoh-gopoh.


 Iya, nama saya Rian, dan Eileen memang tidak punya kenop pengecil suara. Saya tidak mengerti apakah Eileen menggunakan volume yang sama terhadap pelanggan atau tidak. Bahkan Clarence sekarang menolehkan kepalanya dari Calzoum dan melirik meja kami berdua. *Jangan-jangan rekaan saya benar?*

 "Len, berisik. *Ngapain* ke sini?"

 "Kan aku kerja di sini; lupa?"

 "Oh iya; kan kamu *ga* cerita-cerita, ih."

 *Namanya juga basa-basi,* gumam saya. Namun entah kenapa Clarence mendekati kursi kami.

 "Ohya, perkenalkan, ini Randi, pacar baruku. Teman sekampus; dan aku *nganterin* dia *interview* jadi barista kopi di sini. Baru jadian beberapa hari lalu, sih. Randi, kenalkan, ini Rian, teman aku yang tiap minggu ke sini *mulu*."

 *Oh, namanya bukan Clarence*, batin saya sambil mengulurkan tangan saya yang mendingin ke Randi.

 "Be-te-we, lihat nih jaket kita; sama-sama belang-belang! Aku minta Randi beli di toko baju favoritku, biar kita bisa *couple-*an gitu! Gimana Yan, bagus ga? Bagus ga? Oh ya, jadi tadi kamu mau pesan apa, Yan?"

 Mendadak saya ingin meminum kopi instan di kos saja.

Before We Say Goodbye Word count : 2879
Spoiler: ShowHide
Before We Say Goodbye

Once upon a time, there existed four kingdoms on the world. They are the Sorcery Kingdom Alba, the Mechanical Kingdom Flava, the Nature Kingdom Virida, and the Dragon Kingdom Rubra.
These Kingdoms used to exist without conflict while they grew. Unfortunately, the cause was not because they are peaceful, but because they did not know the existence of others.
Once they learnt of each other’s existence, they begun to wage war. At first it was just Rubra and Flava fighting over a territory. When Alba stumbled upon the conflict between Rubra and Flava, they decided to watch and sabotage both armies. However, Alba’s expansion approached Virida’s territory, and they fought.
With the reveal of four major players on the board, the war entered a new stage. Countless died without a clear victor in the end.
With the many casualties, the war ended on an uneasy stalemate. To break this stalemate and be the victor, the four major kingdoms each began on creating a secret weapon.

Chapter 1: A Hero’s Hope
My name is Leon. My specialty is wielding a spear. I don’t mean to brag, but nobody have ever defeated me when I used my spear. Well, with the way things are now I’m nowhere as strong as-
“Hero Leon! We came here for your aid!” Idiot A.
“With your help, our Kingdom shall be the one to rule over the world!”
“So stop writing on that book and come with us!”
How annoying, even though I ignored him as a subtle hint that I’m not interested.
“Can you please stop barking? Even the Hounds from the Forest aren’t this loud. I’m trying to write an autobiography here.”
“It’s not a request.”
The sound of swords drawn made me close my book and look down at them. Idiot A is standing with his sword ready, behind them stood soldiers from the Rubra Kingdom.
Let’s see. Several Sky Dragon Riders, Land Dragon Riders, Dragoon Knights, and Draconic Mages. Why must Rubra insist on long names anyway? Their mages have nothing to do with Dragons, so why Draconic Mages? 
“You do realize that I already lost an arm? Why would you want help from a cripple?”
“Of course we knew,” Idiot A scoffed, “that’s why we came here.”
“Your strategic mind is already a valuable help, and we are capable of subduing you in your current state.”
“You have thought this out. Unfortunately, you forgot several key information.”
And this, is why you idiots just threw away your life.
“What? The fact that your house is on top of the hill and we’re at the foot? The Mages can handle that.”
“No, you forgot the fact that I’m not alone.”
“Jaws of Gluttony.”
With that statement, I turned around to face my partner. It’s because I will have nightmares if I saw living beings eaten alive by the earth.
The sound and screams are already enough, thank you very much.
“Thank you again, Alicia.”
Long black hair, black robes, and a scowling demon mask. This is my partner, the one who is widely feared as the “Demon Witch” Alicia. She gained the title from her mask and the fact that she can use anything from the surroundings to attack you. I’m glad she’s my wife.
“Hmph, I’m done cleaning up. Let’s go back inside.”
Sure enough, when I look back, there’s nothing left but a normal hill. Scary.
As soon as we’re inside the house, Alicia took off her mask. The reason she wore a mask is because of her face. Blue eyes that look like she can’t hurt anything, a youthful face that made her seem childish. Without her mask, nobody will ever treat her seriously as a Witch. However, I prefer it when she took off her mask. That is because she’s-
“W-who are you calling cute, you idiot! I’m not cute! I’m elegant! I’m Dangerous! I’m the strongest Witch!”
“You pouting is also cute.”
“I’m not pouting! I’m glaring at you!”
Yup, she’s cute.
Speaking of cute, the sound of footsteps reminded me of another one.
“Papa, are you bullying Mama again?”
Short black hair like mine, brown eyes that is thankfully filled with life. She is our daughter, Fie.
“W-what do you mean by again?!”
“Because you’re too easy, Mama...”
“Hmph, whatever. Dinner’s ready.”
“Ah, I’ll help set the table Mama!”
Seeing them work together like that brings about a feeling of warmth inside me. Yes, I am content. I didn’t regret any of my actions in the past.
“Let’s eat!”
I promised didn’t I? I promised that I will save you. That’s why. Are you happy? We made lots and lots of happy memories. I’ll make sure you have a lot of it. I hope that you can look back and be happy.
Until the day we say goodbye.

Chapter 2: The Witch’s Worries
My name is Alicia. I’m a Witch.
Today there was an attack from Rubra. How many more times until they all understand that we want to put the war behind us? How many lives will they throw away for a futile effort? I don’t understand, I can’t understand. What exactly do they want to achieve?
These kind of thoughts swirled inside my head while I’m washing the dishes. Thankfully, Fie is helping me so I have a distraction from my thoughts.
“Thank you for helping, Fie.”
“No problem, Mama! I also enjoy helping out Mama.”
“Then, what do you want as reward for being a good girl?”
“Eh? Ummm...”
Seeing Fie fidgets and trying to work up her courage to ask something from me is cute. She seems to be embarrassed about the reward she wants.
“C-can you read me a story before bed?”
“Of course I can!”
As soon as I agreed, her eyes sparkled with joy. I’m glad.
“Then, shall we?”
I hugged Fie and lift her up. She squealed before giggling in joy. I carried her to her bedroom and gently lowers her on the bed. I tucked her in, before asking her.
“What kind of story do you want to read?”
“Umm...” She ponders for a while before answering.
“Your favorite then, Mama!”
“My favorite? Okay then...”
My favorite...there is only one story that is my favorite...
“Once upon a time, there is a boy who travels in order to stop meaningless conflict...”
That’s right. A story that I loved. The story of a Hero. A young boy who travelled the world, connecting with everyone he met. Trying to achieve understanding. Trying to make people realize that difference is not scary. All to stop war.
“And that’s how the boy is hailed as a Hero...hmmm...?”
Ah, Fie’s already asleep. She’s wearing a content smile. Silently, I put the book away and kissed Fie goodnight before I left her room.
I entered the basement, and lit all the candles inside with a snap of my fingers. I ignored all the other materials I have sprawled around and went straight to the ritual circle I set on the middle of the room.
The circle is glowing red.
“I’m grateful.”
I might not be able to understand why the Kingdoms keep on sending people to forcefully recruit Leon, but I’m grateful at them. Without them, I will have a harder time fulfilling the condition of this circle.
“’Blood of those who wished you harm.’ With how vague the amount, I can only periodically check on how filled the ritual circle is...”
Now, to complete the ritual. I hurriedly grabbed the needed materials. Heart of a Dragon, a Caladrius’ beak, Phoenix’s feather, Selket’s stinger, and a Hydra’s head. Put together on the circle, and sprayed by blood.
The circle glows, before all the materials and the circle vanished.
Ah, I’m exhausted. But with this, at least we have hope.
We have hope that we will be together again.
Even after we said goodbye.

Chapter 3: A Friend’s Feelings
My name is Laelynn. I’m the Mayor of this town’s daughter.
This town is located in a neutral territory. I’ve been told that Father and Uncle Leon founded this town because they got tired of war. Uncle Leon built a house on a hill not far from the town. When I asked Father why, he just told me that it’s a good stopping point before saying that Uncle Leon never changed. I don’t understand him.
Speaking of Uncle Leon, he and Fie is coming to town today! Uncle Leon is coming to talk about something with Father, I don’t know what. But more importantly, Fie will be here too!
As the only one around my age, Fie is my only friend. But that’s okay! We’re best friends! Sure, there was that one time when she’s gone, and I feel so helpless, but with Uncle Leon and Aunt Alicia she’s back!
I don’t want to experience it again. That’s why I trained to be the best Fire Mage ever and protect Fie from anything!
Ah, there she is!
“Laelynn, you can go ahead and take Fie out to town. I’m just going to talk with Leon here.”
“Don’t worry Uncle Leon! I’m going to protect Fie from anything!”
“I’ll leave Fie in your care then, Laelynn. Thank you.”
Uncle Leon smiled before messing up my hair.
“Ah, hey!”
While laughing at me, the two adults went inside Father’s office.
“There, there Laelynn...”
“Where’s Aunt Alicia?”
“Mama’s resting, she’s not feeling well.”
“I hope Aunt Alicia get well soon.”
“Thanks Laelynn, Mama will get better!”
“Let’s go Fie!”
Together, we hold hands and went out to town.
The town is lively as usual, people chatting happily, and people immediately noticing us. We visit several people and several stores. Lately, whenever I went to town with Fie, I started noticing that whenever someone talked with Fie, even though they are smiling, there is something on their eyes.
“Oh, if it isn’t Laelynn and Fie.”
“Hello again, Auntie.”
This auntie is the one who run a bakery shop. She’s always kind except for when she yelled at her husband for something.
“I have some bread, would the two of you want some?”
“Really? Thanks Auntie!”
“You’re welcome, just eat a lot and grow healthy!”
There! Now that I’m paying attention, I can see what those eyes are hiding! It’s...pity and sadness? Why? That makes no sense!
“Okay Auntie!”
“Ah, yeah, thanks Auntie.”
“Anytime, my dears.”
Now, I’m taking Fie to my favorite spot. A bench on a high enough spot where we can see the whole town!
“Nice view, right Fie?”
“Yeah, it is! Thanks Laelynn!”
We passed time watching the whole town and chatting happily. I wish we can keep on staying here together, but it’s about time we get back.
“Bye Laelynn!”
“Bye Fie!”
We waved at each other as Uncle Leon carried Fie back to their home. Father also took me inside our home. When Father entered his study, I also entered.
“Laelynn? What’s wrong?”
“Father, why is it that the people in town look at Fie in pity and sadness?”
“What do you mean?”
 “Don’t lie to me Father! Fie’s my dearest friend! I want to know why! Why do they feel pity at Fie? Why do they look at her with sadness?”
Father sighed and sagged on his chair.
“You’re too perceptive, Laelynn...where should I start then?”
“I’m not going anywhere until you tell me everything, Father.”
I don’t...want to experience it again...the pain of losing you...Fie...

Chapter 4: The Mayor’s Melancholy
My name is Hans. I’m this town’s Mayor.
I just finished talking with my friend, Leon. His wife, Alicia, managed to erect a barrier around this town that will prevent those who wished to bring damage to this town from seeing and entering it. Really, this town owed so much to Alicia. Knowing what is about to happen is not helping at all. And now, my own daughter noticed what I’m trying to hide.
Really, realizing that the townspeople feels a certain emotion and guessed it correctly just from their eyes. Our daughter is too perceptive, she must have gotten it from you Maria. I wonder if you’ll be proud if you can see her? Your red hair with my blue eyes, she truly is our daughter.
“Father, quit stalling by remembering something.”
“Well, that was worth a try...”
Now, how to do this gently...
“Do you remember when Fie was kidnapped?”
“I do. I feel so afraid, so helpless, that’s why I trained. Is that it? They pity her and feel sad for her because she got kidnapped back then?”
“Father, you’re lying again.”
“Worth a try. It’s technically true. It’s not because she got kidnapped. It’s what happened when she got kidnapped.”
“What happened?”
“Let me keep it simple. The kidnappers built a weapon, a weapon that is powerful. However, that weapon need something to power it. They did a complicated ritual to summon something that is most suitable to power it.”
“That something is Fie, isn’t it?”
“That’s right. They then did a procedure to make the weapon usable. Basically, they fused the weapon and the battery.”
I watched as Laelynn trembled in rage.
“When Leon and Alicia rescued her, it was too late. Fie’s already fused. And that’s where the tragedy is.”
“What do you mean?”
“The procedure they used is something that has never been done before. We found out later that Fie’s body is slowly degrading.”
“Fie’s dying slowly.”
Laelynn slammed her hands on the table.
“Can’t they do something?!”
“Do you think you’re the only one who cares about her?!”
My shout stopped Laelynn’s tantrum.
“Leon and Alicia have tried everything! We the townspeople have tried everything! How do you think we feel that everything we tried is a failure?!”
“No, it’s fine. It’s...understandable...”
We both took a moment to calm down.
“It’s just...I trained hard to protect that I will never lose her it all...worthless...?”
I went around my table and hugged her. My daughter who should not be experiencing such sorrow.
“Don’t say it’s worthless. You have seen her, right? She knew from the beginning about her condition, yet she still smiles.”
“Fie is...”
“That’s why, you should cherish those moments.”
“...thank you, Father...”
“Of course.”
Laelynn cried and fell asleep. I carried her to her room and tucked her in before I sleep.
The next day, we received news that Fie is about to die.

Chapter 5: The Day We Say Goodbye
My name is Fie. I’m the daughter of Leon and Alicia. I’m the best friend of Laelynn. And I’m about to die.
It’s a fun life though. Playing with Papa. Helping Mama with housework. Talking with Uncle Hans. Walking through town with Laelynn. Holding hands with Laelynn. Watching the whole town with Laelynn.
I don’t want to die.
But I will die.
No, I can’t cry now. I’m sure Papa, Mama, Laelynn, and everyone is also sad. That’s why, I want their last memory of me is of me smiling.
As I lay on my bed, I can only open my eyes and speak.
In an instant, Papa and Mama rushed to my side. Laelynn and Uncle Hans also went to my side.
“Fie, I’m sorry. I should have protected you better. I’m sorry that you got an incompetent father like me...”
“Fie, sorry, my daughter, even though I’m the Greatest Witch, I can’t cure you. I’m sorry, that your mother is this useless...”
It’s not your fault. Don’t blame yourself. So-
Someone grabbed my hand, looking at my hand, it’s Laelynn. She smiled at me, even though tears are falling from her eyes. 
“Hey, Fie. Yesterday was fun, right?”
“Then, let’s promise to have fun again. Aunt Alicia told me of a ritual she did. Separating your soul from the weapon, so that your soul can enter the reincarnation cycle. Let’s promise to meet again. Even if not in this life.”
Mama did? I see. Thank you, Mama. And Laelynn...I can never thank you enough for all the things you showed me...
“Yes, Fie?”
I gave them my best smile, before I closed my eyes for the last time.

“After that, Leon and Alicia disappeared. They travelled around the world and talked to the people. Soon, everyone who was sick of war from all kingdoms revolted. And there were no more kingdoms. Afterwards, all technology from the four kingdoms are spread everywhere, and Leon and Alicia created the peacekeeping organization Atra.”
I closed the book.
“And that’s the end of today’s story.”
The children who gathered to listen to my story dispersed. The adults approached me.
“Thank you, miss. You telling our history in a story format made the children interested in it.”
“No problem.”
“Will you be interested on being our history teacher here?”
“Sorry, but I’m just a traveler with my companion.”
“Ah, a shame. Thank you again.”
The adults went away. Just when I was about to leave, I heard someone calling my name.
Red hair and blue eyes. She is my companion.
“Linne, let’s go.”
Hand in hand, we continued our journey across the world.
~Before We Say Goodbye~ END

O Fortuna | May be disturbing for some. Word count : 1383
Spoiler: ShowHide
O Fortuna

Warning: Contains themes that might be disturbing to those who read this. Tread with caution. And please listen to O Fortuna on repeat while reading this.
“Antonio, have you heard any news from our scouts?” a man with brown hair, sharp red eyes, and trimmed beard spoke as he entered the room.
“I’m sorry, Lord Cesare, but we none of our scouts have reported back,” Antonio answered.
“I see,” Cesare narrowed his eyes.
“I promised Lucrezia that she will be Queen before our son is born, yet the chance of that happening is becoming slimmer and slimmer,” Cesare lamented.
“Don’t worry, My Lord. I’m sure we will-”
“*bzzzt**bzzt* Sirius 1 to HQ! Sirius 1 to HQ! Can you hear me?!” a voice sounded out from the radio on the desk in front of Antonio.
Hurriedly grabbing the communicator, Antonio replied, “This is HQ, we hear you loud and clear. What did you find, Sirius 1?”
“We found him, HQ! We found him!” Sirius 1 replied in what seemed to be euphoria.
“Him? What do you mean, Sirius 1? Who is-,” Antonio then suddenly became silent, and looked at Cesare with wide eyes, realizing the identity of this “he”.
Taking over the communicator, Cesare spoke to the scout slowly, “Dante, this is Cesare. Can you hear me?”
“M-My Lord? Ah wait, I mean, yes, I can hear you, My Lord,” the scout, now named Dante, answered.
“Is it him? Is it… Mussolini?” Cesare asked hesitantly, as if he himself doubted the luck that the Goddess Fortuna had granted him.
“Yes, My Lord, we have observed him, and except Mussolini has another body double that we didn’t know yet, then this should be the real deal,” Dante answered.
“… Dante, prepare for ambush. I’m going there,” Cesare ordered before swiftly putting the communicator back to the radio and then strode out of the room.
“M-My Lord?!” a flabbergasted Antonia said.
“We have no time to lose, Antonio! This is the chance that the Gods themselves have given me! After tonight, I shall be the King of all Italy!! Prepare my bike, Antonio!!” Cesare commanded.
“As you command!” Antonio bowed, before promptly leaving to do what he was asked to.
As Cesare entered his room in order to change to his field combat uniform, he heard a female voice from the bed.
“Cesare, is that you?”
Stoppping short before putting his weapons on his belt, Cesare walked to the side of the bed and gently held the hand of the woman. She had blonde hair and red eyes the same shade of the man.
“Cesare, you, where are you going?” the woman asked.
“I’m going to secure our son’s future, Lucrezia. Just stay here and rest. Once I’m back, you will be the Queen of Italy, and our son her Prince,” Cesare answered.
“But, what if you didn’t come back? Cesare, I’m afraid,” Lucrezia said as she held her husband’s hand tighter.
“Shh, don’t worry, Lucrezia. I will come back. That is a certainty. Please, just rest, for our child, and leave everything to me,” Cesare placated as he embraced Lucrezia.
“Alright, just, return to me, Cesare, please,” Lucrezia weakly said.
Kissing Lucrezia’s hair, Cesare said, “I swear, Lucrezia, on the name of the Gods, that I will return to you, My Love.”
The gathered scouts never noticed it until he was among them.
“Tell me the situation,” Cesare ordered.
“W-wha? Who are- My Lord!!” the scouts utterly surprised seeing their leader suddenly among them without they realizing it.
“The situation, gentlemen. We don’t have time,” Cesare ordered again.
“Y-yes, My Lord. This way, please,” one of the scout said as he guided Cesare to the Command Center.
“I told you our alliance with the von Hohenzollern will be advantageous for us, Antonio,” Cesare said.
“Yes, Lord Cesare. I have to admit, that bike is the fastest thing I have ever saw in my life. With the technology that they have, no wonder the von Hohenzollern managed to keep pushing their advantage over the Nazi and the Weimar,” Antonio replied.
Entering the camp, Cesare addressed the leader of the Scout Corps.
“Dante, are we ready?”
“Absolutely, Lord Cesare,” Dante answered with utter conviction.
Smirking, Cesare said, “I had my doubts when I employed Machiavelli but I guess he truly deserves his promotion after delivering us the intel responsible for this opportunity.”
“Shall I ready the men for sortie, My Lord?”
“No need, Dante, I will ready the men myself. After all, tonight will be the day that my name, and those of future Borgia dynasty, are etched on history.”
A bucket of water was poured on the prisoner’s head, instantly waking him up. Opening his eyes, the man found himself on tied to a chair in a dimly lit room.
“Finally waking up, Mussolini?” a voice spoke from behind the man’s back. Though he tried to see the speaker, his tied body prevented him.
“Grrr, show yourself, Borgia!” Mussolini spat.
“As you wish,” Cesare stepped in front of the bald man, a smug smile on his face.
“Even if you have captured me, that doesn’t mean you will get what you want, Borgia. For the Allied Force, my reign is still hundred times better than yours. Your win against me will just mean they can focus all of their power to crush,” Mussolini threatened, yet Cesare’s smile only got bigger and wider.
Realising his threat was ineffective, Mussolini spoke, “What have you done, Borgia?”
“Oh, I did nothing. I just, promised Roosevelt that I will help him against communism if he left us alone,” Cesare smiled as he showed the disbelieving Mussolini the secret deal between him and the President of USA.
“Y-you… Borgia…,” Mussolini growled.
“By the way, Mussolini, have you wondered what room is this?” Cesare asked as he clapped, a signal as a lamp was turned on. Below the lamp, a bed could be seen. But the most important part wasn’t the bed, but who was on the bed.
“No, no, no, nooooo!!!!” Mussolini screamed in horror as he saw what was on the bed. A man and a woman, naked and making love to each other. A man and a woman, who were also Mussolini’s brother and sister, Arnaldo and Edvige Mussolini.
“You said we are demons, yes, Mussolini? Then it’s only proper that we show you Hell. Play the music,” Cesare commanded.
Soon, the song of O Fortuna could be heard loudly over the moaning sounds of the two lovers on the sinful bed, whose sounds of passion only getting louder along with the song, with Mussolini as a witness to the endless debauchery.
As Cesare left the room and closed the room, he only felt elation over the suffering of his nemesis. An elation that turned into happiness and concern as he saw his wife.
“Lucrezia, didn’t I tell you to rest? What if something were to happen to you?” Cesare frowned.
“Don’t worry, Cesare, I’m fine. Though, are you sure you have to do this? Even for Mussolini, isn’t this too cruel of a punishment?” Lucrezia softly asked.
“Lucrezia, listen to me,” Cesare said as he held his wife’s face.
“That man called you a whore, and our son as an abomination. This is the least that he deserves,” Cesare said.
“… Did you, force him to see it? As you said you are going to do?” Lucrezia asked again.
“No, I changed my mind. I let him able to close his eyes, yet not his ears. He may try to believe what he sees as an illusion, a nightmare, and yet, he still can’t run away from what he hears. The sound of his siblings engaging in carnal pleasure,” Cesare smirked.
As the sounds of moan becoming loud enough to go past the walls, Cesare embraced Lucrezia.
“You know, My Love, don’t this remind you of our first night? The night which began all of these?” Cesare asked as he kissed Lucrezia’s neck.
“C-Cesare, n-not in the corridor,” Lucrezia pleaded.
Chuckling, Cesare said, “You said the same thing too at our third night, Lucrezia, and we both know you couldn’t resist in the end.”
“C-Cesare, oohhhh!!!” Lucrezia moaned as Cesare’s hand went past her dress.
“I love you, Sister.”
“I love you too, Brother.”

Suatu Senja di Jalan Ibukota
Spoiler: ShowHide
Suatu Senja di Jalan Ibukota

Cahaya jingga mentari menemani sisa hari dengan malu-malu dibalik awan-awan gelap. Malam akan tiba tak lama lagi. Hujan pun sepertinya sudah siap untuk turun. Saat-saat seperti ini umumnya dianalogikan sebagai waktu-waktu untuk melepaskan beban pikiran, merilekskan pikiran yang lelah setelah rutinitas yang tak pernah bosan untuk membuat bosan. Andre, seorang pemuda kantoran berusia duapuluhan, saat itu sedang bersiap untuk pulang ketika tiba-tiba hujan akhirnya mengguyur lebat seisi kota. Bak dikomando, supir ojek daring serentak menolak untuk mengambil pesanannya. Toh, siapa juga yang mau menerobos hujan selebat ini dengan sepeda motor? Itu namanya mencari penyakit. Kalau besok sakit, pekerjaan, dan akibatnya penghasilan, akan terganggu.

Selang satu jam, hujan akhirnya menjinak. Hanya saja, dampak kehadirannya masih terasa. Di saat hujan, hukum lalu lintas tidaklah berlaku. Lampu lalu lintas hanyalah simbol ketakmampuan manusia. Siapa cepat dan berani dia lewat. Macet menjadi tak terelakkan. Andre, dengan ponsel siaga di tangannya, masih menunggu seorang supir ojek daring yang rela mengantarnya. Kantornya di bilangan Tebet memang tidak terlalu jauh dari rumahnya yang ada di daerah Lenteng Agung. Hanya saja, mau tidak mau dia harus melewati Pancoran, sebuah neraka yang nyata bagi pekerja kantoran yang pulang sore pasca hujan. Setelah lama menunggu, akhirnya ada juga supir ojek yang menerima pesanannya. Bak bertemu malaikat penyelamat, Andre segera duduk manis di atas motor, mengistirahatkan bokongnya yang sebenarnya sudah disiksa dengan duduk berjam-jam di kantor.

Seperti diduga, macet memang tak terelakkan. Empat tahun mencari penghasilan di Jakarta membuat Andre sudah kebal dengan situasi seperti ini. Selama perjalanan, Andre banyak berbincang dengan si supir ojek. Aliudin namanya. Nama yang mirip dengan salah satu mantan pesepakbola Persija Jakarta. Aliudin mengaku telah mengojek sejak setahun lalu. Ia lulusan S1 di salah satu PTS di Jakarta. Katanya, lebih baik mengojek daripada menganggur. Ia bercerita bahwa ia dahulu pernah mencoba berjualan via toko daring, tetapi menjadi gosip tetangga karena ia jarang terlihat keluar rumah kecuali pagi dan sore hari. Ia juga mencoba mengojek sambil berjualan, tapi karena manajemen waktu yang berantakan akhirnya tokonya bangkrut, menyisakan ojek sebagai profesi utamanya.

Obrolan panjang tentang profesi si tukang ojek ternyata tak mampu mengalahkan kebarbaran jalanan ibukota. Masih saja mereka terjebak di kawasan Pancoran. Sesekali kata makian terdengar, harmoni bersama suara-suara klakson yang saling bersahutan bagai orkestra tanpa arahan.

"Kalau bukan demi anak, saya mah mendingan balik ke kampung pak," ucap Aliudin, kembali mencoba membuka percakapan. Ia bercerita tentang kampung halamannya. Suasananya tenang, udaranya masih segar dan sejuk. Hanya saja menurutnya bersekolah di Jakarta lebih baik untuk anaknya. Tak jauh dari rumah. Pekerjaan di Jakarta pun lebih banyak kesempatannya. Meski katanya, "kalau gak kuat iman, orang bisa gila tinggal di sini."

Mungkin ucapannya agak berlebihan, tetapi rasanya ada kebenaran di dalamnya. Kata orang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Sebagai orang yang bisa besar dengan bahagia bersama ibu tiri tentu benar begitu bagi Andre. Empat tahun bekerja di Jakarta, berpindah-pindah kantor dan lingkungan sosial, berganti-ganti moda transportasi, Andre tentu cukup familiar dengan kehidupan pemuda kelas menengah di Jakarta, ditambah sedikit pengetahuan tentang sisi gelap ibukota. Terkadang muncul kembali pertanyaan di benaknya, untuk apa dulu dia datang ke sini? Dulu saat sedang menganggur di kampung halaman, ia nekat mengiyakan ajakan temannya untuk bekerja sebagai teknisi jaringan di Jakarta. Dengan bermodal tabungannya, ia membeli tiket bis untuk pergi ke Jakarta dan menyewa kamar kos. Untung saja lamarannya diterima. Bisa malu bukan main jika ia kembali ke kampung halaman akibat lamarannya ditolak.

Ucapan Aliudin kembali terbayang di kepala Andre. Kalau Aliudin punya alasan "demi anak", sedangkan Andre? Jangankan anak, rencana untuk menikah saja belum pernah terbesit di kepalanya. Eh tapi, memangnya kenapa dengan anak? Kenapa kita ingin anak harus bahagia? Kenyataannya kan hidup itu penuh dengan penderitaan. Mengapa anak tidak kita ajak menderita sekalian? Pikiran Andre mulai kacau.

Lamunan Andre pecah setelah sebuah mobil melindas kubangan air tepat di sebelah motor yang diboncengi Andre. Raut muka Andre berubah, bagaikan baru saja disembur dukun. Mungkin ia kelelahan, pikirnya. Toh tadi siang rapat di kantor tidak berjalan dengan baik. Teman dekat Andre di kantor juga terancam PHK. Presentasi ke klien di sore hari berakhir tanpa persetujuan. Hari yang menyebalkan.

Motor mereka merapat ke SPBU dahulu di jalan raya Pasar Minggu untuk mengisi bensin. Andre juga ingin ke toilet sambil menunggu antrean pertalite yang mengular. Hitung-hitung mengistirahatkan bokong yang andaikan pekerja pasti sudah minta uang lembur. Perjalanan kemudian dilanjutkan. Sialnya, hujan kembali turun. Kali ini tanpa peringatan sang hujan langsung menampakkan keganasannya. Tak lupa petir turut bersambutan, menerangi langit malam untuk sepersekian detik. Seperti biasa, underpass dipadati pesepedamotor yang menumpang berteduh atau sekadar mencari ponco di bagasi. Seperti biasa pula macetnya jalanan kembali hadir. Berjalan di underpass pasar minggu saat hujan mengingatkannya akan peristiwa runtuhnya JPO yang melintang di atas underpass beberapa tahun lalu. Hingga kini JPO yang pernah ada tidak pernah diperbaiki lagi. Mungkin untuk mencegah kejadian serupa.

"Kalau ingat kejadian dulu, serem ya jembatan jatuh di sini."
Sial, Andre saat ini sedang tidak ingin membayangkan itu. Pikirannya yang baru saja selesai memikiran hal itu justru dipanggil kembali.
"Iya ya. Untung sekarang sudah tidak ada lagi." Andre menjawab sumringah.
"Tapi jadinya kasihan yang nyebrang. Setiap jam berangkat sama jam pulang kan ramai banget di situ. Yang nyebrang jadi harus muter. Banyak angkot juga. Jadi macet awut-awutan."
"Iya sih. Saya pernah lewat atas jam tujuh sore, macetnya ga manusiawi."
"Tuh kan. Ga hujan aja kacau, apalagi hujan."

Pasar Minggu telah terlewati. Sisa dua tantangan besar lagi: dua perlintasan kereta di tanjung barat. Sejak perlintasan dekat Universitas Jagakarsa ditutup, kemacetan memang berkurang. Hanya saja sekarang macetnya teralihkan ke perlintasan sebelumnya. Ibarat leher botol, perlintasan kecil itu menahan arus kendaraan dari dan ke arah Depok. Andre sedikit bersyukur ia tidak menggunakan mobil, meski harus merasakan dinginnya guyuran hujan, tetapi setidaknya ia tidak perlu terjebak di jalan.

Selang satu jam lebih, akhirnya Andre tiba di rumahnya, basah kuyup akibat hujan. Ponco yang dikenakan rupanya tak cukup untuk mengalahkan hantaman hujan. Bokongnya nyeri akibat duduk dalam waktu panjang. Dibayarkannya tarif ojek, beserta tip. Tak lupa si supir mengucapkan kalimat andalannya, "Jangan lupa bintangnya ya pak."
"Siap!" jawab Andre.
"Jangan lupa bahagia juga, pak. Semangat kerjanya!" Aliudin, si supir ojek, mengucapkan salamnya dan segera menerobos dinginnya hujan, kembali bertarung dengan jalanan ibukota.

Seketika Andre kembali teringat tujuan hidupnya. Mencari kebahagiaan. Meski hidup tanpa makna dan penuh derita, yang penting adalah mencari kebahagiaan dalam derita.
« Last Edit: January 04, 2019, 11:58:42 AM by Vision »

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #2 on: January 04, 2019, 01:53:10 AM »
Post ini adalah bagian ketiga. dari 4

Identity Word count : 411
Spoiler: ShowHide
What have I become? Since when I become like this? I often question myself with these question. Everytime I try to find the answer,  a blank white room appear in my head. Everytime I try to find the reason, a person that looks a lot like me show up in front of me. Everything that are very fun to do before, slowly become boring and pointless.
What kind of person am I back then? Honestly, I don’t remember at all. It’s weird isn’t it? I mean, everyone do remember how their past looks like and their personality doesn’t change much even if they do change. Meanwhile, I don’t even know what I’m right now. How about you? Do you know what kind of person are you right now?
I do remember some things that I always do, one of them is playing games. Of course it is, who doesn’t enjoy playing games? Well that’s what I am right now. I don’t enjoy playing games anymore or watch shows on TV, I still do it even now but, they are just a method of what you could say as killing time.
You could say that I don’t understand anymore the meaning of both fun and happiness anymore and tt changes to boring and troublesome.
How about hanging out with friends? You know playing together, go to a mall together, or just simply fooling around like an idiot. Those things? I found it really pointless and just wasting my energy by doing something like that. What? I’m a shut in you say? Maybe you’re right, can you tell me more what kind of person am i? like they say, people know you better than yourself.
Why hesitate? You can already say that I’m a shut in with just a simple text or you actually labelled me as a shut in just because of what you read here?
Ahaha…, I’m sorry, I didn’t mean to go that deep, my bad.
Anyway, If you do really want to know where this story is going, well I’m still not that good at writing a story or telling other about a tale but, I’ll try my best. This story haven’t even start, this is just the prologue which is kinda pointless after I read it again ahaha….
Well anyway I’ll start the story, you don’t have to read this actually. Please enjoy and I’m sorry about any mistype or something like that.

Kebahagiaan dalam Cinta Word count : 926
Spoiler: ShowHide
Kebahagiaan dalam Cinta

Setelah mempertanyakan kenapa cowok kurang peka dan kenapa cewek sulit dimengerti, aku menarik satu kesimpulan yang dapat menyelamatkan umat manusia; tidak ada manusia yang terlahir dengan kemampuan membaca pikiran.

Maka jelaslah sudah seluruh kebingungan hubungan antar lawan jenis ini berawal, namun apa daya Bahasa Cinta tidak menjadi bagian kurikulum dalam pendidikan sekolah dasar. Ini mengakibatkan banyak orang sok tahu tentang cinta dan diperbudak perasaan sendiri. Semakin banyak orang menginginkan cinta tanpa pernah mengerti kenapa cewek selalu berkata terbalik atau kenapa 'cewek selalu benar', apalagi kenapa cowok tidak menangkap sinyal cinta yang kalian beri. Jawabannya sederhana, tapi kebanyakan orang lebih memilih untuk dibuat konflik seperti Novel drama 500 lembar yang berakhir dengan putus.

Jujur, tidak keren.

Jadi gini aja, saya bakal memperkenalkan lima bahasa cinta lewat lima kasus berbeda. Saya bercerita sesuai perasaan, jadi kalau berantakan saya hanya akan bilang dengan bahasa daerah; wayahna weh nya.

Sebelum saya lanjutkan, aku adalah Roh. Kalian tidak perlu tahu baju favoritku atau warna mata apalagi kulit, karena itu semua tidak penting. Yang terpenting adalah kalian tahu nama saya dan peran saya di ruangan tiga kali enam meter ini. Saya seorang mahasiswa yang duduk di pojok untuk membaca novel baru atau Manga yang dipinjamkan teman, dan saya mengamati puluhan orang diperbudak cinta.

Bercanda. Mana ada mahasiswa diperbudak cinta. Mereka biasanya diperbudak tugas yang bejibun jumlahnya, hampir memakan separuh waktu istirahat. Tidak jarang mereka melupakan tidur dan mandi. Lupa makan lebih sering, sampai tidak keluar kosan dan melumut di depan laptop atau komputer. Hebatnya kematian akibat ngambis tugas tidak sampai diliput media. Mungkin karena satu, mati karena tugas itu konyol, atau dua, setidaknya semua orang tahu cara mencintai diri sendiri.

Sampai suatu hari, teman yang meminjankan novel erotik pada saya masuk rumah sakit karena lupa makan saat mengerjakan tugas. Masalah lambung, katanya. Tentu saja saya bingung. Soal keluarga saya yang ketat soal hal yang menjerumus bisa dibahas lain waktu, tapi soal Beliau - mari kita panggil dia Mawar untuk menjaga privasi - sampai mengorbankan badannya sendiri patut dipertanyakan.
Orang bilang, cinta itu penuh pengorbanan, tapi kalau kekasih kalian itu tugas kuliah yang pada akhirnya dinilai orang lain, romansanya di mana sih? Aku tahu kalian sering berduaan di kosan, kadang malah sambil ngopi di kedai mahal, begadang juga sering, tapi sejauh yang saya lihat hubungan ini melukai salah satu pihak. Memang, quality time itu salah satu penyampaian cinta yang sangat besar, dan memakan banyak energi. Jadi saya mohon dengan sangat; kalau tidak bisa putus dengan tugas, dikondisikan saja supaya lebih aman. Terima kasih.

Sampai mana aku tadi? Oh, ya. Novel ero. Tidak ada apapun yang bisa dibahas, hanya salah satu cara menunjukan cinta dengan sentuhan fisik. Baca sendiri saja, meski saya tidak begitu menyarankan. Physical touch juga bagian dari bahasa cinta. Meski tidak semua orang suka disentuh, dan beberapa orang kelepek-kelepek tekowew uwah kalau jalan sambil pegangan tangan, salah satu variabel yang membuat orang merasa dicintai adalah sentuhan. Bahasa ini diterjemahkan intensitasnya berbeda tiap orang.

Personally, bicara soal kebahagiaan dan perasaan dicintai, saya menyukai physical touch. Maka sebagai anak tengah dengan banyak saudara, saya merasa tidak dicintai sampai saya mengerti kenapa. Bukannya Ibu dan Ayah tidak cinta pada saya, tapi cinta mereka berbeda dan tidak sekuat yang saya ingin. Mereka memberi saya perhatian, namun yang saya inginkan adalah pelukan, dan juga elusan kepala.

Solusinya apa? Aku yang peluk mereka. Kadang kalau kamu mau bahagia kamu harus enggak bergantung sama orang lain dan mulai melakukan. Toh mereka berpikir cukup kok dengan perhatian, tapi saya tidak puas dengan itu.

Bicara soal bahasa cinta ketiga dan paling problematik - terutama sebagai biang kerok kenapa cewek sulit dimengerti dan cowok kurang peka - pujian dan kalimat manis! Tidak, gombal sendiri tidak menjadi problem. Sialnya, beberapa orang salting dan baper begitu ditanya pertanyaan sederhana - bila saya menyinggung maka saya yakin anda merasa paling disayang begitu doi sadar poni kiri kamu terpotong lima mili karena bosan saat dosen menerangkan rumus. (bukan pengalaman pribadi) Kalau kalian butuh semangat dan kalimat manis dari orang lain buat tetap semangat, kalian akan terlalu cepat jatuh cinta pada orang yang perhatian pada kamu.

Yang mungkin paling dikenal namun paling berdosa adalah bahasa cinta keempat: hadiah. Memberi hadiah adalah bentuk cinta yang paling ternodai. Bisa dibilang, paling menguras dompet. Tetapi ini adalah salah satu bahasa cinta - dan hadiah kecil seperti permen favorit atau berbagi snack pasti mengubah suasana hati dimarahi dosen dan dikejar tubes bisa mengubah segalanya bagi orang yang berbahasa cinta dengan hadiah.

Terakhir, adalah cinta yang ditunjukkan lewat aksi. Kalau kamu tiba-tiba menyukai orang yang membantu kamu mengerjakan tugas kuliah, atau doi suka minta dijemput, tandanya dia merasa disayang kalau cinta kamu ditunjukkan... Atau lu aja yang digunakan sih. Tapi janganlah berprasangka buruk kayak Roh. Setiap orang berbicara bahasa cinta yang berbeda, dan meski kamu tidak merasa cukup mencintai dengan menemani dia jalan saja, dia mungkin menerjemahkan semua itu berbeda.

Jadi apa solusinya?

Seperti yang saya bilang di awal, tidak ada manusia yang lahir dengan telepati. Jadi ngomong dong, goblok. Kalau pacar sempet bilang "Kamu gak ngerti perasaan gue" lu punya hak besar buat bilang "Kamu gak ngomong, dasar bajingan".

Dan kalau kalian jomblo dan baca tulisan saya, setidaknya sekarang kamu lebih siap daripada orang yang gak tau apa-apa soal bahasa cinta. Jangan lupa cintai diri sendiri. Puji badan kamu. Jangan dilukai. Jangan lupa mandi dan dikasih makan. Tahu diri dan sayangi badan kamu. Jangan pernah sampai kamu sayangi apapun melebihi badan kamu sendiri, kecuali cinta Tuhan.

Sayang sama badan kamu sendiri, oke?

Roh cabut dulu. Roh sayang kalian semua yang pernah berkunjung di ruangan ini.

Kesenangan Senja Word count : 743
Spoiler: ShowHide
Kesenangan Senja

Tutturuu! Terdengar suara alarm pagi yang memanggilku. Aku pun terbangun, namun tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Pandanganku tertuju pada seberkas cahaya yang menembus tirai jendela. “Hmm, pagi yang cerah.” Pikirku. Kemudian kuberanjak dari tempat tidur lalu membuka tirai dan jendela. Terlihat matahari yang bersinar cerah dengan langit tanpa awan. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan raga. Kuhirup dalam-dalam udara segar itu dan setelah terasa pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam tubuhku, aku hembuskan kembali udara itu dengan perasaan lega. “Ya, cerah sekali. Namun apakah hari-hariku akan secerah ini?” Pikirku. Kemudian aku bergegas untuk mandi, tidak lupa kugosok gigiku agar tetap bersih. Setelah mandi aku membersihkan tempat tidurku, kemudian berganti pakaian seragam, dan berangkat sekolah. Ah, untuk sarapan, sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk mengambil selembar roti tawar yang kulapisi selai untuk dimakan saat perjalanan ke sekolah.
Sesampainya di sekolah aku pun beraktivitas seperti pelajar SMA biasanya: belajar, mengobrol dengan teman, makan siang, belajar lagi, push rank, lalu pulang saat senja hari. Terus berulang-ulang dari masa-masa awal aku bersekolah hingga saat ini, masa-masa akhir menjelang liburan semester. “Hampa sekali hidupku ini. Hampir setiap hari keseharianku selalu seperti itu. Tidak adakah sesuatu yang menarik?” pikirku sembari berjalan untuk pulang.
Namun, belum sampai selangkah di luar gerbang sekolah, terdengar suara seseorang, “Abang, Tunggu aku!” teriaknya. Awalnya aku mengira panggilan itu bukan ditujukan padaku, namun setelah suara itu kuproses lebih lanjut, aku merasa suara itu sangat familiar, “Jangan-jangan dia....” Aku pun menoleh ke belakang untuk melihat pemilik suara tadi, dan ternyata dugaanku benar.
Terlihat seorang gadis yang melambaikan tangannya. Wajahnya tersenyum ceria, dan lambaiannya terlihat bersemangat. “Ah benar, dia ternyata.” pikirku. Gadis itu adalah adik kelasku, sekaligus teman masa kecilku. Ia tinggal beberapa blok dari rumahku. Ia seorang gadis yang bisa dibilang memiliki paras yang cantik, dengan pribadi bebas dan ceria, setidaknya menurutku seperti itu. Melihat semangatnya melambaikan tangan, mau tak mau aku pun menjadi bersemangat juga. Kubalas lambaiannya dengan senyuman. “Sini dek, abang tunggu!” Gadis itu kemudian berlari kecil menghampiriku.
“Abang mau pulang kah?” Tanyanya dengan nada gembira.
“Ya dek.” Jawabku.
 “Oh, kalo begitu ayo bareng!”
Ajakan itu disampaikannya dengan gembira. Terlihat dari ekspresi wajahnya dengan mata yang bersinar-sinar. Melihat caranya mengajakku, tentu tidak bisa kutolak kan?
“Ok, ayo jalan pulang bareng.”
Mendengarku setuju, Ia pun semakin gembira. Ekspresinya makin cerah. Entah kenapa aku baru melihat ekspresinya seperti itu. Sepertinya dari dulu belum pernah seperti ini. Apa yang membuatnya segembira itu?
“Hmm hmm, akhirnya jalan bareng.. ehehe!” gumamnya.
“Hmm, kenapa dek?”
“A-ah, gak kenapa-napa kok!” jawabnya dengan agak terbata. Pipinya sedikit memerah. Ia pun mencoba mengalihkan,
“O-ohiya, minggu kemarin abang pergi kah? Soalnya aku sempat ngeliat abang di dekat stasiun.”
“Iya dek, waktu itu abang pergi bertualang lho!”
“Waah, kemana kemana? Cerita dong!”
Awalnya jawaban tentang bertualang itu hanya candaan belaka karena sebenarnya aku hanya pergi ke kota sebelah untuk menghilangkan rasa bosan, namun karena Ia terpancing, dengan ekspresi sangat ingin tahu itu, aku pun punya ide sebuah candaan.
“Ok dek, ini cerita abang, dengarkan baik-baik ya.”
“Waktu abang pergi ke Siborongborong, datang hujan, yang amat deraslah....”
Seketika ekpresi ingin tahunya berubah menjadi ekspresi heran.
“Eehh, kok abang jadi nyanyi sih? mana lagunya itu lagi.” Tanyanya.
Aku pun memberi gestur untuk menyuruhnya mengikutiku bernyanyi sembari melanjutkan nyanyiannya.
“Terkejut abang terheran-heran, karena abang belum pernah ke sana.”
Melihatku seperti itu, mau tak mau Ia ikut bernyanyi dengan gembira.
“Untung datang Namboru Panjaitan, matarombo kami di jalan.”
“Diajaknya aku ke rumah dia, makan daging anjing dengan sayur kol!”
“Sayur kooool, sayur koool, makan daging anjing dengan sayur kool!”
“Sayur kooool, sayur koool, makan daging anjing dengan sayur kool!”
Setelah bernyaanyi kami bertatap-tatapan, lalu melepaskan tawa kami.
“Ahaaha, bisa aja abang!” Katanya.
“Ooh, siapa dulu dong!” lanjutku.
Kami pun kembali tertawa.
Kemudian aku menoleh ke arahnya. Terlihat ekspresinya yang gembira. “Begini bagus juga, menyenangkan.” Pikirku. Kemudian aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan untuk mengisi kehampaan ini hanya sebatas kesenangan saja. Kesenangan yang sederhana, namun merupakan kesenangan sejati. Kesenangan yang dapat dinikmati semua orang. Menyadari ini, aku pun tersenyum, kemudian bertanya kepadanya,
“Dek, kalo nanti udah mulai sekolah lagi, karena rumah kita deket, mau pulang bareng lagi kah?”
Mendengar pertanyaanku ini, entah kenapa ia terlihat bahagia.
“Boleh bang, adek juga mau begitu. Rasanya kalo sama abang tuh pasti seneng!” jawabnya.
Mendengar jawabannya, entah kenapa ada sesuatu yang menyentuh. Aku sendiri tidak tahu, apa itu, namun rasanya menyenangkan. Menyenangkan sekali! “Hmm, seperti ini tidak buruk juga.” Pikirku seraya tersenyum senang.
Inilah pengisi kehampaan itu, sebuah kesenangan di senja hari.

Unknown Word count : 2383
Spoiler: ShowHide


“Hei! Suara apa itu?”

       Aduh, gawat. Apakah aku ketahuan? Aku membelalakkan mataku. Oh, no. Saat ini, aku sedang berada di taman rumah seseorang yang memang kebetulan sedang kuikuti. Aku mulai mengikutinya sejak sore tadi, setelah menunggu dirinya menyelesaikan klub olahraganya, lalu mengikutinya sampai ke rumahnya. Kemudian, dengan cerobohnya, aku menjatuhkan tangga di taman rumahnya ketika mencari celah agar aku dapat menyelinap ke dalam rumahnya melalui taman belakangnya secara diam-diam. Tiba-tiba membuatku kesal terhadap gaya gravitasi (atau mungkin itu momen gaya?), seandainya tangga itu terbang saja…!
       Setelah itu, terdengar suara langkah kaki mendekati tempatku berada. Tanpa berpikir panjang lagi, aku melompat ke semak-belukar di samping kananku. Untung saja kumpulan tanaman ini berukuran cukup besar dan tinggi, dengan rongga sehingga aku dapat menempati tempat itu dengan nyaman dan tanpa merasa kesakitan. Saat ini, langkah itu semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Aku berharap-harap cemas agar orang itu tidak menemukan diriku di sini.

“Hmm… Aneh. Aku yakin 100% suara itu berasal dari sini.”
        Orang itu berjalan menjauh dari tempatku bersembunyi. Entah ke arah mana dirinya pergi, yang terpenting adalah aku tidak merasakan keberadaannya lagi. Tapi... Aku mulai merasa curiga dengan semak ini, seakan-akan pernah ditempati oleh orang lain karena betapa praktisnya rongga ini ada. Tiba-tiba, aku merasa gemetar seakan-akan angin menerpa bagian punggungku. Aku mulai mendengar detak jantungku yang makin cepat. Napasku mulai tak teratur. Apakah ini kegelisahan ataukah ketakutan? Keringat dingin mulai mengalir di keningku. Dengan gerakan patah-patah, aku berdiri lalu menoleh ke kanan dan kiri-

“Ja ja jaa… Kau terkena jebakanku, Marimar!”

       Jantungku hampir lepas mendengar suaranya (tidak secara harfiah, tentunya). Dengan takut-takut, aku menolehkan kepalaku ke arah belakang. Terlihat dirinya berjarak sekitar dua meter dariku sambil menodongkan sebuah pistol kecil berwarna hitam. Matanya tajam seperti kucing sedang berburu mangsanya menatapku dengan tajam, seakan-akan menatap tepat ke dalam jiwaku.

“H-hei... Bagaimana kau dapat memiliki itu? Bukankah kau seorang mahasiswa biasa?!” Tanyaku dengan nada bergetar.

“Tak kusangka, ternyata King sendiri yang datang menemuiku,” kata orang itu tanpa menjawab pertanyaanku. “Ini akan mempermudah tugasku.”


       Dia mulai menarik nafas yang dalam, lalu tangan kirinya memiringkan pistol itu sembilan puluh derajat ke kanan, lalu meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya. Langit perlahan mendung, angin mencekam dan menekam, gemuruh petir mulai terdengar. Ada aura hitam kejam yang mulai menyelimuti pistol itu.

“Vade in domum tuam...”


       Seketika, diriku kehilangan keseimbangan untuk tetap berdiri. Pandanganku menjadi semakin buram dan kelopak mataku mulai menutup. Aku dapat merasakan tubuhku menghantam tanah setelah itu. Apakah aku sudah mati...?

       Seharusnya aku sudah mati, bukan? Orang aneh itu menembakku tepat di kepala. Mengapa aku masih dapat berpikir seperti ini? Aku lalu mencoba untuk menggerakkan jari-jariku. Ternyata, anggota tubuhku masih berfungsi dengan baik. Akhirnya, kuputuskan untuk membuka mataku dan mengubah posisiku dari berbaring menjadi duduk secara perlahan. Kulihat cahaya matahari yang menyilaukan. Mataku yang berwarna silver melirik ke sekelilingku. Kudapati diriku sedang berada di sebuah padang rumput yang luasnya sejauh mata memandang dan... Seekor naga berwarna coklat tua—aku teringat akan kecoak—yang sedang terbang?

       Aku mulai memikirkan situasi yang menimpaku kali ini. Mulai kususun satu per satu kejadian yang baru saja kualami di dalam kepalaku. Aku sebelumnya berada dalam keadaan tidak sadar. Aku terbangun di tempat atau mungkin dunia lain yang tidak kukenal. Jangan-jangan, ini... Isekai?! Aku teringat pada beberapa orang temanku yang membaca cerita dengan tema seperti itu. Jangan-jangan, aku menjadi tokoh utama dalam cerita ini?! Aku akan melawan Demon King, menjadi seorang pahlawan yang dihormati di dunia ini. Aku menjadi penasaran, kekuatan apakah yang kudapatkan di dunia ini? Aku lalu mengangkat tanganku dengan semangat, menyerukan nama elemen-elemen yang kemungkinan akan menjadi bagian dari diriku.
Tentu saja. Tidak ada yang terjadi.
Untuk apa aku memikirkan hal itu, sekarang ini itu tidak penting!
Saat ini, aku harus segera mencari bantuan-

“Hei, bocah. Beraninya kau bersantai-santai di teritori kami.”

        Aku melihat ke belakangku dan terdapat tiga tikus hitam yang tingginya satu sentengah kali diriku yang berdiri layaknya manusia. Mereka mengenakan baju berwarna kuning yang terlihat sedikit tersayat di bagian lengan pendeknya. Tikus yang posisinya di tengah, yang aku asumsikan sebagai ketuanya, memiliki luka di wajahnya. Langkah kaki mereka tidak begitu menggetarkan tanah untuk menakuti orang yang mendengarnya, tetapi wajah sangar mereka cukup membuat siapapun yang melihat itu memilih untuk menjaga jarak. Aku menggeser tubuhku ke belakang melihat mereka berjalan ke arahku.

“M-maafkan aku... Aku akan segera meninggalkan tempat ini,” kataku sambil berdiri dengan perlahan karena merasa terancam.

“Tidak semudah itu, Ferguso,” kata ketua dari kawanan itu sambil menarik kerah kemejaku. “Mungkin kau dapat dimanfaatkan untuk menjadi pesuruh kami,” lanjutnya diikuti gelak tawa dari tikus-tikus lainnya.

       Bukannya menjadi takut, mendengar suara tawa mereka yang melengking, aku menjadi merasa kesal dan terganggu. Karena itu, aku berpikir untuk menendang makhluk menyebalkan itu, namun sesuatu yang bergerak cepat segera menghantam sisi wajah hewan pengerat yang mengangkatku dan membuatku terjatuh. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat ‘sesuatu’ atau mungkin seseorang yang menyerang tikus tadi. Terlihat seorang gadis dengan rambut sepanjang pinggang dan mengenakan mantel berwarna hijau kusam sedang memukul ketiga tikus tersebut menggunakan tongkat kayu. Orang itu memiliki…ekor dengan rambut lebat? Tidak lama setelah itu, ketiga pengganggu tadi berlari terbirit-birit meninggalkanku dan penolongku.

“Beraninya anak-anak baru itu mengganggu orang lain lagi! Aku sudah lelah membereskan mereka!” Seru orang yang menolongku itu.

       Lalu, gadis itu membalikkan badannya untuk menghadapku. Aku dapat melihat wajahnya yang hampir tertutup setengahnya oleh rambutnya. Ia menggunakan topi kupluk dan penutup mata untuk menutupi mata kanannya. Ketika ia membuka mulutnya untuk berbicara, aku menyadari ia memiliki dua taring yang panjang.

“Apakah kau terlu-“ ia memotong pertanyaannya dan ia melebarkan mata biru langitnya. “Tunggu. MENGAPA KAU ADA DI SINI?!” Teriaknya tepat di wajahku.
“A-ah, itu tidak penting sekarang. Aku harus membawamu pergi dari sini!” Lanjut gadis berambut coklat tua itu lagi lalu ia menarik tanganku dan berlari.

       Ia berlari dengan sangat cepat sehingga membuatku terpaksa berlari juga. Saking cepatnya, pemandangan sekitarku terlihat buram. Ia membawaku ke sebuah rumah kecil di perbatasan kota. Setelah itu, orang yang belum kukenal itu memintaku untuk tetap di depan rumahnya. Tanpa menunggu lama, gadis itu membawa sebuah jubah bertudung berwarna putih dan scarf merah. Katanya, aku harus mengenakan ini agar tidak menarik perhatian penduduk kota. Kemudian, ia membawaku berlari lagi. Kecepatannya membuatku curiga. Manusia biasa tidak mungkin dapat berlari dalam kecepatan seperti ini.
Aku harusnya menyadari kalau manusia normal tidak memiliki ekor.

“Maaf...” Mendengar suaraku, orang itu berhenti dan menatapku dengan tatapan datar. Aku kembali melanjutkan kata-kataku, “...kau siapa?”

“Eh...?” Ia diam selama beberapa saat sebelum bernapas lega dan membuatku menjadi bingung. “O-oh. Maaf, aku kira kau... Seorang teman lamaku.”
“Tapi... Kau tidak dari dunia ini, kan? Karena itulah aku akan membawamu kembali ke rumahmu.” Lanjutnya lagi.

       Sebenarnya aku ingin bertanya lebih lanjut, tetapi manusia berekor ini telah berlari dan menarikku kembali. Sampai sekarang, aku belum mengetahui namanya. Kami melesat melewati para penduduk kota ini yang wujudnya bermacam-macam. Ada yang berwujud manusia serangga, binatang-binatang yang pernah aku lihat di dunia nyata dalam ukuran besar, dan makhluk-makhluk yang pernah sekali-dua kali aku baca dalam buku cerita anak-anak. Kota ini terlihat kurang terawat dengan para penduduknya yang berjumlah banyak dan membuat kekacauan di jalanan. Apakah kota ini tidak memiliki penegak hukum atau tata tertib? Aku melihat ke depanku dan mendapati makhluk yang membawaku tidak terganggu dengan keadaan di sekitar.
       Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, ia memutuskan untuk berhenti di balik sebuah dinding bangunan yang jauh dari keramaian kota. Kami duduk berhadapan dan ia memberikanku sebotol minuman. Aku memerhatikan penduduk kota yang sedang bertengkar karena memperebutkan sesuatu.

Melihatku melakukan hal itu, orang itu menjelaskan padaku, “Keadaannya memang seperti ini sejak bertahun-tahun yang lalu.”

 “Memangnya dunia ini tidak memiliki pemerintahan atau penegak hukum?”

“Sebenarnya ada seorang raja, tetapi...” ia terdiam sejenak dengan tatapan yang kosong lalu melanjutkan kembali, “dia sedang tidak ada di sini.”
Setelah itu, ia mengubah ekspresinya menjadi tersenyum kembali, “Maaf, aku sampai lupa menanyakan namamu. Namamu siapa?”

“Aku Richard. Bagaimana denganmu?”

“Apakah kau ingat bagaimana kau sampai ke dunia ini?” Tanyanya menyelidik tanpa menjawab pertanyaanku.

       Aku menjelaskan pada gadis berambut cokelat tua itu kalau seseorang berambut merah dari tempat kuliahku menembakku dengan sebuah senjata api berwarna hitam. Aku melihat ekspresinya menjadi masam lalu ia mendecih.

“Oh. Dia.”


       Setelah berbicara seperti itu, ia kembali berdiri dan membawaku melewati para penduduk kota yang sedang berjalan. Pada suatu titik kota, tudung pada jubahku tertiup angin, namun aku segera menariknya dengan tanganku yang bebas. Aku berharap penduduk kota tidak menyadari keberadaan makhluk asing di daerah mereka. Karena, beberapa orang telah memandangi kami dengan curiga. Ketika kami hampir tiba di sebuah kastil di arah utara kota, aku mendengar beberapa makhluk yang berbicara di belakang kami.

“Bukankah itu... King?”

       King… bukankah si orang berambut merah itu juga memanggilku seperti itu? Apakah aku memiliki suatu hubungan dengan dunia ini? Apakah aku mengenali dunia ini walaupun sedikit saja? Ketika aku bertanya pada orang di depanku, ia memintaku agar tidak memikirkannya. Tiba-tiba kami berhenti di depan sebuah kastil letaknya tidak jauh dari kota. Ia membenarkan posisi penutup matanya sejenak lalu memintaku untuk segera menuju ruang tempat warp tunnel berada.
       Aku memerhatikan isi kastil tempat kami berada sekarang. Ukurannya besar, mungkin jauh lebih besar daripada gedung kuliah yang biasa kutempati untuk belajar. Di sekitarnya terdapat lahan yang luas, dengan bagian barat kastil digunakan untuk lapangan dan bagian selatan untuk jalan masuk yang lebar dan taman. Beberapa penjaga terlihat sedang menjaga di pintu utama kastil.

Tidak ada yang berubah...
Eh? Mengapa tiba-tiba aku berpikir seperti itu?

       Agar tidak diperhatikan oleh para penjaga kastil, kami melewati pintu kecil di samping kiri kastil. Kata orang ini—yang sampai sekarang belum kuketahui namanya—pintu ini merupakan jalan pintas terdekat menuju lorong yang akan membawaku kembali ke duniaku. Aku heran, mengapa orang yang tempat tinggalnya berjarak jauh dari kastil ini telah menghapal isinya. Setelah melewati beberapa ruangan yang tidak sempat aku lihat judulnya, kami tiba di depan pintu yang katanya akan membawaku ke dunia asalku. Tanpa kami sadari, ada sesosok makhluk yang berada di belakang kami.

“Well, well, well, selamat datang kembali, Pengkhianat." Kata seseorang di belakang yang membuat kami berbalik.

       Kami mendapati seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dariku dengan rambut merah yang tidak begitu rapi. Mata tajamnya yang berwarna kuning terlihat bercahaya di lorong yang agak redup ini. Dia adalah yang telah mengirimku ke dunia ini! Seketika gadis berambut coklat itu berdiri melindungi diantara aku dan dia.

"Ternyata benar ini perbuatanmu, Vlad."

"Firasatku ternyata benar, cepat atau lambat, pasti King akan tiba dengan sendirinya ke kastil ini. Walaupun begitu, aku tidak menyangka Louvelle Si Pengkhianat ini bersamamu juga.“ Ujar orang yang bernama Vlad itu.
“Ini akan sangat menarik,” kata pemuda itu sambil mengepalkan tangannya seakan ingin menyerang. “Kita dapat melanjutkan pertarungan kita beberapa tahun yang lalu.”

       Aku melihat gadis yang ternyata bernama Louvelle itu membuka penutup mata dan topinya dan ia berubah wujud menjadi serigala yang tingginya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda bertaring di depannya. Sebelum ia berubah, aku mendapati telinga serigala yang sewarna dengan rambut dan ekornya di atas kepalanya.

“Aku melakukan itu untuk kebaikan dan kebahagiaan di dunia ini!” Serunya sambil melompat untuk menyerang.

       Pukulan yang baru saja diberikan tidak begitu memberi dampak pada Vlad. Setelah itu, ia membalas dengan kekuatannya yang ternyata dapat membuat makhluk di depannya terpental menuju dinding yang jaraknya lima meter darinya.

“Ternyata, dengan beberapa lama tinggal di luar istana, kekuatanmu melemah.”
“Karena aku adil,” Kata Vlad melemparkan sebuah pakaian yang terbuat dari sisik suatu makhluk pada manusia serigala yang terduduk di lantai. “Pakai ini.”

       Gadis itu berterima kasih dengan nada kesal. Lalu, ia menyerang kembali dengan seluruh kekuatannya. Ia juga kembali mengatakan alasannya melakukan hal yang membuat Vlad marah.

“Omong kosong! Sejak kapan membawa pemimpin kita pergi akan membuat segalanya kembali teratur!”

“Richard! Kau tunggu apa lagi! Pergilah ke ruangan itu!” Seru orang bermata biru di kirinya dan kuning di kanannya padaku yang hanya melindungi diri dari pertarungan mereka.

       Aku menuruti perintah werewolf itu dan berjalan cepat menuju ruangan itu, namun pintunya tidak dapat dibuka. Orang berambut merah yang telah menyerang makhluk berwujud serigala itu menjelaskan kalau ia telah menghancurkan kunci untuk ruangan itu. Aku melihat Louvelle berpikir sejenak, lalu ia berjalan perlahan mendekatiku.


       Dengan itu, ia meninju dinding tepat di sebelah kananku dengan tangannya (atau kaki depan?) yang dipenuhi cakar. Membuat dinding itu hancur. Aku menjadi sedikit ketakutan padanya. Aku memohon-mohon agar ia tidak mencoba menyerangku kembali, namun ia sepertinya tidak mendengarkan permintaanku dan mencoba mengejarku dengan cakar dan taringnya yang tajam. Lawannya yang sebenarnya memerhatikannya dengan wajah kebingungan.

“Apa yang kau lakukan, Lou? Menakuti King seperti itu?!” Tanya Vlad sambil mencoba melindungiku darinya.

       Setelah aku menjadi semakin takut pada serigala itu, ia berbalik dan menyerang orang berambut merah acak-acakan itu. Kekuatan yang dikeluarkannya jauh lebih kuat dibandingkan dengan serangan-serangan sebelumnya.

“I-ini mustahil!!”

“Terima kasih, King Alaric,” Kata makhluk yang tadi mencoba ‘menyerangku’ itu, lalu ia berbalik untuk menyerang Vlad. “Sekarang, pergilah.”

       Aku masuk ke ruangan yang berisi sebuah lorong berwarna hitam pekat di tengahnya. Aku memandang untuk yang terakhir kalinya ke arah pertarungan di antara kedua makhluk dunia ini dan mendapati gadis itu tersenyum ke arahku, seakan mengucapkan selamat tinggal... atau mungkin sampai jumpa lagi? Sementara, lawannya terlihat hampir menyerahkan diri pada kekalahannya. Kubalas dengan anggukan kecil lalu tanpa berpikir dua kali, kakiku melompat ke dalam lorong itu. Aku hanya dapat menutup mataku sedangkan kegelapan tempat itu menyelimutiku.
   Kelopak mataku mulai terbuka secara perlahan. Yang pertama kali terlihat di depan mataku adalah langit yang ditutupi oleh awan abu-abu. Aku terbangun dalam posisi telentang di taman tempat awal diriku berpindah ke dunia aneh itu. Dengan perlahan, kugunakan tanganku untuk membantu tubuhku untuk berdiri. Kulihat jam tanganku yang berhenti selama di tempat tadi. Ternyata, tidak ada sedetik punb waktu yang kuhabiskan di dunia ini. Setelah itu, kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu karena mengingat kalau esok hari aku akan mengikuti kuis Matematika dan aku belum me-review materi yang telah kupelajari.
       Selama perjalanan menuju tempat tinggalku, aku memikirkan yang telah terjadi padaku barusan. Aku yakin, semua itu adalah nyata karena aku telah menyadari dan mengingat sedikit keberadaan dan peranku di dunia itu. Aku menyadari juga, kalau kekuatan suatu makhluk di dunia itu bergantung pada ketakutan seseorang di dunia nyata. Kuhentikan langkah kakiku karena sebuah pertanyaan dan kesadaran di kepalaku.

Kekuatan pada makhluk di sana bergantung pada ketakutan, bukan?

Mengapa aku yang berbentuk manusia biasa menjadi raja di dunia itu?


Apa yang manusia selalu takutkan adalah...

Inggriani di Negeri Ajaib Word count : 1514.  Small note : HAHAHAHAHA
Spoiler: ShowHide
Inggriani di Negeri Ajaib

Mentari senja memancarkan semburat emasnya ke ujung pepohonan dan sesemak yang menghiasi taman. Inggriani duduk bersama saudara perempuannya di bangku melingkar di ujung taman, sebuah buku dongeng yang tebal terbuka di hadapan mereka. Saudarinya itu telah terlelap, tenggelam di udara hangat penghujung musim gugur. Sedangkan Inggriani masih asik membolak-balik buku dongeng untuk melihat gambar-gambar cantik nan ajaib yang melukiskan berbagai petualangan aneh anak lelaki dan perempuan. Mereka membawa banyak buku untuk pelesir sore mereka, termasuk buku-buku pelajaran saudarinya yang tergeletak tidak tersentuh di ujung alas duduk.

Inggriani berpikir alangkah menyenangkannya jika dirinya juga mengalami petualangan yang mendebarkan.

"Aku telat, aku telat! Aku telat untuk praktikum yang amat gawat!"

Inggriani menolehkan pandangannya ke sumber suara. Seekor gajah kecil, seukuran anjing Rottweiler, berlari-lari ke arah luar taman.

Betapa anehnya, pikir Inggriani. Selain kecil, gajah itu bisa berjalan dengan dua kaki, memiliki empat kaki depan, dan mengenakan jaket biru kehijauan.
Inggriani melirik ke arah saudarinya yang masih pulas tertidur. Sempat terlintas di pikiran Inggriani untuk membangunkan saudarinya itu, tetapi dia pasti akan melarang Inggriani mengikuti sang gajah dan malah mengguruinya.

Maka Inggriani pun beranjak mengejar gajah abu-abu tersebut, meninggalkan saudarinya, taman keemasan, dan buku dongeng yang masih terbuka. Inggriani heran karena gajah yang diikutinya dapat berlari begitu cepat, hingga ia kesulitan mengikutinya. Tetapi si gajah terus berlekas tanpa sekalipun berhenti atau menengok ke belakang. Hingga akhirnya ia melompat ke dalam sebuah lubang di tanah.

Tanpa berpikir panjang, Inggriani melompat mengikutinya. Gadis itu mengira kakinya akan segera menyentuh tanah, namun nyatanya ia terus terjatuh. Di sekitar Inggriani, dinding tanah melebar hingga ia tidak bisa mencapainya bahkan jika merenggangkan kedua lengannya.
"Oh, betapa anehnya! Aku tidak pernah tahu ada liang kelinci sebesar ini.”

Lalu Inggriani berpikir bahwa ia mungkin berada di liang gajah yang memang cukup besar untuk seekor gajah dewasa. Tetapi ia pun ingat gajah tidak tinggal di liang, seperti dibacanya di buku-buku petualangan yang mengisahkan para pemburu berani yang menunggang gajah di padang rumput Afrika.
'Mungkin aku bisa menunggangi gajah kecil tadi. Oh, alangkah menyenangkannya! Semuanya pasti akan iri mendengarnya.'
Lamunan Inggriani yang biasanya dapat berlanjut hingga berjam-jam dari waktu makan pagi hingga makan siang pun terhenti juga, karena ia mulai cemas terhadap luncurannya yang seakan tidak akan terhenti ke dalam tanah, semakin dan semakin dalam. Di sekelilingnya, dinding tanah berganti menjadi dinding halus yang ditempeli beragam monitor, menara CPU, tetikus, papan ketik, dan papan tulis. Inggriani berusaha menggapai salah satu menara CPU, berharap ia dapat berpegangan dan berhenti jatuh, tetapi ia tidak bisa mengendalikan gerakannya dengan baik di udara dan akhirnya hanya meliuk tidak tentu arah.

'Oh, bagaimana jika aku terjatuh selamanya? Aku akan menjadi nenek tua berambut putih yang terus terjatuh sendirian,' benak Inggriani yang hampir menangis. Untunglah akhirnya Inggriani menapak daratan. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan bundar dengan hanya sebuah meja - yang juga bundar - tepat di pusat ruangan. Tidak ada pintu keluar dan tidak ada tanda-tanda keberadaan si gajah.

Inggriani mendekat. Di atas meja tergeletak piring yang dipenuhi kukis cantik dengan lapisan gula.

“Alangkah cantiknya!” pikir Inggriani. Gadis yang dipenuhi rasa penasaran itu mengambil salah satu kukis untuk melihatnya lebih dekat. Ternyata lapisan gula di atasnya membentuk tulisan:

SET(self.isSmall, 1)

Walau Inggriani dapat membacanya, tetapi dia tidak mengerti arti dari susunan aneh kata-kata tersebut. Namun karena kukis tersebut terlihat lezat dan perutnya terasa lapar setelah terjatuh selama berjam-jam, Inggriani tanpa pikir panjang menggigitnya. Rasanya renyah dan manis, begitu sedap.

Sekonyong-konyong, Inggriani merasakan suatu hal yang begitu ajaib terjadi: ruangan di sekitarnya membesar! Begitu pula dengan kukis yang ia pegang sampai ia terpaksa menjatuhkannya karena terlalu berat untuknya.

Tapi saat ia melihat ke bawah dan sekelilingnya, ia menyadari bukan ruangannya yang membesar -- Inggriani-lah yang mengecil!

Gadis yang malang itu kembali menangis tersedu-sedu.

‘Bagaimana jika aku terus mengecil dan menghilang? Aku tidak bisa lagi pulang ke rumah.’

Beruntungnya, Inggriani akhirnya berhenti mengecil. Ia melihat ke arah kaki meja yang menjulang tinggi di atasnya bagaikan gunung. Untuk memanjatnya pasti dibutuhkan waktu berhari-hari.

“Siapa kamu, gadis kecil?”

Inggr iani terkejut karena mendengar sapaan dari ruangan yang semestinya kosong itu. Ternyata yang berbicara adalah gagang pintu yang berada di belakang Inggriani. Ukurannya pas untuk tubuhnya yang menyusut, namun begitu kecil sehingga tidak ia sadari saat berukuran normal.
“Oh, namaku Inggriani,” sapanya saat sudah mendekati si gagang pintu yang ternyata memiliki wajah di permukaannya, “aku mengikuti seekor gajah ke sini namun aku kehilangan jejaknya.”

“Ah, dia berlari melewatiku. Kalau kamu mau mengikutinya, masuklah. Apa kamu punya sandi?”

“Sandi? Apa itu?”

“Hmm...karena kamu baru pertama kali di sini, buatlah sandi baru. Sandi adalah kata rahasia yang bisa kamu gunakan untuk melewatiku. Sebaiknya buatlah minimal 8 karakter, bisa menggunakan huruf ataupun angka.”

Inggriani memutar kepalanya. Ia mengetahui beberapa kata sulit, seperti persemakmuran dan benang sari, tetapi jika ia mengetahuinya berarti kata-kata tersebut bukanlah rahasia. Melihat Inggriani kebingungan, sang gagang pintu unjuk bicara.

‘Kalau kamu kesulitan, aku bisa membuatkan sandi untukmu.”

“Oh! Kau sungguh baik! Aku tidak pernah bertemu gagang pintu sebaik engkau! Kalau begitu, apa kata sandiku?”

“Kata sandimu adalah...mx11Yzp0TL3k7. Silakan masuk.”

“Mex-satu…apa?” Inggriani terpukau dengan kata yang baru disebutkan gagang pintu. Hanya saja, si gagang telah mengayun terbuka sehingga sisi wajahnya menghadap tembok dan tidak berhadapan dengan Inggriani.

Tidak menemui jalan lain, akhirnya ia berjalan masuk, berharap bahwa ia masih bisa mengingat sandinya jika dibutuhkan kelak.

Inggriani mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dipenuhi jajaran meja dan kursi. Di masing-masing meja terdapat dua unit komputer bersebelahan. Dan di hadapan tiap-tiap komputer terdapat mahasiswa dengan wajah yang kusut. Di meja yang terdekat dengan Inggriani, duduklah si gajah yang dikejarnya selama ini. Ia juga sedang berkutat dengan komputernya, mengetikkan baris demi baris kode pemrograman.

“Akhirnya! Apa kamu tidak telat untuk praktikummu, Tuan Gajah?”

Tapi ia tidak menjawab Inggriani, bahkan menengadahkan kepalanya pun tidak.

“Tidak ada gunanya, mereka semua sedang fokus mengerjakan soal.”
Kali ini yang berbicara adalah seorang mahasiswa dengan cengiran yang lebar dan jaket garis-garis.

“Oh! Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Siapakah kamu? Apa kamu tidak ikut praktikum?”

“Namaku tidak penting. Semua orang di sini adalah peserta praktikum. Jadi kamu bisa memanggilku Bukan Peserta Praktikum. Karena aku datang telat, maka nilai praktikumku otomatis kosong,” ucapnya.

“Betapa malangnya!”

“Tidak apa-apa, karena kadang ikut praktikum pun hasilnya juga sama. Sambil menunggu batas waktu, aku menghabiskan waktu dengan menulis puisi. Kamu mau mendengarnya?”

“Aku akan senang sekali jika bisa mendengarkannya,” jawab Inggriani dengan semangat.

Ketik ketik kode,
kodenya belum
Compile sebaris,
errornya bermunculan

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Bukan Peserta dengan ekspresi puas.

Inggriani tidak bisa menetapkan apakah ia menyukainya atau tidak. Puisinya sangat aneh dan tidak seperti puisi yang biasa dibacakan guru pengajar di sekolah. Tapi demi kesopanan, Inggriani mengangguk.

Bukan Peserta semakin berseri-seri.

“Baguslah, karena yang lain terlalu sibuk dan Madam biasanya tidak suka jika ada yang mengerjakan sesuatu selain praktikum. Ia bisa-bisa lebih marah dari biasanya.”

“Siapa Mada--”

Bahkan sebelum pertanyaannya terselesaikan, pintu ruangan terbuka (pintu yang berbeda dari arah Inggriani masuk). Seorang wanita masuk dengan langkah cepat-cepat. Rambutnya yang dipotong pendek berwarna bagai salju yang baru turun di awal musim dingin. Kacamata berbingkai kotak membingkai matanya yang memandang tajam ke sekujur ruangan. Anehnya, Inggriani merasa pernah melihat wajah wanita tersebut entah di mana.

“Waktunya 10 menit lagi!” bentaknya. Suara ketikan semakin kencang dan cepat hingga suaranya terdengar bagaikan badai.

“Dan Anda! Siapa Anda?” katanya sambil menudingkan jarinya ke arah Inggriani.

“N-Namaku Inggriani, Madam.”

“Dan NIM Anda?”

Inggriani tidak tahu apa hal yang baru saja disebutkan oleh Madam. Ia melirik ke arah Bukan Peserta tetapi sialnya ia sudah menghilang begitu saja, hanya menyisakan cengirannya yang melayang di ruangan.

“A-aku tidak ta--”

“Lama!” bentak Madam, memotong perkataan Inggriani. “Sudahlah, Anda tahu kan peraturan praktikum? Kalau sudah telat, tidak perlu masuk laboratorium! Keluar sekarang!”

Inggriani berusaha menahan air matanya. Bahkan ibu dan ayahnya sendiri tidak pernah memarahinya seperti ini. Buru-buru ia berlari ke arah pintu yang ia masuki tadi. Tangan Inggriani menggenggam gagang pintu dan berusaha memutarnya, namun sang pintu bergeming.

“Tuan Pintu! Tolong bukakan jalan! Aku tidak ingin berada di sini lagi!”

Wajah gagang pintu tersebut berkedip. Di balik punggungnya, Inggriani bisa merasakan langkah sang Madam mendekati dirinya, langkah demi langkah. Suara ketikan para mahasiswa terus dan terus bertambah laju, seiring mendekatnya batas waktu pengumpulan. Bunyinya memekakkan telinga Inggriani.


“Sandi? Aku tidak ingat!”

“Maaf, kalau begitu aku tidak bisa membukakan jalannya.”


“Kata sandi yang Anda masukkan salah.”

“Aku tidak tahu!” seru Inggriani, panik. Gadis itu bisa merasakan keberadaan Madam dan napasnya, tepat berdiri di belakangnya. Badai ketikan terus berkecamuk di dalam ruangan.

“Aaaaaah!” dengan gusar, Inggriani menabrakkan dirinya ke arah Madam.

Madam terjatuh, seringan kertas.

Para mahasiswa, juga sang gajah, terjatuh.

Dinding laboratorium komputer pun terjatuh.

Inggriani akhirnya terjatuh. Dalam dan semakin dalam.

Wajahnya tersungkur ke dalam halaman buku.

“Inggriani! Kamu tertidur lagi?” kata saudarinya yang dengan sigap menjauhkan adiknya dari buku yang ia tiduri.

“Ah, kakak?” sahut Inggriani setengah sadar. Ia baru menyadari ia begitu mengantuk. Ia mengusap matanya dengan sebelah tangan.

“Apa kamu bermimpi?” tanya saudarinya yang lebih tua tersebut.

Inggriani melihat ke arah buku yang menjadi alas kepalanya - ‘Diktat Struktur Data, oleh I. Liem’. Pantas saja Inggriani bermimpi buruk!

“Iya, dan untunglah itu hanya mimpi!”

The Storyteller's Tale Word count : 2758
Spoiler: ShowHide
Man of the sand would never forget.

Everyone knew, and the Sandpeople prided themselves on their long sprawling history, passed from one generation to the next in a long mesmerizing chain. They would let this information be known to every passing merchants and travelers. Nothing would get past a Sandpeople.

But it was different for Awa.

Memory did not come naturally for Awa. She could not perfectly recite what she heard at the school, could not relay her neighbor's message to the T. Ever since she was old enough to attend the Story Circle, Awa had known that her place was not in the village. She returned home in tears, in his father's embrace, as she was made shameful for her failure in relating the Tale of Shaz'naar the Warrior.

But Awa loved her father. Apa would bounce her on his lap every night, telling her stories of everything under the stars and beyond, but unlike the teachers and the women, he did not expect her to memorize everything for him. And so, Awa grew to both love and hate stories. Ama was not entirely approving of her husband doting on their daughter and encouraging her weird behavior, but she let him anyway, sighing as she crouched over clay pots and wooden weavers.

When the other children in the village went to school diligently day after day, apprenticing under various Guardians of History, Awa contented herself in listening outside the schoolroom, for there was no place inside for someone who could not remember. The women tried to take her in to start weaving early, but she still had the clumsiness of a child and the women did not like her fumbling over her patterns. Just as their stories, their patterns were most sacred and ruining them would be blasphemous.

Rejected by every sphere of society, Awa took to playing alone by the oasis, drawing figures on the sand with a stray branch washed to the lands.
Good days never lasted long, and in the dry season of her twelfth year,  Awa's father was gone from the world.

As the only child in the family, it fell to Awa to carry the Chant for the Dead.

She tried her best.

"In the name of the sun most blessed, and the spirits of utmost holiness, we pray for our beloved father, a warrior of might..."

What was the next line? It was a word of praise. Bravery? Courage? Which one was it?
People began to murmur, and soon Awa was drowned in whispers. Her mother paced worriedly behind her, but Awa could no longer think straight.

"At this rate, what will you remember? You will soon forget your father as well."

Awa felt her heart plummet and crash at the Elder's words, and tears started to trickle down her face. The ritual beads sat forgotten by the sacrificial table. Awa never did get to finish her chant. Her little feet stormed out of the burial grounds, out of the village, far far away before she could register the chaos left in her wake.

She knelt by the oasis, looking at the reflection of her own face on the rippled water. She did not want to forget.
It was her father who told her he loved her the most in the world. Her father who'd protected her from all the Elder's wrath, who'd let her scour the sand dunes completing her maps instead of spending time in the schoolroom, being ridiculed for all the names and tales she couldn't memorize.
She did not want to forget, and she wouldn't.
The men carried her back and when Awa was finally awake, she heard faint muffled sobs she immediately recognized as her mother's. Her mother stopped crying as soon as she saw Awa stirring, taking her in for a hug. Awa, in her sleep-addled delirium, whispered only five words to her mother's ears before her exhaustion took her away again. "I won't forget him, Ma."

Without her father, the village elders tried to return Awa to school, but their avail was fruitless. Each and every Guardians, upon testing her, deemed her unfit. Her mother was the talk of the village, an unfortunate widow whose daughter is nothing more but a burden.

Awa returned to her lonely corner in the village, waiting for her mother to come home from the market.
She cooked and tended to their fields, glancing at the sky longingly every once in a while. In the evening, when she had done her works, she would leave for the oasis, back to her drawings in the sand.
The schoolchildren passed her by everyday, singing songs of heroes of yore as they went along. The women dyed and dried their weavings, the bright colors flaring under the angry sun.

Life blurred quickly and it was as if everything melted as one. Schoolchildren singing odes. Vivid geometric patterns of the weavings. Her drawings.
One day they all dawned together.
Finally, it hit her. How if she could make a symbol for every sound? That way, she would be able to represent every word in her drawings, and if she was in any need to recall any of them, she would only need to look. She set out to pick the sounds she most often hear in their language and choose the corresponding symbols. She would use simple images of things whose names start with the sound she wanted to convey. Feverish in this thought, Awa did not return until very late in the night. Finally, finally, she had something of her own callings.

She found a charcoal stub near the schoolhouse on her way back, and she proudly dabbed it to her hand, forming three rough outlines.
That night, Awa traced the symbols she'd drawn on the back of her hand again and again, imagining the arrows straight and strong hailing from the bow of a man healthy and sturdy. arrya and walasye--Arrow and man. The two symbols spoke the sound Awa loved the most in the world. "AWA," her name, exactly the way her father had pronounced it. She'd slept more soundly than any day since her father passed away, now safe in the knowledge that she had something that was wholly hers and wouldn't be taken away by anything, including time. She would never forget anything ever again.
"Ama, teach me how to embroider."
This small request that would have been normal in any other huts in the village was met with a stunned surprise. Awa's mother had long resigned that her daughter, bright little child she might be, was an oddity only her doting husband tolerated. She had discarded the idea of having the usual maternal bonding over the fireplace arts, content with a girl skilled in cooking and cleaning, if nothing else. That would have been enough to win Awa a husband, if there was anyone so willing to take in her unusual predilection.

She humored her daughter's request, thinking that Awa would soon stop like it had been when she was instructed in the classroom with the other village girls. However, Awa kept at it for days and weeks until she was producing fabric they would deem decent. Awa still went out pondering by the oasis from time to time, but otherwise she would spend all her time in the hut embroidering. Her mother heard nothing more of Awa's usual chatters about her sand drawings. Instead, Awa asked her mother to tell the tale of the heroics as she spun the spools. Before long, her shoddy handiworks had transformed into something adequate for daily use. Her mother couldn't put a finger on Awa's sudden drive in her toils, but secretly reveled in a semblance of normalcy she'd craved for years. She thanked the Grand Spirits, for her prayers were granted at last.

The news of this new incarnation of little Awa made its rounds in the bustling market week, then to the schoolroom and to the huts of the elders. While the initial reaction was skeptical surprise, it was in turn become a sort of communal joy, because surely the girl had come to her senses, gracious Grand Spirits.

Awa had a grand plan.

Once she had mastery over the basic craft, she asked her mother permission to use the remaining threads to make her own embroidery. Her mother, thinking that Awa would like to learn patterns other than her signature 'clouds over sand dunes', readily agreed. But Awa's embroidery was unlike any other embroidery. She kept her little project out of her mother's sight, dutifully reporting vague progress over dinner without ever really telling what she was making. Little by little, her tales took shape. When she finished, she went to the Council of Elders for a request more preposterous. She offered to take part in the Story Circle, something she'd spent the better part of ten years avoiding.

Following that night was an unanimous vote that she'd deserved a second chance especially after leading a life so reformed, so at the next Story Circle the villagers were treated with the sight of Awa, proudly standing amongst the Storytellers with an embroidered shawl of her own design. The girls and their mothers started to whisper, oh poor woman, for Awa's mother seemed to have thought of the kid a little too highly. Awa couldn't manage proper patterns after all, as the shawl she was wearing was decorated with uneven stitches and assemblage of random figures. Awa's mother, anxiously waiting behind the crowds, was beginning to think that perhaps it was too early for Awa to return to the society. But the Elders were not so shallow to discount Awa's transformation on account of a small clothing mishap, so they encouraged her to go on.

Awa leapt to the stage, and enchanted the hearts of everyone.

Gone was Awa the forgetful, stuttering over her lines and phrases. She swept the stage in grand gestures and exaggerated voice, bringing every part of the story alive.
A swish of the shawl, a slow dance. There came the fabled bird of paradise.
She rested the shawl on the ground and pretended to meditate, her eyes focusing on an imaginary point amidst her embroidered figures. It was the hunter, ready to pounce.
There was A'Tua the heretic and how he was banished to the mortal realm, destined to disappear at the end of dawn.
She threw the shawl into the air, letting it fall like the first snow in winter.
The second coming of the Grand Spirits, bestowing blessings to men and beasts alike.

Awa ended her performance with a gracious smile, and the crowd erupted.
Blessings of the spirits!
What had happened to this child, greatly troubling many minds but a year ago?

The crowd accepted Awa's progress greedily, and so Awa was initiated into the Story Circle, where she became a regular fixture for months to come.
She never failed to dazzle, but a curious observation would soon emerge. In the days before the Story Circle, Awa would embroider day and night for a new shawl, each as intelligible as ones before, but always different. One of the girls had seen her needlework -- the haphazard non-pattern was purposeful. A middle-aged neighbor got close enough to recall that these squiggles were in fact the same symbols Awa'd drawn on the sand before. She could make out a few. The water jug, the moon, the star, the arrow, and the man.

At first these were harmless talks amongst the women doing their laundry, a snippet among the story of Elder Elim's youngest son's marriage, Alyan's disapproval of his daughter's affair with a foreign merchant from over the desert, and the price of bread nearing the end of the year.
"Was it possible that little Awa had employed a sort of magic to imbue herself the eloquence and strength of memory she was so deprived of?" said one maiden to the laugh of the others.
"Oh, what witch she would be, barely out of her mother's weaning!" scoffed her friend.
Yet the gossip, as gossip so often did, gained a more sinister turn at every bend, and soon Awa's mother was worried of her daughter's safety. One day, when Awa came home from one of her lessons, her mother set her aside.

"Tell me, my dearest Awa, what had come upon you? Convey upon me the works of the spirits, may they all be true."
Awa, unaware of the wicked fabrication, took out her shawls and spread them like a rug so the entirety of its surface could be seen.

"I made it, Ama, so I would not forget," she excitedly exclaimed, guiding her mother's worried gaze to her rows of symbols.
She pointed at the leftmost part. "This is the arrow -- a, arrya."
Then beside it,"a drop of water -- ka, kapa."
Awa's mother could barely make a humanlike figure as the next in line, which Awa explained as,"the dance -- ta, tanta."
Awa returned to the first symbol, looking at her mother whose eyes were filled with a mixture of dread and astonishment.
"Together they make 'akata. A story."

"So the women spoke of truth? It was an incantation? Did you make a pact with the witch of the desert?"

Now Awa was more confused than all else, but realization soon flooded into her mind and she rushed to calm her mother.
"No, no, no! Ama, they're all mine! I know no witch, and I had met no one. The symbols are all mine, I make them so I don't lose my stories. It's just like the patterns you make."
Awa's mother tried to grasp this. Was the pattern not, in some ways, stories in itself?
There was pattern for good harvest.
There was pattern for ease in childbirth.
They wove prayers into their patterns, each containing a world of history to its inception.

But no. It had never been used this way before.

Awa's mother became deathly afraid, for if an evil witch really had taken hold of her daughter, surely it would try to talking her senses, deluding her of judgment?
She resolved to take Awa to the healers, getting them to look at possible possession. The Council of Elders was to be notified.

Awa struggled against her mother when she was told what was to happen.
The elders were enraged.
No sacriledge of higher order had ever been done.

"We have thousand of years behind us. The stories are to be passed down fathers to sons, mothers to daughters. What infernal device has been brought upon us? We would risk the wrath of the spirits!"
Awa kicked, screamed, cried at her captors. The healers deemed her possession way too strong, and there was nothing they could have done to free her of the witch's curse.

They brought Awa to the stake in the holy ground, ignoring her mother's desperate plea that her child be saved.
Awa did not wish to forget or be forgotten, but then she looked into her mother's eyes and asked the Grand Spirits that perhaps it was alright to spare her mother's memory just this one time.

Man of the sand would never forget.
Legend had said that when the torch met the wood that day and fire danced to the sky, a blast of light came down to take her soul to the heaven. Ashes and embers were scattered in the form Awa drew onto her hand many moons ago, the flame refusing to go out even after there was nothing left to burn in the ground. The villagers instantly knew what mistake they had made. Incurred the wrath of the spirits they had. With grave and heavy heart, they set out at once to soothe the Grand Spirit. Meanwhile, Awa's body was never found. The Grand Spirit placed her among the stars, which she arranged into symbols she'd once drawn on the sand. She heard prayers of her people and wrote them across the heavens, becoming the keeper of memories past and future. When she ran out of space, the night would be lit up by falling stars. She would come to listen to the Story Circles, as the cluster of stars resembling arrow and man would shine the brightest in those nights.

Warriors took after little Awa, painting their names on their hands before big battles so they would never lose sight of who they were, and the girls embroidered their stories so they would forever
to memory.
« Last Edit: March 02, 2019, 11:25:58 PM by requiem »

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #3 on: January 04, 2019, 01:59:58 AM »
Post ini adalah bagian keempat. dari 4

False Happiness Word count : 7226
Spoiler: ShowHide

False Happiness
[Like a bird trapped in a cage,
so was I, trapped in happiness.]

“Heeeyy, Leo!! Where are you?”

A voice echoed and reached my ears, waking me up from my doze. I opened my eyes and sit on the ground where I laid before, still half asleep. From afar, I saw a small figure ran towards me hurriedly.

“There you are! How dare you doze off when you’ve not done working!”

The figure stopped in front of me. It’s a small girl, with auburn, long hair flowing on her back, and her eyes with the same colour sharply gazed at me. She wears a brown long dress that looks new, with an apron covering its front.

“Hey, nice outfit you got there, Lea.”

“Thank you, aunt sew it for m- That’s not it! Hurry up and return to the ranch at once, you dummy!”

The girl pulled my hand and forced me to stand up, then dragged me across the meadow where we are. In our way to the ranch, she scolded me a few times about how I am lazy and prefer to sleep rather than to work. Since I was still sleepy I didn’t really catch up to all the things she said though. After a while walking, we arrived at a small ranch and saw a pair of a man and woman that were attending some sheep.

“Auntie, Uncle, I brought Leo with me!” Lea shouted at them. The woman who was my mother turned around and smiled.

“Good job finding him, Lea! Now you can go to rest,” Mother answered. Lea shook her head.

“No, I won’t. I will help Uncle with his work. Instead, you are the one who should go to rest, Auntie. You have done so much work today.”

Before Mother could give any response, Lea had let go of my hand and approached the man, my Father. She spoke to him a few words, then replaced Mother’s position to attend the sheep. I could hear Mother’s sigh as she walked towards me.

“That kid is a hard worker, huh,” Mother chatted to me. “That’s very good, but I’m afraid she might push herself too hard to help us.”

“In behalf of her I’m sorry for the trouble she has given to you, Leo,” she continued. “I mean, I’m the one who has urged you and Father to bring her here, so you can say that I’m also responsible of her actions.”

Yes, Mother is the one who pushed us to bring her to our family. Lea was an orphan that lost her parents not too long ago because of a tragic accident; brutally murdered in a robbery. Lea herself was safe because she spent the night in her friend’s house on the night of the robbery. But, after the accident, she didn’t have anyone to take care of her, and as a relative Mother thought that she had a responsibility to do it despite not being too close to her family. She brought Lea to our house suddenly and urged me and my Father to count her as a member of our family, and we have no other choice but to accept her.

In the first few days we thought her ways to live and things that we have to do in a ranch. We thought her how to take care of animals, farm, interact with merchants, and all other necessary things. The good thing was she’s a fast learner so she could do all the things that we have thought her just in a few weeks, and even did a better work than me. She’s also a quick adapter so she can adapt to a rural lifestyle fast despite the fact that she has only lived in big cities before. The only strange thing from her was that she seemed unaffected by the death of her parents though, and was so energetic even from the very first day she arrived here.

“It’s alright, Mom. We got another extra hand to help around the farm and that’s a good thing,” I replied. Mom smiled at me again and went to my house, a small building not far from the ranch. I approached my father to ask him if there was any work that I can do.


The day ended fast, and after all of my activities were done I went to my bedroom to sleep. It was already 1 am in the morning and my head felt a little heavy because it’s very late compared to when I usually slept. As soon as my head hit the pillow and started to doze off, I heard a familiar thud sound from the main door closing. I startled, wondering who has just closed the door. Because I know that my parents were heavy sleeper it couldn’t be them. Was it a person from outside coming in or a person from the inside going out?

I build up my courage and went downstairs. For safety measures of the worst possible case, I brought a broom with me. I slowly walked down on the corridors and checked all the possible hiding places, finding no one. I also checked my parents’ room and saw that they were both fast asleep. I sighed in relief and checked the front door, finding it unlocked. That meant only one person could possibly open the door: Lea.

I opened the door slowly so I wouldn’t wake my parents up and went outside. After a few meters walking, I saw a figure sitting on the meadow, gazing to the moon.

“Mornin’, Lea.”

The figure turned her head towards me. “Morning, Leo.”

I sat beside Lea and gazed to the moon. It was not beautiful, with only half of it appearing. But, the stars that surrounded it looked brighter than usual; maybe because it was darker around this time rather than the usual period I looked at them.

“It’s not like usual that you still woke up this late,” Lea said. I nodded in agreement.

“I was this close to sleep but was suddenly thrown wide awake thanks to the sound of a door closing, thank you.”

Lea chuckled. “Was it loud? I’m sorry. Every time I did it no one woke up so I think it was alright if I did it loudly.”

We spent the next few minutes in silence, enjoying the scenery in front of us. Seeing it, I didn’t have to ask her the reason why she sneaked up from home at this period of time, maybe almost every day. But the night wind felt so cold and pierced my skin. No wonder Lea wore a thick sweater and scarf. Maybe because I sneezed, she wore off her scarf and put it on me.

After another couple of minutes in silence, I dared myself to ask a question to her.

“Lea, how did you really fell when you found out that your parents are dead?”

At that exact moment I felt like I want to punch myself. That question seemed so insensitive and out of nowhere, and I asked it to a girl who has experienced the loss of her parents not too long ago. I was prepared to be scolded or slapped but nothing happened. I thought she was crying or something like that, but when I looked at her she didn’t show any expression on her face, and continued to gaze at the moon.

“Hm, that’s a surprising question coming from you. What made you want to know about it?”

I was a little surprised when I heard her answer. Her voice is like usual with no sign of sadness whatsoever. Not only her voice, but her face and gestures, too.

“I’m just curious, because you seemed unaffected by their death.”

She fell into silence for a few seconds and answered. “You dummy. Of course I am affected by it. Even until now, I still feel so lonely and sad when I thought about them,” she answered. I finally heard a slight tremble in her voice.

“But I can’t stop living normally just because of their death. I need to move on and do my best in life, in a way they want me to do. I will live up to their expectation, even more,” she continued and was silent for a few seconds.

“You know, I think my parents know that our house will be robbed at that night and that they will be killed.”

I jumped in surprise. Seeing my reaction, she laughed and continued her story.

“They intentionally sent me off to spend the night in my friend’s house. Even what they said to me was so much like the last words of someone dying. They told me to keep finding happiness in life. To strive for happiness, and in the end to live in happiness.”

“But I don’t want to live like what they have told me. I don’t want to live selfishly only for my own happiness. I want that happiness to manifest in other people’s lives. I want to create that happiness, to be the source of happiness.”

“I don’t really need happiness in my life, because I am happy when others are happy. That’s why I worked so hard to actualize happiness in other’s lives, like when I helped Uncle, Auntie, and you. I also tried hard to lead people to achieve their own happiness by making them do the right thing, like what I usually did to you when I lead you to work. I live simply for the sake of another person’s happiness, and that’s the reason why I sealed off my emotions and think purely about others, helping them to achieve their happiness. I do all of them in order to reach my own happiness.”

“What I’ve done in life, every single thing, is for me to reach my own happiness. Because of that I tried not to think about my parents, and tried my best not to feel anything about their deaths. Maybe this seems so selfish, but I did it to fulfil my parents’ last wish, too.”

I was stoned. Never have I heard Lea talk about herself this much, nor about her feelings like this before. It has never crossed my mind that she was this obsessed with happiness, and about how she truly felt about her parents’ death like this. I thought that she was just hiding her own feelings with a mask or something, but the truth is a lot more…hapless.

“…Do you plan to continue manifesting happiness in other people’s lives forever?” I asked, still dumbfounded by her long response to my question before. She nodded with a sure face. Then, she sighed and her expression softened.

“Don’t be so serious. I’m sorry for blabbering all of a sudden. It’s just that your question was so out of nowhere so I need to give an answer out of nowhere too, no?” she chuckled. I couldn’t go along and chuckle with her.

“Well, that’s my answer, no matter how you want to accept it or not,” Lea said as she stood up. “I’m going back first, make sure not to stay too long or you’ll get sick!”

Lea walked away and left me alone. I still sit on the ground, gazing at the stars. After a few minutes, I slowly stood up and walked back to my house and to my bedroom.

‘She was trapped in the cage called happiness. Poor her.’

[Finding a strange something in a strange place,
Is this really the key for happiness?]

A few days later, Father woke me and Lea up very early in the morning.

“Leo, Lea, wake up! We’re goin’ to town today, remember?”

Yeah, once in a while Father, Lea and me will go to town to sell our livestock products. Like usual, Lea got up immediately and prepared herself quickly, while I was still drowsy and took a long time in the bathroom. When she was ready to go I hadn’t even touched my breakfast. By the time I was done with my preparations all of the items that we want to sell had been loaded into the cart.

“You were so slow, Leo! Better be faster next time, or else!” Lea scolded me. I sighed and hopped in the cart without replying her. Lea also went in and Father took the wheel. After saying goodbye to Mother we departed to the nearby town.

We spent the trip in silence, maybe because Lea knew I was still sleepy and she wanted to let me sleep. But I couldn’t do it. For the past few days I had trouble in sleeping. It happened since I heard Lea’s story, maybe because I thought about it every day too hard. Unbeknownst to me, when my thoughts wandered off I finally fell asleep halfway through the trip.

The next time I opened my eyes, I realized that most of our items had been unloaded. Lea was sitting in front of me, staring at me intensely. I was startled and puzzled of her actions.

“Why are you staring at me like that? It’s scary.”

Lea smiled softly. “No. It’s just that your sleeping face is so cute.”

I was taken aback and blushed. Maybe Lea noticed how embarrassing the words that she just said to me so she was also taken aback and blushed. We spent the next few seconds in utter silence.

“A….Anyway! You were fast asleep before so I didn’t want to wake you up when we arrived in the first few stores, but because of that you missed a lot of work. So in the next store it’s your turn to unload all of the remaining items, including my share, okay?! Hmph!!” Lea shouted at me. When the cart stopped temporarily she went out and probably went to the front where she sit beside Father, leaving me dumbfounded.

Some minutes passed, and the cart finally stopped at the last store. I unloaded all of the remaining items from the back of the cart. The store owner paid my Father some amount of money and we continued our trip in the town. Because it was still noon, Father told me and Lea to explore the town. He also gave us some money for each of us to spend freely.

“Going to spend all your money in that bookstore again?” I asked Lea, who was walking beside me. Every time we had the chance to explore the town and given money, she always went to a particular old bookstore and spent her money there to buy books.
“Yes. I have already finished reading all of the books that I had bought so I need to buy a new one,” she replied. I think the fact that she has finished reading all of her books was amazing, considering that almost all books that she has bought is for adults and used difficult words.

“I’ll go with you today. Can I?” I myself haven’t ever gone to that bookstore before. The only thing that I knew was that the bookstore was not like a common bookstore that sold common books, but sold unique, out of ordinary books. Or maybe it was just that Lea only bought any strange books that she could find there.

“That’s seldom of you to be interested in books. You can go with me though. Follow me.”

Lea leaded me to the bookstore. It was hidden in a small, quiet alleyway. The bookstore itself was big and had a strange aura in it. But, when we went in, the scary image and dark aura disappeared and was replaced with a warm atmosphere instead. The store clerk who stood in the counter beside the door bowed to us.

“Welcome, little Lea! It has been a long time since I last saw you. It’s not often for you to bring someone along with you, though. Who is it, your boyfriend?” the clerk greeted. A blush rose in Lea’s face.

“N...No!! What are you thinking?! He’s just a relative; nothing more, nothing less!” Lea replied furiously. She dashed into the store without saying another word and went to browse the various sections in it. I bowed back to the store clerk and followed Lea. When I found her in the botany section, she chased me off and told me to go browse the store by myself. It seemed that she was seriously reading an old book in her hand, and because I don’t want to disturb her I followed her command.

The store’s cupboards were filled with books with titles that I haven’t heard before. I picked up a book, then another, and another one. All of them looked old with brown papers, but they were all in good conditions. I went to a section called ‘Farming Materials,’ and browsed the books there. I picked up a book with the title ‘How to Chop’ that was still sealed. It’s quite odd to find a normal book amongst the abnormal one in an abnormal store though…

‘Huh, this book seems interesting. Maybe if worse become worst and we had to kill our livestock for food this book will be handy… I’ll buy it,’ I thought to myself. I went to the store clerk to pay and at the same time Lea too.

“What are you buying, Lea?” I asked. She showed the book in her hand. It’s a thick, green covered bool titled ‘Plant of Happiness’. I was surprised by the existence of such a book, how could she find such a suitable book for her, and was curious of its content. Before I can make any comment about her book, she took a look at mine in my hand.

“That book… That’s bold of you to buy it,” she commented. She directly proceeded to the counter before I replied anything. I was confused by her comment, but instead of asking anything I followed her to the counter. We paid for the bill, and to my surprise her book is so expensive. Maybe that’s why she only bought one instead of some books like what she usually did. In comparison, my book was cheap, and I still had some money to spare. After getting out from the store, I bought some snack for both of us and went back to the cart where Father was waiting for us.

In our way back to the ranch, I took my time to read the book that I just bought.

“!!! What the hell…What the hell is this book?!” I screamed, loud enough to wake Lea up in the middle of her doze.

The book was a pure mess. Like what was written in the title, it showed step by step accompanied by detailed illustrations of how to chop meat... But not livestock’s! Not cows’, not sheep’s, not pigs’, not any of them! It’s HUMAN’S! It’s step by step of how to chop a damn human meat effectively!!!

“Ah, that book? That’s why I told you that it’s bold for you to buy it,” Lea reacted.

“If you have already known about the content of the book before I pay for it then why didn’t you tell me?!” I shouted at her. The girl smirked at me.

“You didn’t ask. And here I thought that you really intended to buy that book, like a secret psycho or something like that,” she answered, a smug expression rose in her face. I growled and closed the book, then threw it aside. Because I bought it with real money, it was such a waste to throw it for real, but I really didn’t need it. I didn’t even want to continue reading it anymore!

Lea picked up the book. “Well, if you don’t want to read it then I will,” she said while opening the book. For a moment she was really focused at reading the book, page by page. Heck, just reading the first few pages had already given me nausea, especially because of the graphics. So how could she read it with a straight face without a slight change of expression?!

“…Hm, this is interesting. Let me borrow it for the time being so I could read it at home. I become a little dizzy if I read a book while moving like this,” she muttered.
“Do it as you wish,” I answered. Seriously, I didn’t have any use to that book, so maybe it was better if she kept it forever!

After that, our conversation was over. We spent the rest of the trip in silence, especially because Lea fell asleep. I wanted to sleep too, but maybe because I had already slept in the way to the town I couldn’t do it. I searched around to find something to do. Because reading the ‘How to Chop’ book was out of the choice, my remaining option was to read Lea’s book, ‘Plant of Happiness.’ Luckily it was already unsealed and out of Lea’s reach, so I won’t disturb her sleep nor will she know that I had read it before her.

I picked the thick book and flipped the pages. They were brown coloured, like common old books, with a few words written in it accompanied with strange illustrations. The words are written in foreign language… except it was not a language. No matter how I saw it, it was a code. A complex one that looked like it needed to be deciphered several times.

‘What the heck? I don’t understand anything written here! What was the point of her buying this book?’ I thought to myself. I closed the book and put it back to where it was. There was no point for me to read a book that I don’t understand. I huffed and closed my eyes, then went to sleep.

[Chasing for false happiness,
All alone,

Days passed and we carried out our activities as usual… except not. After we went to the town, there was a change of Lea’s behaviour. Usually, after work, she helped Mother with cooking or Father with farm works, but now she went straight to her room and spent her time there. Even sometimes she forgot to eat, so we had to come to her room and call her. There was also a day where she didn’t have any work to do so she spent the whole day in her room, without going out even once.

Mother and Father were a bit worried with her change of nature, but because she still kept a good work in the ranch they didn’t really pay attention to it. The only one that was really worried was me. I have only known Lea since the first day she came here, but even by that I already understood her proper behaviour and nature. Seeing her acting like this was very strange for me, and truthfully I was a little worried. And since her behaviour changed after we went to the town, did it have anything to do with the books we bought?

I shuddered, thinking back about the books that we bought, specially the one I bought. The ‘How to Chop’ book, complete with illustrations and detailed steps… Was something as petty as that the one that changed her behaviour? Maybe, just maybe, did it change her or woke something dark inside her up, like one that usually happened in cartoons?

I chased away the strange thoughts that kept popping one after another. ‘I’m going to ask her,’ I thought. I made up my mind and build up the courage to ask her directly about her change of behaviour.

“Lea, say, what made you stay in your room every day right after your works are done  now instead of helping with other works like what you usually do before?” I asked to Lea. She had just done attending the sheep, and after hearing my question a surprised expression rose in her face.

“…You really do ask the strangest question, Leo. First at that night, and now this?” she chuckled. “If you really want to know, come to my room after you’ve done eating dinner.”

Doing exactly as she told me, after dinner I went straight to her room. Tonight, she took her dinner to eat it in her room, so I haven’t met her after the earlier conversation. In front of her room’s door I was frozen. What if she became a homicidal maniac because of that particular book that I bought? Would she use me as a ‘practice round’? If that happened, what would happen to me and my parents after this?

Again, I chased away the strange thoughts and knocked on the door in front of me. After a few seconds of silence, the door opened, showing the figure of Lea.

“Welcome. Go in.”

I went into the room awkwardly. After all, it was a girl’s room! A boy coming to a girl’s room was not normal, right? Like an invasion of privacy… or worse! Something that shouldn’t be mentioned here!!

Anyway, I finally gathered up my thoughts and focused my sight around the room. It was nowhere like a normal girl’s room. In fact it was so close to mine, with only a single bed and limited furniture. The only thing different was a corkboard on one of the wall, a cupboard full of thick and old books, piles and piles of papers on the sides of the desk, another set of papers scattered on the floor, and some books with various sizes opened on the desk, including the ‘Plant of Happiness’ book.

“Seeing this mess, maybe you have understood what I have done in the past few days,” Lea spoke. “I’ve been deciphering the book. Luckily I made a progress, even though it’s slow.”

I was quite surprised. Never have I thought about that possibility before. Did I really only think about negative things if it involved Lea?!

“O..ooh, I thought that you were doing something strange or anything like that, ehee…”, I said nervously. Probably what Lea was thinking right now is like, ‘Just what the heck are you thinking about’ or something like that. I looked at her, expecting an annoyed face, but instead I saw her normal, serious face instead.

Lea sat on the chair in front of her desk and picked up her pen, then focused her attention at the books in front of her. “If you’re already satisfied, please get out of my room. I need some silence or else I can’t concentrate. Oh, also please take out and wash that plate over there. Think of it as a payment for getting into my room,” she said while pointing her finger to a plate that lied on the floor nearby.

“Hey, no! I’m not done asking questions!” I answered her with a loud voice. Her expression changed into one that seemed so annoyed. She glared at me and turned her body and faced me.

“So? What do you want to ask? Isn’t the reason of my change of behaviour already obvious for you? Are you that dumb that you don’t understand what I’m saying or doing? What are your remaining questions? Tell me, quick. I don’t have that much time to spare just for this useless conversation. My time is limited,” Lea answered, this time with a much more annoyed voice than what I have ever heard as long as I knew her. As I thought, her behaviour was really strange. She often scolded me or became mad at me, but she had never been rude to me.

“What’s the purpose of you acting like this? Like, getting all annoyed, shutting yourself in a room, was it all just to decipher some stupid book? That’s unreasonable!” I yelled at her. She seems startled for a bit, but calmed down. Her expression softened and changed to her usual serious one.

“I’m sorry for my behaviour earlier. You see, I’m being chased by time. If I don’t finish my analysis as immediately as possible, people’s happiness are at risk.”
It was my turn to get annoyed. People’s happiness? She still talked about that nonsense right now?

“What is the connection between people’s happiness to your change of behaviour?” I asked with the calmest voice possible. There was still a trace of angriness in my voice though.

“...I have deciphered some of the early chapters of this book,” she said, touching the ‘Plant of Happiness’ book with her fingers. “Let me tell you about what I have found out in this few days. This will be quite long, so please take a seat.”

I sat on her bed after she allowed me to. Then, she picked up some of the topmost papers from the piles beside her desk, and began her explanation.

“So, according to this book, a long time ago, people didn’t experience happiness. Unhappiness circulated around the world, out of control. Unhappiness brought wickedness, and wickedness brought calamity. So the calamity would come to an end, the almighty God thought that unhappiness must be eradicated. So, God decided to create a tool that can bring happiness to ones who wield it: a plant of happiness.”

“This plant took the shape of a white flower, and could withstand any kind of weather. Anyone who kept the plant in their house or residence will be given happiness in their life as long as the flower bloomed. Other than that, with proper treatment, it could bloom forever and be inherited to the wielder’s offspring. Such an awesome thing was given to every household and the world was in peace… for a short time.”

“Even though unhappiness had disappeared from human’s heart, malice still remained. They thought, if they possessed more than one plant, their life would be more and more happy and prosperous. That was why, people fought and killed each other just to seize more plant of happiness into their hands. The plant, which was supposed to bring happiness and peace into the world, brought back a bigger calamity than before instead.”

“The almighty God was furious as well as sad, and decided to wither all plant of happiness. Strangely, even though the plant had withered, the remaining living people still felt happiness. They lived in happiness until the end of their life, and their happiness was inherited and divided equally to their children. That’s why, happiness still exists in the world until now. But, it is in a fixed amount, and that’s the reason why not all people can experience happiness in the same time.”

“In this book, there is a very detailed description of the plant of happiness, including its anatomy, possible places to find it, and other information. There are also people’s testimony about finding the plant, and also verses from both history and religious book that mentioned a plant similar to the description of the Plant of Happiness. The fact that this book was written in such complex code is proof that the information contained here is confidential and is dangerous to be published. Looking at these, there’s no doubt that the Plant of Happiness is real.”

“My point is, if I could find or somehow create the plant of happiness, then the amount of happiness in this world will increase, right?” she asked.


“And if I could somehow duplicate the plant and give it to everyone in the world, as much as they wanted, then the whole world will be filled with-, no, drowning in happiness, right?”


“If somehow, I could give that much happiness in other people’s lives, then I will be tremendously happy, right? Then that will fulfil my parents’ wi-“


Lea stopped talking. She seemed quite surprised because I suddenly shouted. But I don’t care. I just wanted her to stop talking, and to stop all of the nonsense that she had just muttered.

“Lea! Clear up your mind! It’s just fiction! That book, the things that you have just explained, they’re all not facts! They’re unreal!”

“Are you this obsessed with happiness, that if someone gave you some utter bullshit and said that ‘it can cause happiness’, you will believe in it? Will you believe it if I say that, ‘if you kill a baby elephant at 11 o’clock tomorrow, everyone around you will be guaranteed happiness’? Get your mind straight, Lea!!”

“That book is nonsense! That story you just said is nonsense! A plant that brings happiness? It didn’t exist, doesn’t exist, and will not exist!!”

I knew that I made the wrong move. I knew that I said the wrong words. But, I didn’t regret it. As soon as my words reached her ears, she hung her head. Her expression didn’t change, but I knew that her heart has shattered because of my words.

“…Please get out,” Lea muttered. I stood up and got out of the room, banging the door loudly. With loud steps, I went to my room. Mother scolded me because of them, but I didn’t care. I went into my room, banged my door loudly, and threw myself to the bed.

‘I hope that it made her realize that all she was chasing are false happiness… and what does true happiness meant,’ my mind wandered off and I fell to sleep.

[Does a farewell
contain happiness?]


After my conversation with Lea in her room, I went to sleep. In the next day, the day after it and for the next few days, all things happened like usual. No change in Lea’s behaviour. She still stayed in her room for the rest of the day after her work was done, even longer than before.

She also started to avoid me. If Mother or Father asked her to search for me, she did my work instead. It was lucky for me because I didn’t have to do any work… but it was like she pretended that I wasn’t there. She pretended that I didn’t exist at all. If I tried to block her way, she would try to avoid me, but still wouldn’t say any words. It was like I was an invincible wall to her.

‘I think I must say sorry to her…’ I thought to myself after a few days being avoided by Lea. I meant, I was the one at fault here. I have hurt her. For her, happiness is something that she must achieve in life. It’s the last will of her parents, after all. And if I remembered correctly, she said that achieving happiness for other people is her reason to live, wasn’t it? Well, her obsessiveness for happiness was not right though, so maybe I would thought her about it when the time comes.

I thought just saying sorry was not enough to get her forgiveness, so I decided to give a ‘sorry present’ instead. I picked a rock from the meadow, coloured it to gold and carved a shape on it. At first I was confused of what shape should I carve, but after a few times thinking I decided to carve a flower shape, like the ‘Plant of Happiness’ that she told me about. At least I hoped this could heal her heart a bit and make her happy, even though the plant stayed to be a fiction. Then, I made a hole on the side of the rock in such a way that I could tie a rope to the part above it that it became a necklace.

I decided to give the present and say sorry to her on the next day after I finished making the present. I spent a couple of weeks making the gift because it was quite difficult and complicated to make. By the time I finished, a month had passed since my conversation with her. But well, it was never late to say sorry, right?

On the next morning, I prepared myself to face Lea. I also prepared my present and put it in my pocket. I went down the stairs, but the house looked oddly empty. There was not a single person in the kitchen, in the living rooms, nor in the corridors. Usually, at this period of time, Mother prepared breakfast in the kitchen, Father read the newspaper in the living room, and Lea swept the corridors. But they were nowhere to be seen this morning. Where could they have been?

I heard a sound outside that slowly became louder. It was a sound of a horse carriage, coming from afar. I opened the front door, checked outside, and found three figures standing. They were Father, Mother, and Lea. On each of Lea’s hand was a large suitcase. It’s as if… she was going to move away?

“What the hell is happening here?” I asked. The three figures turned their head towards me, all looking a bit surprised. Then, Mother approached me and scolded me.

“Leo! How dare you overslept! You knew that Lea will depart today, right?”

I was taken aback. What did she just say? Depart?

“Hold on, what are you talking about? Departing? Who is?”

Mother brought me to Father’s and Lea’s side. Seeing me, Lea hung her head in silence. Father spoke to me in her stead.

“What, you haven’t heard anything from her yet? No wonder though, it seemed that both of you were in bad terms since a couple weeks ago,” he answered. “Lea’s going to live alone in the city from now on. She got accepted in X university and will study there.”

I was shocked. No words could get out from my mouth.

“Still it’s amazing that someone from a big university like that can notice the genius brain of hers! Say, what’s the title of the essay that you sent to them, dear? What was it; the Plant of Happiness?” Mother commented.

“…Yes Auntie, that’s right.” Lea answered. She turned her face to me. “Sorry for not telling you earlier. It’s just that, you seemed so busy for the past few weeks so I didn’t get the right chance to tell you.“

I froze. I spent the last few weeks so focused on making a gift to her that I forgot to pay attention to herself?

I became lost in my thoughts for a few minutes, and by the time I realized what’s happening Lea has already loaded her stuffs into the horse carriage. She herself was preparing to go inside it when I called her name.

“Lea! Wait!”

She stopped her steps. “What is it? Is there anything more that you want to say?”

I pulled her hand and took the necklace from my pocket, then put it in her hand. “I was busy making this for you in the past few weeks. Because of that, I forgot to pay attention to you. I’m sorry.”

“That’s not all! I want to say I’m sorry for hurting you because of my words. I’m sorry for breaking your heart and crushed your hope. I… I want you to find your own happiness. Aim for it, strive for it, and achieve it. Not the happiness from other people, but your own! Find your own happiness, Lea!”

“Also, don’t forget to stay in touch with us. Maybe it will be hard for us to give any reply to you because we’re so far from the town… But at least, please send us a message or two to make sure that you’re okay. We will wait for you! This place is your home, and will always be!” I cried desperately with shaking voice.

After hearing my words, Lea hugged me, unable to hold back her tears. After a few seconds, she let go of me and smiled. Then, she wore the necklace around her neck.
“Thank you for this gift. I’ll treasure it with my life. Don’t worry, by the time I came back here, I will bring you absolute happiness. Then, we will live the rest of our life, filled with happiness. I swear.”

After saying her parting words, she went into the carriage without looking back. The carriage went away, leaving me, Mother and Father. We went back to our house, and proceeded with our life like usual, like nothing has happened, like how it was when Lea wasn’t here before.

…but to tell you the truth, it was a little lonely.

[In a world where all things are unjustified,
I departed
and strived to find a speck of happiness.]



…I didn’t really remember much what happened next.

I recalled that we have just finished attending the sheep and cows when we hear something loud from afar. It’s the sound of horses’ steps.

“It’s rare for a group of horses to run to this direction. I’ll go check it out,” Father muttered. I and my Mother went back to our house and prepared for dinner. To be exact, my mother did, and I myself went to my room to take a nap.

I was thrown wide awake because of a scream. ‘Who was it?’ I thought. I had a bad feeling, so I went down the stairs carefully while bringing a broom. I took baby steps to the living room and took a glance inside. There’s no one there. I sighed in relief and was about to turn to the kitchen and check on Mother...

when everything went black.

The next thing I remembered was that I was lying on the living room’s floor in a daze. My whole body hurt, and I couldn’t move an inch.

I saw my Father covered in blood and bruises, his face unrecognizable. I couldn’t tell if he’s breathing or not.

I saw my Mother lying near the door, completely naked with bruise marks all around her body.

I saw several man smirking, going out and back to the house through the main door, taking out all of our stuffs, whether it’s precious or not.

After going in and back several times, all of the men except one went out from the house. The remaining man hosed my body, my family and my house with some kind of liquid. After he hosed down all the corners with the liquid, he smirked at me, maybe noticing that somehow I was conscious.

“Sorry kid. Wish you better luck in the next life.”

He opened up the main door and pulled out a match from his pocket. Then, he lit it up, threw the match to my body, and closed the door.

The last thing that I remember was red.
“You were chosen as one of the members of the team we will send to participate in Ravenwood University’s research. Congratulations.”

“Thank you very much, Professor.”

“You will depart to Miria Island in the next three days. Prepare yourself well and don’t waste this precious chance. Go.”

“Very well, Professor. Please excuse me.”

A teen with long, auburn hair bowed to the old man in front of her, and turned her body. She opened a large door behind her, but before she left, the old man spoke again to her.

“Don’t disappoint me, Azalea Erichales.”

“Very well, Professor. I will find the Plant of Happiness. Certainly.”

The teen closed the door with a loud sound.

To be continued
@Grand Genesis, Illustration Division Genshiken

No Title | Note : memang tanpa judul
Spoiler: ShowHide
Suatu sore di kota Bandung, Aji dan kawan-kawannya mendatangi sebuah warung padang, melepaskan beberapa tembakan pada pemiliknya, dan menggasak makanan dan uang yang ada. Dengan sepeda motor matic yang dimodifikasi, mereka kemudian melarikan diri. Beberapa warga yang melihat mencoba mengejar. Beberapa juga melempari mereka dengan batu. Dengan tertawa puas Aji menggeber sepeda motornya untuk memprovokasi warga yang mengejarnya. Tak lama kemudian rombongan Aji dan kawan-kawannya sudah hilang bak hantu. Operasi mereka sore itu sukses.

Pemilik warung padang itu tak lain adalah adik dari Aji. Aji Darma Wiguna dan adiknya Budiman memang seringkali berselisih. Budiman, meski hanya seorang lulusan SMK tetapi ia sangatlah terampil dalam berdagang. Di usianya yang baru dua puluh enam, ia sudah tergolong pria mapan dengan rumah dan kendaraan pribadi. Aji, meski berusia tiga tahun lebih tua, karirnya masih luntang-lantung. Drop out dari SMA akibat kasus tawuran dan penganiayaan, Aji tidak pernah kembali untuk mengampu pendidikan formal. Seringkali ia membantu menjadi kuli panggul di pasar atau mangkal menjadi tukang ojek. Pekerjaannya tak pasti. Asalkan masih ada uang untuk membeli rokok, kopi, dan bakwan baginya masih cukup.

Dua tahun sebelum peristiwa pembunuhan itu, Aji bertemu dengan Adriana Chaniago, biasa dipanggil Ana, seorang mahasiswi tingkat empat di kampus dekat warung kopi tempat ia biasa nongkrong. Singkat cerita, ia jatuh hati. Agar bisa menikahi Ana, Aji mencoba untuk menabung. Konsumsi rokok yang biasanya 2 kotak per hari pun ia kurangi menjadi 3 batang per hari. Demi Ana, pikirnya. Setelah beberapa bulan berkenalan dan sering jalan bersama, Aji memantapkan hatinya untuk melamar Ana. Ana mentah-mentah menolak lamarannya, berdalih belum siap untuk menikah dan ingin fokus dahulu pada kuliahnya. Dengan hati yang kecewa, Aji pulang. Sepanjang jalan tak berhenti mulutnya misuh.

Tujuh tahun sebelum lamarannya ditolak Ana, Aji dan keluarganya memutuskan pindah ke Bandung. Kehidupan keluarga mereka di Mojokerto tidak begitu mujur. Sawah yang mereka miliki habis dimakan hama, sebelum akhirnya seorang pengembang membeli tanahnya dengan harga murah. Rumor yang beredar, pihak pengembang itulah yang menyebarkan hama di sawah mereka demi menurunkan harga. Geram, tapi mereka tidak bisa melawan. Meminta keadilan di pengadilan? Percuma. Keluarga mereka bukan keluarga berada. Bukti yang mereka punya pun hanyalah desas-desus dari tetangga dan kawan saja. Harapan mereka, dengan pindah ke kota Bandung hidup mereka akan lebih baik. Awalnya mereka ingin ke Jakarta, hanya saja sudah terlebih dahulu takut mendengar cerita-cerita tentang kejamnya ibukota. Berkat kenalan lama, ayah Aji mendapat pekerjaan sebagai penjaga toko ATK dan ibunya membuka jasa cuci pakaian. Dengan pinjaman dari bank, Budiman membuka warung nasi dekat kampus. Aji yang tidak punya pekerjaan sehari-harinya hanya nongkrong di warung kopi dan terkadang mampir minta makan di warung milik Budiman.

Setahun setelah mereka pindah, ayah Aji meninggal dunia. Serangan jantung yang datang tiba-tiba saat sedang di kamar mandi telah merenggut nyawanya. Ibu Aji sangat terkejut ketika mendengar kabar kematian suaminya. Tidak kuat menerima kenyataan, ia memutuskan gantung diri, meninggalkan kedua anaknya. Tentu Aji dan Budiman tidak kalah terkejut dengan berita itu. Aji menangis meraung-raung, mengeluarkan sumpah serapah terus menerus bagaikan senapan otomatis. Ia tak bisa menahan benci pada Ibunya yang telah meninggalkan mereka begitu saja. Budiman mencoba menenangkan, tapi yang ia dapat hanyalah beberapa tamparan dari Aji yang mengamuk. Alhasil Budiman pergi dan meninggalkan Aji yang masih mengeluarkan isi seluruh kebun binatang.

Dua tahun setelah kematian kedua orangtua mereka, usaha Budiman semakin berkembang. Setelah melunasi hutangnya pada bank untuk modal usaha, ia mencoba mengajukan KPR untuk membeli rumah. Tipe 30. Bukan rumah megah, tetapi merupakan buah kerja kerasnya. Akhirnya Budiman berpisah atap dari Aji yang masih tinggal di kontrakan yang dihuninya sejak awal pindah ke kota Bandung. Dengan begini, Budiman bisa lebih fokus untuk bekerja, tak lagi mendengarkan pisuhan kakaknya setiap hari.

Empat bulan setelah lamaran Aji ditolak oleh Ana, Budiman justru berkenalan dengan Ana. Saat itu Ana sedang mempersiapkan wisuda. Selang beberapa bulan, giliran Budiman yang melamar Ana. Lamarannya disampaikan seminggu setelah Ana diwisuda. Momen yang tepat, pikir Budiman. Dengan senang hati Ana menerima Budiman. Berbeda dengan Aji yang tidak punya pekerjaan jelas dan sering berkata kasar, bagi Ana Budiman adalah pria idaman yang telah mapan, pandai berdagang, dan ramah. Sebulan setelah lamaran tersebut, mereka akhirnya menikah. Aji tentu sangat marah mendengar berita ini. Ia datang ke pernikahan Budiman sambil memaki-maki Budiman. Tak lupa ia meneriaki Ana sebagai perempuan murah, matre, pengkhianat, dan lain-lainnya. Untungnya sebelum seisi kebun binatang ditumpahkan Aji, hansip kampung yang kebetulan lewat berhasil mengamankannya.

Sebulan sebelum peristiwa pembunuhan, Ana hamil. Budiman sangat bahagia mendengar bahwa ia akan segera punya anak. Hidupnya terasa lengkap. Di sisi lain, Aji juga berhasil mendapat pekerjaan. Perkenalannya pada seorang penadah mendaratkannya ke dunia gelap. Dengan senjata rakitan, ia dan kawan-kawan barunya beberapa kali melancarkan operasi. Laptop, motor, TV, kalung, dan barang-barang lain berhasil mereka curi. Penghasilan Aji memang tak pasti, tetapi lebih baik daripada hanya mengojek atau memanggul beras di pasar.

Di hari peristiwa naas itu terjadi, Budiman izin berangkat di pagi hari pada istrinya. Ia ingin mengecek warung padang yang baru saja dibukanya tiga hari lalu. Sayangnya saat sedang bersiap pulang, kakaknya datang berkunjung. Alih-alih memesan makanan, Aji melayangkan tiga tembakan pada Budiman, salah satunya mengenai kepalanya. Setelah mengamankan satu kilo daging rendang, lima potong ayam goreng, empat buah perkedel, sebuah rice cooker beserta nasinya, dan uang tunai sekitar dua ratus ribu rupiah, Aji dan kawan-kawannya melarikan diri. Dari jumlah yang dicuri, jelas bahwa harta bukanlah sasaran utama Aji. Ia ingin balas dendam. Ia masih tidak terima Ana dinikahi oleh Budiman. Amarahnya masih belum reda.

Tiga hari kemudian, polisi mendobrak kamar kontrakan Fulan, kawan Aji yang juga terlibat peristiwa itu. Kebetulan sekali, Aji juga sedang berada di kamar Fulan. Tak perlu waktu lama untuk polisi meringkus mereka. Sempat mencoba melawan, sebuah tembakan dilayangkan ke kaki Aji. Fulan yang panik berusaha lari via jendela, tetapi peluru panas yang ditembakkan polisi membunuhnya di tempat. Aji pasrah dan akhirnya dibawa ke kantor polisi.

Seminggu setelah penggrebekan, pengadilan menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara untuk Aji. Kawannya yang lain bernasib tak jauh dari Aji. Aji pasrah. Ia menyesal telah mengambil nyawa adiknya. Ia kini sebatang kara, tanpa keluarga ataupun istri. Ia juga harus mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama. Harga mahal yang harus dibayar atas apa yang telah ia lakukan.

Tujuh tahun setelah Aji masuk penjara, ia akhirnya mendapat status bebas bersyarat. Hakim menilai ia telah berkelakuan baik selama menjalani hukumannya. Pembebasan bersyaratnya ini dijamin oleh yayasan yang didirikan kawan baiknya yang ia kenal saat di penjara. Menikmati udara bebas, Aji kembali menjadi supir ojek. Hitung-hitung cari uang. Kali ini motor yang ia gunakan ia pinjam dari kawannya, dengan janji akan memberikan tiga puluh ribu rupiah per hari dan diisikan bensinnya. Penghasilan bersihnya tidak banyak, kadang-kadang tak sampai lima belas ribu per hari. Untuk menambah penghasilan, di malam hari ia membuat kue-kue ringan untuk kemudian dititipkan ke kantin kampus dekat kamar kos yang ia tumpangi.

Empat tahun kemudian, kawan Aji saat di penjara menghubunginya. Ia mengajak Aji untuk bekerja sebagai debt collector sewaan salah satu bank swasta di Jakarta. Dengan modal nekat dan tabungan seadanya, Aji mengiyakan dan pergi ke Jakarta. Ia menumpang kamar kos kawannya di daerah Kwitang, dekat Pasar Senen. Saat itulah ia baru tahu bahwa masing-masing orang di tim debt collector punya perannya sendiri. Ada yang bertugas mengawasi keadaan, ada yang bertugas menekan target, dan lain-lain. Biasanya orang-orang dari timur yang punya suara keras dan muka garang yang mengintimidasi target. Yang lainnya entah mengawasi keadaan atau hanya agar target kalah jumlah, salah satu senjata psikologis. Aji untuk kali ini ditugaskan menjadi peramai orang saja, sambil melihat bagaimana debt collector bekerja. Target mereka adalah seorang pemilik toko yang sudah menunggak selama empat bulan. Jumlah hutangnya tak main-main, delapan ratus juta rupiah. Meski bersikukuh menolak membayar, setelah banyak jebakan psikologis dilepaskan, akhirnya target luluh juga. Ia setuju untuk menandatangani perjanjian akan membayar hutangnya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan pertamanya, Aji lekas beristirahat. Ia sangat lelah. Udara kota Jakarta yang panas ditambah sumpeknya kamar 3x3 yang harus ia isi berdua. Mau bagaimana, dengan penghasilan tak tentu, kamar seharga sembilan ratus ribu per bulan tak mungkin ia bayar sendiri. Cari yang murah? Jangan harap bisa dapat harga murah di ibukota. Benar kata cerita orang-orang dahulu, ibukota itu kejam.

Minggu-minggu pertama di ibukota dilalui Aji dengan semangat yang semakin berkurang. Meski penghasilannya lebih baik dibanding saat dulu di Bandung, tetapi kehidupannya belum sepenuhnya stabil. Di waktu-waktu ia tidak ada pekerjaan debt collector, ia menjadi supir tembak metromini. Rute Pasar Senen - Tanjung Priok dan Pasar Senen - Setiabudi menjadi langganannya. Terlebih ketika sedang mangkal di Tanjung Priok, ia bertemu banyak kawan debt collectornya. Memang daerah priok dan sekitarnya merupakan daerah yang lekat dengan dunia gelap. Dunia gelap itu telah menjadi tempat yang akrabbagi Aji.

Tiga bulan setelah tiba di ibukota, ia memutuskan untuk menyewa kamar kos sendiri. Kamar barunya memang lebih kecil, hanya 2x3. Setidaknya, ia tak perlu lagi berbagi kamar. Kosnya saat ini tidak jauh dari Stasiun Kemayoran, lima menit jalan kaki. Dengan uang tabungannya pun ia nekat menebus motor bekas dengan mencicil. Ia juga memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai debt collector. Dengan modal koneksi, ia menjadi supir metromini. Rute yang ia lewati adalah Pasar Senen - Sunter.

Di suatu malam, setelah seharian menyupir metromini, Aji beristirahat di sebuah warung nasi di bilangan Sumur Batu, Kemayoran. Orang yang duduk di meja seberangnya nampak familiar bagi Aji. Ana. Ia yakin itu Ana. Ana melihat ke arahnya. Raut mukanya menampakkan ekspresi setengah kaget. Ana lalu berdiri dan menghampiri Aji. Ana menanyakan apakah memang Aji yang ditemuinya. Sebuah tamparan mendarat di wajah Aji, dilanjutkan tamparan berikutnya. Saat ini Ana sedang berdiri di hadapan pria yang membunuh suaminya hampir dua belas tahun lalu. Tak henti Aji meminta maaf pada Ana, tetapi berjuta maaf yang diucapkan Aji tidak akan menghidupkan kembali Budiman. Dengan penuh sesal, Aji segera pergi. Nafsu makannya hilang. Rasa penyesalan atas perbuatannya di masa lalu kembali muncul.

Selama beberapa hari nafsu makan Aji menghilang. Begitu pula dengan semangatnya untuk bekerja. Hidup terasa amat sangat berat. Satu per satu penyakit mulai hinggap di tubuh Aji. Penyakit tipes mulai menggerogoti tubuhnya. Stres akibat bayang-bayang masa lalu, kurang tidur, kurang makan, dan sanitasi yang kurang bersih semuanya berkonspirasi terhadap tubuh Aji. Terbaring lemas seorang diri di sebuah petak 2x3. Tiada keluarga yang menanyakan kabar, tiada kawan yang menjenguk. Di saat seperti ini Aji berkontemplasi. Memikirkan hidupnya. Hidup adalah penderitaan, begitu yang selama ini ia rasakan. Catatan kriminal yang dimilikinya menjamin ia tidak akan pernah mendapat pekerjaan bergaji besar. Apalagi ia drop out dari SMA. Tidak ada keahlian khusus pula yang dapat ia andalkan. Kata orang, setiap orang perlu waktu untuk sendiri. Namun, bagaimana kalau kau selalu sendiri? Begitu yang ia pikirkan.

Stres yang melandanya mendaratkannya pada pelarian baru. Alkohol. Akan tetapi, dengan kondisi keuangannya, ia tak mampu membeli minuman mahal seperti gin, vodka, atau sekadar bir saja. Alhasil ia menjatuhkan pilihannya pada ciu atau anggur merah cap orang tua. Sesekali pula ia patungan bersama pemuda-pemuda di sekitar kosnya untuk membeli tuak. Yang penting mabuk. Mencari bahagia dengan melepas beban yang ada, meski hanya sementara.

Ketagihan minum ciu justru membuat Aji kembali ingin untuk bekerja. Momen-momen mabuk memberinya kebahagiaan, meski hanya sebentar. Ia juga mendapat semangat baru dari hobi barunya, hobi nyabu. Ia giat bekerja demi sebongkah kristal metamfetamin dan setenggak anggur merah. Kebahagiaan sesaat yang ia rasakan membuat hidupnya lebih berarti.

Beberapa bulan menjalani hobi barunya, hidup Aji semakin tidak terpisahkan dari metamfetamin dan alkohol. Sayangnya, hobi baru tersebut justru malah mengganggu pekerjaannya. Metromini yang ia kendarai menabrak metromini lain yang ada di depannya. Tabrakan berantai tak terelakkan setelah sepeda motor yang melaju di sebelahnya tersenggol bus yang menabrak. Sebuah mobil terguling saat menghindari pengendara motor yang terjatuh. Aji dilarikan ke UGD, tidak sadarkan diri.

Tiga jam di UGD, pencarian kebahagiaan Aji sepertinya harus berakhir. Benturan keras pada kepalanya dan kehabisan darah akibat terkena pecahan kaca telah merenggut nyawa Aji. Mungkin Aji bahagia dengan berakhirnya penderitaannya di dunia. Mungkin juga tidak. Hanya Aji yang tahu. Yang jelas, pada hari ini Aji Darma Wiguna menghembuskan nafas terakhirnya.
« Last Edit: January 04, 2019, 12:11:16 PM by Vision »

Offline weebkaba

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 4
  • No alarms and no suprises, please
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #4 on: January 04, 2019, 03:18:01 AM »
Uh... Kay. (after reading some of the entries)
Today is the first day
Of the rest of your days
So lighten up, squirt.

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #5 on: January 04, 2019, 12:00:36 PM »
Terdapat 3 entri yang lerlewat, dan sudah ditambahkan masing-masing 1 pada post 1, 2, dan 4. Thanks. ^^
« Last Edit: January 04, 2019, 12:11:34 PM by Vision »

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #6 on: March 02, 2019, 09:44:32 PM »
Lagi proses pembuatan versi e-book. Cuman mau komentar.

1. Ini banyak banget yaaa
1b. Serius. Kalian kok tumben rajin. Sayang malah jadi gak ada yang komentar :(
2. Banyak yang gak rapi, huft. Kalau dialog dan yang ganti yang ngomong, buat paragraf baru dong guys.
3. Murni dari formatingnya saja, aku menebak Clarence Meminum Kopi ini buatan... Eriz? 
4. Tainted Greys sangat niat dan aku apresiasi. Entar formating dan gambarnya dipakai kok di dalem ebooknya.



Seperti biasa, ini belum ditest orz. Kalau ada masalah kabari ya

Tainted Grey versi MOBI nggak kebaca di Kindle :( Ntar kubenerin ya
« Last Edit: March 12, 2019, 11:39:48 PM by PseudoStygian »

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #7 on: March 12, 2019, 11:26:13 PM »
Tau gak, sebanyak apapun writchall kali ini, ini gak gitu banyak kalau dibandingin berjam-jam yang kuhabiskan di kereta setiap hari :')
Baru kubaca beberapa,  tapi ku gak optimis sempet full review setelah selesai semua, jadi nih komentar seenaknya aja dulu

Suatu Senja di Jalan Ibukota ini relateable sekali sebagai anak Jakarta (apalagi dibacanya di kereta pas jam pulang kantor ha ha ha). Tapi sebagai anak kelas menengah-atas yang tumbuh besar di Jakarta (jadi gak ada cerita "kenapa gak pulang ke kampung" begitu), kondisi saya memang jauh lebih beruntung. Gak banyak plotnya di cerita ini, tapi penceritaanya rapii~ Portret yang cukup akurat untuk ibukota ini.

O Fortuna ini "twist"nya terlalu gampang karena aing dulu terobsesi dengan Assassin's Creed II dan sudah hapal betul siapa Cesare dan Lucrezia ini. Tapi lalu ada radio dan Mussolini dan Nazi dan what what what. Apa ini, kusuka, sayang fokusnya ke situ aja.

Clarence Meminum Kopi ini yang nulis Eriz ya?? Bau-baunya Eriz!! Pake bahas matematika juga! Atau Eriz sudah punya pengikut sekarang?? Aku suka, penceritaanya rapi, atmosfer terasa. Cerita kecil, dibungkus rapi. Walaupun "gitu aja", tapi kalimat terakhirnya itu cukup memuaskan.

Inggriani di Negeri Ajaib ini kak Lisa ya?? Atau Kak Lisa ada bawahan lagi yang suka Alice? Atau jangan2 itu bukan Kak Lisa, maafkan aku. Aku sukaaa. Dan aku ketawaaa. Puisinya juga nice!!

Benci Jadi Cinta: Aku kemakan triknya!! Apa-apaan!!!! Kembalikan sel otakku yang kupakai untuk membaca cerita ini!!!!

Unknown: Mungkin aing hanya lelah, tapi aing gak ngerti maksud endingnya. Kurang lebih oke sih ceritanya, tapi mungkin terlalu rushed. Tapi kalimat ini "Seekor naga berwarna coklat tua—aku teringat akan kecoak—yang sedang terbang?" Mengapa Anda bisa dengan begitu kejam menghancurkan semua image baik tentang naga? :(

Ruang Hampa adalah kisah tentang seseorang yang bertemu dengan seorang novelis di angkutan umum. Terima kasih telah mengingatkanku lagi kenapa aku ingin jadi novelis. Serius. Thank.

Before We Say Goodbye ini... apakah punya Ebert?? Agak meh tbh, tapi itu karena 1) Aing kesal bukan main dengan sifat Leon, 2) Penceritaannya kurang mulus, kurang menopang plotnya yang klise. Good effort thoo!! Dan ganti2 POV ini nice!!!

Antara Masa Lalu dan Sekarang bisa bagus kalau aing dibuat peduli dengan karakter-karakternya, tapi aing tidak peduli!! Mereka siapa?? Ceritanya belum bisa menggambarkan mereka siapa dan kenapa kita harus peduli dengan mereka!!

Kisah Cinta Ajaib Handi awalnya ku kurang suka karena alasan lihat komentar untuk cerita di atas. Tapi lalu weird shit happened dan OK!! Aku terima saja!

Kegemaran ini pendek dan manis. Permen. Aku suka.

When I Was a Kid: Apakah ini Deen? Tapi doi biasanya puisinya lebih gila daripada ini, jadi kayaknya enggak. Ada beberapa baris yang enak di sini "I am still a kid, playing [an] adult's game" tapi gak gitu kena sama aku soriii.

A Question: Sama-sama.

Bambang Bizzare Adventure: Big Yang-Penting-Nulis Bingung-lanjutinnya-gimana Yaudah-tambahin-robot-raksasa Energy. Good, I approve.

The Storyteller's Tale: Bahkan belum selesai baca, tapi. Ini!!! Worldbuilding sip, karakterisasi sip, penulisan sip. Aku suka!!!! Dan tipe cerita aing banget!!! Siapa yang nulis kita sehati!!! <3


Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 12
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #8 on: March 16, 2019, 12:57:51 AM »
Vision's Corner #dos

Terima kasih untuk writing challenge yang memecahkan rekor ini!
Akan tetapi, there's more than meets the eye.

Bambang Bizzare Adventure
Spoiler: ShowHide
Ceritanya cukup menarik dengan mish-mash berbagai genre dan gaya penulis. Jadinya ya refreshing.

False Happiness
Spoiler: ShowHide
Nice collection of stories. Ya endingnya (karena circumstancesnya) menjadi agak rush, dan mungkin agak membingungkan, mungkin saran untuk flownya dapat ditingkatkan lagi.

Kesenangan Senja
Spoiler: ShowHide
Cerita ini seperti membawa kenangan masa kecil, yaitu jenis cerita yang mudah untuk dicerna dan menyenangkan.

Antara Masa Lalu dan Sekarang
Spoiler: ShowHide
HEEEEEH! Dasar.Yah, sudah bisa ditebak yang menulis pasti pecinta NTR. Ya, untuk mengetahui lebih baik ceritanya harus dilanjutkan sih.

Inggriani di Negeri Ajaib
Spoiler: ShowHide
Inside joke. HEHEHEHE.Lucu dan bikin ketagihan untuk membacanya.

Spoiler: ShowHide
Ingat formatting, huruf kapital meskipun dalam kalimat dialog. Tapi ceritanya refreshing, serta Netto-Rare!!!

Kisah Cinta Ajaib Handi
Spoiler: ShowHide
Wah, wah, wah, menarik ya ceritanya. Tidak menyangka akan menuju ke situ arahnya. Teruskan ^^.


Part 2
Tanpa Judul
Spoiler: ShowHide
Kenapa tidak ada judul ya. Rasanya sayang. Cerita kehidupan yang membuat emosi tergunjang-gunjing, akan tetapi sepertinya menjadi ambigu, tone apakah yang sedang ingin dicapai? Mungkin dapat diperjelas.

The Storyteller's Tale
Spoiler: ShowHide
Sangat baik, dan sesuai dengan setting dari cerita.  :cool: Dapat dikembangkan menjadi backstory dari cerita lain.

Spoiler: ShowHide
The fairytales. Campur aduk, penuh fantasi, dan ringan. Secara umum sudah cukup baik, akan tetapi mungkin pacing dapat ditingkatkan, sehingga tidak terkesan buru-buru.

Kesenangan Cinta
Spoiler: ShowHide
Baik Roh, pesannya tersampaikan kok. Gaya bahasa juga sudah sesuai. HEHEHE.

Spoiler: ShowHide
Dilanjutkan yaa, prologue belum terlalu mewakili nih.  :p

A Question
Spoiler: ShowHide
Nice insight and point of view. Keep it up. And don't hestitate to enter next time with an even longer story. ^^.

Spoiler: ShowHide
Cerpen yang sangat baik dan sesuai dengan target pembaca. Overall sudah baik.

Spoiler: ShowHide
Screams - NOOOOOOO!! Kenapa harus bad ending, #canda ya. Untuk suspense, mungkin kurang panjang ya, jadi feelnya kurang.

When I Was A Kid
Spoiler: ShowHide
Puisi yang menyentuh dan membuat berpikir.

Tainted Greys
Spoiler: ShowHide
Interesting take on the themes, carefully crafted characters. Just right amount of suspense. Keep it up. ^^.


Part 3
Kisah Anak Bandung
Spoiler: ShowHide
Jokenya cukup sempit ya. HEHEHE. Sampai sudah jelas tokoh di ceritanya dan koneksinya IRL.

Suatu Senja di Jalan Ibukota
Spoiler: ShowHide
Cerita yang sesuai dengan cuplikan kehidupan di Jakarta dan sangat relatable, begitu juga dengan karakter tokoh dalam cerita. Serta pesan yang penting.

Ruang Hampa
Spoiler: ShowHide
Ah! Sudah cukup baik, mungkin cerita dapat dilengkapi dengan sedikit backstory sehingga konteks dapat lebih terlihat lagi.

O Fortuna
Spoiler: ShowHide
Okay, it's obvious. Keep it up!

Before We Say Goodbye
Spoiler: ShowHide
Sudut pandang yang berbeda-beda, dan akhirnya menjadi satu di akhir, sudah sangat baik dan fleshed out, mungkin terdapat beberapa bagian yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Tetapi nice ending.

Clarence Meminum Kopi
Spoiler: ShowHide
Joke-joke ringan, akan tetapi beberapa cukup sempit. Haha. Akan tetapi membuat cerita terasa ringan dan mudah untuk dibaca, ditambah dengan latar yang cukup modern dan gaya bahasa yang, ya... begitulah.

Benci Jadi Cinta
Spoiler: ShowHide
HELLLOOOOOOOO!!!!! BAHAHAHAHAHAHA. Menarik endingnya ya.

Once again, thank you for all the submissions.
« Last Edit: April 01, 2019, 09:22:52 PM by Vision »

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #2 2018-2019 The Power of RNG!
« Reply #9 on: March 18, 2019, 11:33:04 AM »
Hampir selesai baca~

Lanjutan komen The Storyteller's Tale: Kurasa endingnya agak kurang memuaskan. Rasa penceritaannya sejauh ini terlalu detail untuk jadi mitos/cerita rakyat, tapi endingnya sangat mitos. Tapi entry ini tetep favoritku ok!!

Kesenangan Senja ini permen lagi. Kecil. Manis. Aku suka.

Kisah Anak Bandung isinya joke sempit ya? Aing gak bisa komen .-.

Kebahagiaan dalam Cinta: Terima kasih mengingatkan untuk mandi dan makan uwu. Gaya ngelanturmu dan lempar anekdot sana sini enak dibaca entah kenapa.

Room terasa... yah. Segitu saja.

Identity ini seperti comotan langsung dari buku harian. Hayolooh stres karena deket deadline yah

Cerita tak bernama ini... apakah... tes matematika...? Dua tahun sebelum kejadian ini, tujuh tahun sebelum kejadian itu, satu tahun setelahnya, empat bulan setelahnya... Tadinya mau kukritikin karena buat bingung tapi apakah ini disengaja???

Dari ceritanya... aku tak tahu mau kuapakan cerita ini. Aku tak tahu cerita ini mau apa dariku. Simpati kah? Depresi kah? Rasanya hampa-hampa saja setelah membacanya dan apakah ini disengaja??? 

False Happiness ini panjangnya waw sekali. 5 cerita lain dari writchall ini bisa masuk ke dalamnya. Sayangnya ceritanya menurutku gak sebanding sama effort membacanya (dan menulisnya?). Komen selanjutnya spoiler ya.

Spoiler: ShowHide

Konsep plotnya oke, sebenernya, tapi gak ada yang ngebuatnya langsung menarik. "Anak kecil menutup PTSD-nya dengan ceria terus" ini butuh eksekusi penceritaan yang bagus biar gak terkesan klise dan manipulatif, tapi ya sayangnya penceritaannya belum mampu. Bahasa Inggrisnya masih belum alami, terutama saat ada yang bicara. Masih canggung. Hasilnya gak ada rasanya yang kena, dan saya bacanya pengen cepet-cepet selesai saja.

Pacingnya juga mungkin oke-oke saja untuk novel, tapi untuk cerita sependek ini terlalu lamban untuk sampai ke mana-mana. Mungkin memang ini niatnya untuk novel? Karena endingnya pun tidak jelas dan sangat To be Continued.         

Mungkin juga karena ini seharusnya bagian cerita yang lebih besar, banyak hal yang gak nyambung ke mana-mana di sini. Selain endingnya yang tiba-tiba, ada buku yang ternyata tentang cara memotong manusia dan ini *what* sekali. Siapa yang nulis? Kenapa dijual di toko buku? Buku Plant of Happiness yang ditulis dalam kode ini juga tiba-tiba muncul.

Tainted Greys: I approve of this surrealist bullshit dan aing bacanya pas lagi migraine dan pusing gak jelas jadi big mood tbh. Aing salut sampai niat pakai ilustrasi dan warna dan font begini. Lebih menjual ceritanya walaupun aku gak begitu ngerti karena migraine ini. Aku juga suka dengan interpretasi tema-temanya yang agak gila ini.

Netto - Rare: Aha! Cyberpunk! Bukan genre kesukaanku tapi aku selalu senang kalau ada yang buat dengan genre ini! Penceritaanya masih canggung, tapi konsepnya ok. Aku suka interpretasi "Netto Rare"-nya.

Dannn itu semuanya kan? Kalau ada yang kelewatan, kabari aku!!!

Karena kenapa enggak. Ini 100% preferensi pribadi dan dibasiskan dengan apa yang kuingat tentang membacanya dan karena aing lagi pusing sekarang bisa jadi ingatan ini tidak bisa diandalkan ok.

Spoiler: ShowHide

1. A Storyteller's Tale
2. Clarence Meminum Kopi
2. Inggriani di Negeri Ajaib
3. Suatu Senja di Jalan Ibukota
4. Kegemaran
5. Kesenangan Senja
5. Ruang Hampa
« Last Edit: March 18, 2019, 11:54:51 AM by PseudoStygian »