Author Topic: Writing Challenge #1 2018-2019! - Remembrance of the Past!  (Read 486 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Writing Challenge #1 2018-2019! - Remembrance of the Past!
« on: October 05, 2018, 07:46:19 PM »
Halo semuanya! Setelah ditunggu-ditunggu akhirnya Writing Challenge diadakan kembali!



Tema kali ini adalah : Remembrance of the Past!
Jadi semua tema Writing Challenge tahun 2014-2015 adalah tema kali ini!
Langsung saja, entry-entry kali ini!
Seperti biasa, nama penulis dirahasiakan ya!  :cool:

Entry #01: Me-robot-kan Manusia dan Memanusiakan Robot
Spoiler: ShowHide
adrian thomas <adriantom9@yahoo.co.id>
   
Sep 13, 2018, 12:09 AM
   
to me
   
Translate message
Turn off for: Indonesian
Jadikan gambar sebaris

Jadikan gambar sebaris
Katanya, kuliah yang bagus agar lancar dalam karir di dunia kerja kelak. Mendengar pernyataan ini, populasi umum akan menangkap kata “kuliah” hanya sekedar akademik saja. Dari pemahaman yang kurang tepat ini, muncul pola pikir linier yang menghasilkan persamaan “Akademik = Sukses Kerja”, padahal masih banyak sekali faktor kesuksesan seseorang dalam karir di luar hal-hal akademik.

Tapi jangan salah, kesalahpahaman ini menciptakan banyak manusia-manusia yang seperti bukan manusia, hanya fokus terhadap akademik saja. Manusia-manusia seperti ini kelak akan lulus menjadi budak korporat. Korporat-korporat bahkan bisa dibilang secara tidak langsung menyuruh kampus-kampus untuk memperbanyak cetakan-cetakan budak korporat. Karena tekanan ini, pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, gagal untuk memanusiakan manusia. Bahkan, pendidikan dengan orientasi industri malah me-robot-kan manusia.

Bagaimana salah satu contoh pendidikan yang me-robot-kan manusia? Lihat saja, sistem pendidikan yang secara tidak langsung memaksa mahasiswa untuk hanya belajar dan belajar kerja lembur bagai kuda, pembatasan secara sistematis terhadap kegiatan-kegiatan non-akademik, sampai ancaman untuk mahasiswa yang berani menyuarakan keresahannya terhadap petinggi-petinggi negara.

Berbicara tentang robot, satu per satu lapangan pekerjaan manusia direbut oleh robot. Robot semakin canggih, kecerdasan buatan menjadi semakin cerdas. Buktinya, sekarang robot sudah mulai mampu merasakan perasaan yang sama dengan manusia. Tapi, robot-robot yang mulai mencapai kesadaran baru dapat mengekspresikan perasaannya dalam bentuk gambar. Contoh lainnya, ada robot yang mulai mampu merancang sendiri menu hamburgernya.

Perkembangan teknologi yang semakin lama semakin pesat, yang perlahan dapat menandingi kecepatan cahaya, mampu mempuat robot semakin cerdas. Atau dalam kalimat indahnya, memanusiakan robot. Robot yang semakin lama semakin menjadi manusia ini seperti pedang bermata dua, berpotensi meningkatkan kesejahteraan dunia sekaligus berpotensi menimbulkan pemberontakan oleh robot yang sering diperlakukan semena-mena. Bayangkan perasaan robot yang setiap 30 menit sekali hanya disuruh membuat menu hamburger (jika punya perasaan), apakah dia tidak bosan? Bayangkan jika manusia yang dipaksa membuat menu hamburger setiap 30 menit sekali setiap hari selama-lamanya, apakah dia tidak akan keluar dari pekerjaannya?

Kesimpulannya apa? Kita tinggal di dalam dunia dengan pendidikan yang me-robot-kan manusia dan teknologi yang memanusiakan robot.


Entry #02: In the Chambers of the Premise - in honor of In the Station of the Metro
Spoiler: ShowHide
..it was a tale without a definite beginning but a definite end, about doors of all sizes and manners and a man standing in the intersection.

The crossroad was not an empty one, though the man would be hardly pressed to say so. Everyone might as well be ghosts, blurring into the backgrounds as they moved back and forth along the endless corridors, opening and closing doors as they went.

Around him were open doors, each filtering light to prod his shadow dance,
offering warmth
and welcome
and fear
as he stood there motionless
mulling
Why were the doors open?
Why would they
let him
see their chambers?
Would he then
have to
show them
his?
a shiver
through cold stones,
A step back
from kindness
a murmur
in chilly wind

No one would even realize he was there
an apparition among those faces in the crowd
petals on a wet, black bough.


Entry #03: Memikirkan Namamu
Spoiler: ShowHide
Entry ini dalam sebuah file bahasa python, dan dapat diakses pada link berikut : https://onlinegdb.com/HkI-YAN9m
Agar cepat, input menggunakan teks, dan klik run.


Entry #04: Hipodrom
Spoiler: ShowHide
Hari itu salju berhenti turun, menyisakan lapisan putih tipis yang berbaur dengan tanah. Hari itu pula aku bertemu denganmu. Kali ini aku berterima kasih pada stok makananku yang kosong sehingga kaki-kakiku terpaksa melangkah untuk berburu. Takdir telah mempermainkanku dengan membuat anak panahku menggores kaki kudamu. Kau yang tinggal di luar hutan tak mungkin kembali pulang tanpa kudamu sehingga aku pun menawarkan tempat berteduh sebagai bentuk permintaan maaf.

Dengan perlahan aku menuntunmu menyusuri hutan sampai ke rumahku. Sesekali aku menengok ke arahmu yang berjalan tepat di belakangku, memastikan kau tak tertinggal jauh. Setiap aku melirik ke arahmu, aku bisa merasakan cinta yang begitu besar yang kauberikan pada kudamu. Dengan lembut kaumenggiring kudamu yang pincang menyusuri jalan setapak. Tak peduli dengan renyehanya yang meminta untuk berhenti.

“Aku tidak menyangka ada rumah seindah ini di tengah hutan,” ucapmu ketika sampai di depan rumahku. Kaumengelus lembut rambut kudamu, mengisyaratkan padanya kalau semua akan baik-baik saja. Kuda itu begitu mengerti dirimu, rengekan kesakitannya langsung terhenti, begitu juga dengan detak jantungku. Raut wajahmu yang begitu lembut membuat hatiku terenggut.

Aku jarang bertemu dengan manusia karena aku memang sengaja mengasingkan diriku ke hutan. Hiruk pikuk kehidupan di kota tak cocok denganku yang lebih menyukai kesunyian dan kesendirian. Ditambah lagi aku sudah berhenti percaya pada manusia karena kelicikan yang mereka lakukan. Namun keberadaanmu di sini malah membuatku merasa tenang dan tentram.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanyaku sambil menunjukkan jalan menuju pekarangan belakang rumahku. Di sana terdapat satu pohon maple besar yang kini telah menggugurkan semua daunnya, juga beberapa tanaman yang sengaja kutanam untuk persediaan makanan. Sayang sekali semuanya tertutup salju sehingga tak terlihat.

Kau mengikat tali kekang kudamu pada salah satu pilar di teras belakang rumahku agar ia tak kabur. Aku hanya diam dan memperhatikanmu sembari menunggu jawaban. “Aku Alvin dan ini kudaku, Jean,” jawabmu ketika kau yakin simpul yang kaubuat sudah cukup kuat menahan kudamu yang mungkin akan memberontak.

“Prama,” kusebut namaku singkat sebelum aku berbalik masuk ke dalam rumah untuk mengambil obat luka. Aku menyusuri rak yang berisi obat-obatan racikanku untuk mencari obat yang sekiranya dapat digunakan untuk mengobati kaki Jean. Tinggal di hutan sendirian membuatku belajar untuk meracik obat-obatan herbal dari tanaman liar yang dapat kutemukan di sini.

Setelah menemukan obat yang tepat, aku membawa stoples berlabel obat luka itu keluar dan memberikannya padamu. Aku hanya duduk di kursi teras sambil melihat dirimu yang membersihkan dan merawat luka Jean dengan telaten. Tanpa kusadari aku memperhatikan setiap jengkal dari dirimu. Baru kali ini aku menemukan pemuda dengan wajah yang begitu cantik. Sebuah kecantikan yang sulit untuk dideskripsikan. Cantik, namun dalam definisi yang berbeda dengan kecantikan yang dimiliki wanita.

Kau membuka jaket tebalmu yang mulai membatasi pergerakan. Mungkin cuaca sudah tak sedingin sebelumnya, mungkin juga karena kau mulai berkeringat setelah perjalanan tadi. Kaumenggulung lengan bajumu yang panjang, memperlihatkan otot-otot tanganmu yang keras. Terlihat sekali kalau otot-otot itu rajin dilatih.

Aku terus memperhatikanmu sampai kau selesai membebat luka di kaki Jean. Setelah itu aku mengajakmu masuk ke dalam rumah dan menghangatkan diri. Kita berbincang-bincang sampai matahari terbenam sambil ditemani cokelat panas. Hari itu, hari terakhir musim dingin, aku bisa merasakan musim semiku hadir lebih cepat.

Berhari-hari kita melakukan banyak hal bersama, berbincang, makan, berburu, tidur, semuanya. Suatu hal yang aneh bagiku. Baru kali ini aku benar-benar merasa nyaman dengan keberadaan manusia. Apakah ini karena aku mulai merindukan keberadaan manusia di sekitarku atau karena kau yang menemaniku sehingga aku merasa nyaman?

Aku tahu hari di mana kau akan pergi pasti datang. Rasanya aku masih belum bisa melepaskanmu namun kini takdir tak lagi membuatku bersyukur. Kaki Jean sudah sembuh dan kau harus kembali ke kota.

“Nanti aku akan datang untuk bermain,” ucapmu sebelum pergi. Aku hanya bisa membalasmu dengan senyuman. Aku senang bisa bertemu denganmu meski pada akhirnya harus berpisah juga. Musim semi benar-benar datang namun rasanya rumahku menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Di penghujung musim panas, kau benar-benar menepati janjimu untuk datang berkunjung. Masih dengan kuda kesayanganmu, Jean. Tentu saja aku menyambutmu dengan senang hati. Aku mengajakmu duduk di teras belakang rumah sambil menikmati es lemon yang menyegarkan. Kita berbincang sambil menatap pohon maple besar yang daunnya mulai berubah kecokelatan.

Ketika hari sudah mulai gelap, aku mengajakmu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jean di luar sendirian. Kau membaca buku yang kauambil acak dari rak sedangkan aku menyiapkan makan malam.

Aku kembali ke halaman belakang untuk mengambil beberapa bahan makanan. Setelah itu aku kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Masakanmu enak seperti biasanya,” pujimu ketika menyantap makanan yang kuhidangkan. “Tapi dagingnya agak keras. Daging apa ini?”

Aku tersenyum, “Kuda.”

Dengan begitu kau takkan lagi pergi dariku.


Entry #05: Pengalaman Saya di Terminal Pohon Pinus
Spoiler: ShowHide
Pengalaman ini terjadi beberapa minggu lalu, saat saya menggeber motor untuk menghadiri pernikahan keluarga jauh saya di kabupaten Ujung Gunung, kira-kira seratusan kilometer dari ibukota provinsi. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan saya ditawari oleh sanak keluarga untuk menginap di rumah mereka. Tentu saja tawaran tersebut saya tolak; kalau saya terima, saya tidak bisa menceritakan hal ini kepada Anda sekalian.

Setelah sedikit basa-basi, akhirnya saya memutuskan kembali ke ibukota pada saat itu juga; lagi pula, saya tidak boleh terlambat untuk pekerjaan besok. Pada saat motor saya menjejakkan ban di terminal kota Pinus -  kira-kira tepat di tengah jalan provinsi yang menghubungkan Ujung Gunung dan ibukota -, saya merasa perjalanan saya makin berat. Oh, ban kempes, batin saya. Mumpung saya sedang berada di terminal, saya menuntun motor saya ke tambal ban terdekat. Selagi menunggu ban saya diperbaiki, saya teringat bahwa saya belum menjalankan ibadah malam.

Saya memutuskan untuk bersuci dan melakukan ibadah di rumah ibadah kecil di pinggir terminal, sendirian. Saat saya sudah nyaris selesai melaksanakan kebutuhan batin saya, tiba-tiba pintu rumah ibadah -yang saya tutup agar saya lebih menghayati ibadah saya- terbuka. Terkaget-kaget saya saat melihat sosok tua memencet saklar di samping daun pintu. Oh, marbot, batin saya saat lampu rumah ibadah telah dimatikan.

Sang marbot kemudian menutup pintu tersebut, dan bunyi “ceklek” terdengar. Saya berlari menuju pintu yang terkunci, dan berkali-kali menggedornya. Tidak ada jawaban; sayup-sayup hanya terdengar dangdut koplo remix dari kios-kios terminal. Jam nongkrong para supir angkot, pikir saya.

Kembali saya gedor pintu tersebut, dan akhirnya gedoran saya terjawab oleh kaca yang pecah. Sekilas saya melihat sosok pemuda berpakaian hitam-hitam, disinari oleh lampu jalanan yang sekenanya diarahkan ke dalam ruangan ibadah. Ia tak melihat saya di depan pintu, dan bergegas menuju mimbar. Saya melihat dia mengambil satu-dua barang di sana, lalu kembali ke jendela yang ia pecahkan sebelumnya dengan terbirit-birit. Melihat bahwa jalan keluar rumah ibadah telah dibuka, saya mengejar sang pemuda keluar. Sang pemuda justru berlari lebih cepat ketika menyadari bahwa saya mengejarnya. Heran, padahal saya mau berterima kasih kepadanya.

Sesampainya di luar rumah ibadah, suasana terdengar ramai. Entah kenapa suara “MALING!” dari sana-sini terdengar. Saya menahan sang pemuda dengan tenaga sekuat saya; semata karena ingin mengucapkan terima kasih atas jasanya mengeluarkan saya dari tempat tadi.  Beberapa menit kemudian, massa berdatangan ke tempat kami berdua. Nampaknya mereka mengira saya berhasil menangkap pencuri mikrofon rumah ibadah. Kami berdua lalu dibawa ke kantor polisi, sebagai saksi utama dan pelaku tentunya.

Setelah satu-dua jam di kantor, mengingat saya mengaku harus kembali ke ibukota untuk pekerjaan, saya diminta meninggalkan nomor telepon untuk keperluan kesaksian dan sebagainya (kalau saya tidak salah ingat). Saya akhirnya diantarkan pulang ke rumah saya di ibukota.

Begitulah pengalaman saya meninggalkan motor saya di terminal kota Pinus.


Entry #06: Tragedi Tiga Babak
Spoiler: ShowHide
Tragedi Tiga Babak

Kafe Tulip selalu ramai seperti biasanya.

Celotehan para anak muda yang asyik bersantap malam mengiringi langkah kami menuju kursi yang telah aku pesan.

"Pesan saja sesuka kalian, malam ini aku yang traktir," kataku. Sambutan meriah dan ucapan terima kasih yang terlontar tidak membuatku besar kepala. Bukannya aku rendah hati, tapi uang sudah tidak berarti apapun bagi diriku.

Saat kelima temanku fokus melihat menu, mataku langsung terpaku pada dia yang duduk tepat di seberangku. Al membalik halaman hanya dengan ujung jarinya, kebiasaan yang Ia sendiri tidak sadari. Rambutnya yang tertata rapi oleh pomade sempat membuatku mencoba mengikutinya tetapi hasilnya membuatku terlihat seperti Nobita yang baru salah cukur. Pomade tersebut masih tergeletak di pojok kamarku, mengumpulkan debu.

Al menurunkan menu dan secepat kilat mataku beralih ke vas bunga kecil yang menghiasi meja.

“Gue mau nasi goreng seafood deh,” kata Al dengan suaranya yang selalu membuatku terbang ke langit ketujuh.

Ya, aku memang dimabuk asmara. Selama SMP, SMA, hingga kuliah aku tidak merasakan dorongan untuk berpacaran seperti teman-temanku yang lain. Dan aku mencemooh para aktivis nikah muda. Konyol sekali memutuskan menghabiskan sisa hidupmu dengan orang yang baru kau kenal beberapa tahun atau bulan.

Tapi tak disangka di dunia kerja aku bertemu dengan orang yang membuat semua dongeng picisan terasa begitu indah dan nyata.

Yah, walaupun kadang aku malah tidak dapat fokus ke pekerjaanku saat berada di dekatnya. Karena aku malah berangan-angan melamar Al, menikahinya, dan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Mengukuhkan janji suci cinta.

Mimpi yang mustahil dalam berbagai arti.

Hari demi hari berlalu. Pekerjaanku acap kali menjemukan, pekerjaan yang aku ambil hanya demi menjadi anggota masyarakat (dan anggota keluarga) yang baik.

Tapi aku tidak mengeluh karena berkat pekerjaan inilah aku bisa mengenal Al. Aku mensyukuri saat-saat kami bersama. Momen-momen sederhana seperti makan siang bersama pun menjadi kenangan tak tergantikan.

Kegembiraan itulah yang perlahan mendatangi meja kami malam ini. Makanan dan minuman beraneka warna dan aroma sudah tertata cantik di hadapan kami berlima. Percakapan kami mengalir menembus malam, semua kenangan manis dan pahit sebagai budak korporat dan pertemanan yang tumbuh di sela-selanya.

Apakah ini yang kuinginkan? Puas berserah diri sebagai salah satu ‘teman’ Al?

Pertemanan yang diawali sebagai rekan kerja dan akan perlahan terkikis saat kami ada di naungan perusahaan yang berbeda hingga akhirnya lenyap tanpa bekas (kecuali mungkin lamaran kerja yang dibagikan di grup bersama). Pertemanan yang aman, tiada emosi memuncak dan menjurang, cukuplah senyuman kami berawal dan berakhir dari secangkir kopi dan sepiring nasi. Tidak ada sakit hati dan tidak ada penolakan.

Remangnya penerangan membuat bayangan meliputi sebagian wajah Al. Jika ia berpindah barang sedikit maka cahaya lampu akan luput dan ia menjadi gelap sempurna ditelan gelap.

Itulah yang menunggu di ujung jalan ini, Al yang ditelan gelap akibat jarak antara kami yang terus menjauh perlahan; hingga kelak aku tak bisa lagi melihat siluetnya sekalipun, bagaikan kapal tanpa mercusuar di kala malam.

“Lo kenapa Rey? Diem banget malam ini? Galau ya mesti ninggalin Al?” goda Alya.

“Hahaha. Iya nih, ga tega ninggalin adik kesayangan,” aku mengedipkan mata ke arah Al.

“Dih, geli banget,” Al bergidik. Semua tertawa, maka akupun tertawa.

Rasa sesak yang mendadak memenuhi dadaku membuat pandanganku kabur. Wajah Al, wajah mereka semua seperti terhalang kaca berselimutkan embun.

Celotehan riang teman-temanku, obrolan sayup-sayup dari meja lain, suara mobil di jalanan, semua menjadi redam hingga hanya kesunyian yang tersisa.

Aku tenggelam.

Dan akupun kembali sendiri.

~~~
Routine selalu dipenuhi asap rokok seperti biasanya.

Aku diperkenalkan kafe ini oleh teman-teman MT seangkatanku. Program MT -- management trainee -- perusahaanku memang memasukkan karyawan-karyawan muda sebanyak 20 orang sekaligus; program ini menjanjikan kami dibina lebih sehingga dapat segera meraih posisi manajemen tengah di perusahaan. Pada kenyataannya, kami yang kecewa dengan janji-janji hampa tersebut satu persatu keluar. Kini hanya tersisa 11 orang. Dan besok tinggal 10 orang dengan pindahnya diriku.

Kali ini aku mengundang Lena, seorang teman MTku lainnya. Bersama Al, kami dikenal sebagai trio IT karena hanya kami bertigalah yang masuk ke Departemen Teknologi. Akhir-akhir ini Lena agak jarang berkumpul dengan kami karena sudah mendapatkan pacar baru. Tapi untunglah ia menerima undanganku untuk berkumpul terakhir kalinya.

“Jadi lo bakal jadi IT lagi, Rey?” tanya Lena seusai menyeruput jus stroberi pesanannya.
“Iya nih, tapi jadi PM sekarang, gak jadi analis lagi.”
“Wah, mesti galak dong lo,” sahut Al dengan cengirannya. Satu gigi gerahamnya kiri atasnya tanggal, menyisakan celah yang membuatnya semakin menggemaskan -- walau dia tidak suka setiap aku mengatakannya.
“Hahaha, iya nih, gue mesti latihan.”

Aku memasang wajah galak yang dibuat-buat, memancing tawa Lena dan Al.

“Nanti kalau Abang udah nggak di sini, Al mesti baik-baik ya. Dengerin kata Kak Lena.”
“Apaan sih? Bodo amat!”

Aku tergelak. Entah sejak kapan aku memposisikan diriku secara sepihak sebagai abang angkat dari Al. Lena dan yang lain hanya melihatnya sebagai kelakar yang agak sinting, tentunya -- aku dan Al hanya terpaut 6 bulan (walau untungnya aku memang lebih tua). Dan bagi Al, yah, selayaknya lelaki dewasa, ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. Terlebih lagi karena ia biasanya begitu jaim dan kalem. Sungguh senang rasanya melihat dia gelabakan.

Sejujurnya aku juga ingin tidak perlu melakukan ini. Aku ingin seperti orang-orang lain yang bisa saling mengenal dan PDKT jika memang merasakan ketertarikan. Seperti Lena dan pacarnya, seperti ayah dan ibuku dahulu, dan mereka semua yang cukup beruntung karena rasa cintanya direstui masyarakat.

Setidaknya dengan sandiwara kecil ini aku bisa berperan sebagai sosok yang melindungi dan menyayanginya.

Kali inipun Al memesan nasi goreng seafood, yang tersaji dengan tampilan lebih elegan namun porsi lebih kecil dibandingkan saat kami di Kafe Tulip. Mungkin hari ini ia memang sedang mengidamkan makanan favoritnya itu.

“Kalau lo gimana, Al? Masih betah di kantor?” tanya Lena.

“Hmm…” pandangan Al menerawang ke arah jendela yang memperlihatkan malam suasana Jakarta yang selalu sibuk, “...buat sekarang sih gue kayaknya bakal lanjut. Gue juga masih kuliah kan.”

“Belajar yang rajin ya Dek.”

“Bodo amat.”

Jika penampilan Al yang menyejukkan mata membuatku tertarik, sifat dan kepribadiannya mengukuhkan dirinya sebagai sosok yang ingin kudampingi dan mendampingiku sepanjang sisa usiaku.

Mulai dari hal kecil seperti selera tontonan yang sama. Dan walau dia tidak terlihat seperti gamer, ternyata dia sudah punya PS4 lebih dulu dari diriku. Dia juga ramah pada anak-anak; aku pun ingin punya anak kelak, walau itu mustahil secara hukum di negeri ini.
Hingga hal-hal yang lebih besar seperti dia tahu apa yang ia inginkan di masa depan dan mulai mengambil langkah yang diinginkannya dengan mengambil pendidikan S2 di bidang digital marketing.

Sedangkan, aku?

Mengapa aku pindah kantor?

‘Mencari kesempatan berkembang’, atau ‘gajinya lebih tinggi’, jawaban-jawaban normatif yang memuakkan.
Aku pun tidak tahu. Ini terasa seperti hal yang selayaknya dilakukan seseorang, maka aku pun melakukannya.

Tetapi hati kecilku berbisik: Kamu melarikan diri dari Al.

Kamu melarikan diri dari cinta yang begitu dekat tapi tidak akan pernah bisa kamu raih.

Kamu melarikan diri dari mimpi-mimpi manis palsu yang kamu buat sendiri. Kamu melarikan diri dari rasa sakit dari penolakan yang tidak akan pernah datang.


Semakin lama bisikan hati kecilku semakin nyaring, membuat telingaku berdengung.

Malam semakin larut, pengunjung Routine satu per satu beranjak pergi, menyisakan beberapa orang termasuk kami bertiga dengan cangkir kopi yang sudah dingin.
 
“Nanti lo di kantor baru bakal dapet adek baru nggak?”

Aku menengok ke Lena yang sedang tersenyum jahil. Entah mengapa dia sangat terhibur dengan permainan abang-adik yang aku jalankan. Lena selalu sigap menjadi partner-in-crime-ku dalam menjahili Al.

“Nggak, lah!” ujarku dengan segera. Aku mencoba mendekap tangan Al yang langsung menghindar. Setidaknya sebagai gantinya aku menatap matanya untuk menunjukkan kesungguhanku.

“Abang gak bakal lupa Adek. Adek cuma satu-satunya di hati Abang selamanya.”

“Kesel nih gue! Pulang nih!” kata Al sambil berdiri, tapi cengirannya berkata lain.

“Lena, gue titip adek gue ya. Bilangin, suruh belajar yang rajin. Tidurnya jangan kemaleman. Kalau nakal, jewer aja.”

Lena terpingkal-pingkal. Al setengah manyun dan setengah tersenyum. Aku ikut tertawa, menertawakan lakon yang kuperankan dengan konyolnya; pemeran sekaligus penonton.

Apakah ini yang kuinginkan? Bermain peran sebagai Abang yang toh tidak dianggap?

Suara hati itu kembali lagi.

Bukan drama picisan ini yang kamu inginkan.

Drama tragedi dengan hanya seorang pemain yang memaksakan peran ke lawan mainnya demi memerankan naskah kosong. Drama yang akan menutup tirainya malam ini, tanpa tepuk tangan dan pujian.

Suaranya bergaung, memenuhi sukmaku. Kata-kata yang begitu kejam dan menusuk; kata-kata yang lahir dari diriku sendiri dan selama ini kubiarkan hingga ia tumbuh liar bagai benalu.

Huu! Turun! Aktor murahan!

Hanya sorakan mengejek yang terdengar. Aku menutup kedua telingaku dengan tanganku, tetapi suara yang memuakkan tersebut tidak teredam sedikitpun. Lena dan Al melihat ke arahku, risau. Aku memejamkan mataku, tidak ingin melihat ekspresi cemas Al.

Aku tenggelam.

Dan akupun kembali sendiri.
~~~
Senayan Square selalu sepi seperti biasanya.

Walau terletak di tengah kota, mall yang dekat dengan kantorku ini jarang didatangi para pekerja kantoran dan penduduk sekitar. Mungkin karena usianya yang tua sehingga kalah dengan mall-mall baru yang lebih megah dan kekinian.

Al berjalan di sampingku. Kali ini aku hanya mengundangnya. Walau dia agak heran, tapi aku meyakinkan bahwa aku akan mengadakan makan-makan perpisahan dengan rekan-rekan di lain hari.
 
“Mau duduk di mana?”
“Terserah, gue mah ikut yang nraktir aja, hehe,” jawabnya.

“Kalau gitu di Platinum aja yuk, nasi goreng seafood-nya enak.”

“Tau aja gue lagi pengen.”

‘Iya dong, masa’ Abang nggak tau kesukaan Adek,’ jawaban tersebut terbesit dalam pikiranku, diikut pikiran berikutnya: ‘Jangan coba-coba, udah untung dia mau ke sini.’

Saatnya ungkapkan perasaanmu. Ini kesempatan terakhir.

Pikiranku terus berkecamuk saat aku duduk dan memesan makanan bersama Al. Masih jam makan malam, tetapi tidak begitu banyak pengunjung selain kami. Duduk di hadapannya, berdua seperti ini, rasanya aku bisa meledak saking bahagianya.

Untuk apa kamu mau menyatakan perasaan?

Tidak ada akhir bahagia untukmu di sini.

Dia hanya akan melihatmu dengan jijik dan beranjak pergi.

Belum juga kalau dia menceritakannya ke orang lain. Pekerjaanmu, reputasimu, nama baikmu taruhannya.


“Jadi gimana? Besok banget lu mulai di kantor baru ya? Seneng dong.”

“Yah gitu lah, haha. Seneng sih, tapi deg-degan juga.”

“Santai lah, pasti bisa kok.”

“Kalau lo bakal masih lanjut di kantor ya? Sekalian kuliah juga kan.”

“Iya, gitu deh. Tapi kalau ada lowongan lagi bagi-bagi ya.”

“Sip, pasti gue share di grup.”

Pembicaraan sejenis terus berlanjut. Isinya tidak perlu aku ceritakan di sini karena hanya pembicaraan dua rekan sekantor yang umum terjadi di manapun.
 
Seperti ‘kemarin’ dan ‘dua hari lalu’ dan ‘hari-hari sebelumnya’, kami berdua tetap tinggal walau mall semakin sepi. Hingga walau baru jam 9 malam lewat, hanya kami berdua yang tersisa di restoran ini.

Di balik percakapan kami yang begitu wajar, dua suara -- suaraku sendiri -- bertarung dengan sengit di benakku, saling mencoba mendominasi, mendesak.

Katakan sekarang! Atau kamu menyesal seumur hidup, Rey.

Terbalik, bodoh! Kalau kau katakan, kau akan menyesal seumur hidup. Kau tahu Al tidak suka dirimu. Dia cukup hidup lurus-lurus saja, tidak perlu dibebani dengan penyimpanganmu.

Kalau kau betulan sayang kepadanya, kau tahu mana yang terbaik demi dirinya.

Jangan egois.


“Maaf Mas, ini bill-nya, kita sudah mau tutup soalnya,” kata seorang pramusaji yang menyodorkan tagihan kami.

“Oh iya. Sebentar ya Mbak.”

Aku mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dari dompetku dan memberikannya ke si Mbak.

“Udah mau tutup sih ya mall-nya,” kata Al yang menengok ke sekeliling kami, “kalau di sini mah jam 9 juga udah sepi.”

“Iya.”

Tidak lama kami pun berdiri di bagian luar lobi mall, menunggu ojek daring pesanan masing-masing. Pengemudi Al sudah dekat, sedangkan entah bagaimana aku mendapat pengemudi yang lumayan jauh dari sini.

“Makasih ya Rey, traktirannya. Sukses ya di sana.”

Al berdiri di depanku. Di sekeliling kami, lapak-lapak mall yang sudah tutup; seorang satpam berdiri di pintu masuk ke mall, terlihat mengantuk.

Dia sedikit lebih tinggi dariku. Rambut hitamnya tertata rapi karena produk perawatan rambut. Kemeja biru mudanya begitu pas di badannya, berbeda kemejaku yang kedodoran. Matanya berbentuk bagai almond, memantulkan warna putih lampu lobi mall.

Perasaan yang ada di dalam hatiku...cinta, kasih sayang, gairah, apapun itu, hampir membuatku menitikkan air mata. Mengapa Tuhan menciptakanku seperti ini? Mengapa ia memberikanku perasaan yang begitu kuat terhadap seseorang yang tidak akan mengerti?


Lakukanlah apa yang kamu rasa benar.

Tapi jangan bilang kami tidak memperingatkanmu.


“Al?”

“Ng?”

Aku mengulurkan tanganku.

“Makasih juga ya malam ini. Sama makasih buat semuanya selama ini.”

Dia menjabat tanganku. Hangat.

“Apaan sih lo? Lebay banget. Sama-sama, nanti kontak-kontak lah.”

Al tersenyum, memperlihatkan celah kecil di senyumannya.

Apakah ini yang terbaik bagiku?

Mungkin tidak.

Tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan yang terbaik bagi mereka.

Al naik ke motor ojek daring yang datang menjemputnya. Seusai mengenakan helm hijau yang menjadi warna perusahaan ojek itu, ia melambaikan tangannya. Aku melambai balik. Motor Al melaju, berbaur menjadi satu dengan lalu lintas malam Jakarta.

Aku kembali sendiri. Tapi aku tidak akan tenggelam. Semua kenangan manis dengan Al -- juga dengan teman-teman yang lain -- semuanya akan selalu ada bersama diriku, di manapun aku melangkah. Hingga di hari aku menemukan tempat hatiku bisa berlabuh.

Terima kasih, Al.

It’s better to have loved and lost than to have never loved at all.


Total entri pada Writing Challenge ini adalah 6!
Selamat menikmati karya-karya yang sudah dibuat!  :D
« Last Edit: March 15, 2019, 11:34:30 PM by Vision »

Offline Rheine

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 203
  • Like wine, getting better with age
Re: Writing Challenge #01 2018-2019! - Remembrance of the Past!
« Reply #1 on: November 15, 2018, 06:11:50 PM »
1. Memanusiakan Robot
Wah asik, ada thinkpiece. Materinya bagus, sesuai buat anak-anak kuliah dan anak-anak muda seperti ~kita~ *uhuk*
Sebenarnya materinya cukup umum, tapi disajikan dengan baik dan cocok buat perkenalan ke tema ini.

Menurutku yang bisa ditambahkan adalah penulisan ulang bagian memanusiakan robotnya. Paragraf 4 dan 5 kurang enak flow-nya, karena salah satu premisnya kan memanusiakan robot, jadi paragraf 4 harus lebih kuat. Dan IMHO menyusun menu hamburger itu terdengar kurang impresif dibandingkan mengekspresikan perasaan dalam gambar.

Bayangkan perasaan robot yang setiap 30 menit sekali hanya disuruh membuat menu hamburger (jika punya perasaan), apakah dia tidak bosan?
Bagian '(jika punya perasaan)' agak memperlemah premis, jadi lebih baik ditaruh di awal. Misalkan 'Bayangkan jika semua robot sudah memiliki perasaan [...]' atau sejenisnya.

Dan membuat menu 30 menit sekali terdengar tidak terlalu buruk, jadi bisa ditambahin lebay-nya di sana. Misal jadi
'Bayangkan jika manusia yang dipaksa membuat menu hamburger setiap 30 menit sekali setiap hari, 24 jam, tanpa hari libur, untuk selamanya, apakah dia tidak akan keluar dari pekerjaannya?'


2. Metro
Pendek dan bagus. Aku suka bagian 'Would he then have to show them his?' karena langsung menggambarkan kepribadian orangnya dan perasaan berbeda/alienasi yang dirasakannya. Yang mungkin agak terasa janggal itu baris terakhirnya. Mungkin memang sekedar penggambaran/imagery penutup saja, tapi tiba-tiba imagery alam tanpa sebelumnya ada (keseluruhan sangat urban) terasa aneh bagi saya.

3. Memikirkan Namamu
Sederhana tapi cukup menyenangkan.
Tapi entah kenapa saya ga bisa masukin nama dan jadinya otomatis default ke 'a'.
Sepertinya bisa lebih dikembangkan lagi karena saat ini terlalu gitu aja. Atau mungkin memang itu tujuan penulis, karena bisa diinterpretasikan menjadi manis atau...yandere.

4. Hipodrom
Bagus! Nice ending! Penulisannya juga rapi dan cukup enak dibaca. Mungkin kalau agak nitpicky, kalau yang digulung lengan baju kenapa otot tangan yang diperlihatkan, mungkin maksudnya otot lengan?
Ditunggu karya berikutnya.

5. Terminal Pinus
Menarik, tapi tindakan karakternya agak aneh. Walau ia memang dibebaskan oleh perampok, tapi ia mengejar hanya untuk mengucapkan terima kasih ini terlalu janggal tanpa build up bahwa karakternya memang nyeleneh. Penulisan juga sudah cukup rapi dan bahasa yang digunakan cocok untuk cerita anekdotal yang dituturkan karakter utama. Good job.

6. Tragedi Tiga Babak
Aduh ._.
Rasanya ini seperti curhatan penulisnya, /pukpuk
Ceritanya sedikit membingungkan apakah ini memang terjadi (time loop?) atau hanya bayangan dia atau apa.
Dan penulisan juga agak...berantakan? Banyak yang cuma sebaris-sebaris, entah disengaja atau tidak. Tapi walau mungkin butuh editing, rasa sakit dari ceritanya dapet kok. Mangats.
Did you know you're all my very best friends?

Offline PseudoStygian

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 34
    • @PseudoStygian
Re: Writing Challenge #01 2018-2019! - Remembrance of the Past!
« Reply #2 on: March 02, 2019, 06:46:14 PM »
EH ASTAGA aku bahkan kelupaan sama writchall yang ini!!

Versi ebook bagi wahai pembaca di jalan:

EPUB: https://drive.google.com/open?id=1gsTX1hzJwornB4lbGXNqgQz1DgueyNM0
MOBI: https://drive.google.com/open?id=1E5nuOg5uRDJ2SR92VeF-FX3ppl4LDqXt
PDF: https://drive.google.com/open?id=1Sq3T6C0zHmGgrcFdb_keYugzUylzteL4

As usual ini belum ditest (:P) jadi kalau ada error/dll silakan kabari.

Sekarang komen aing

Entry #2
Spoiler: ShowHide

Hmm ini butuh dibaca saat mood-nya pas ya. Sayang aing gak baca saat mood-nya pas.

Tapi aku suka-suka aja. Entah mengapa rasanya awalnya kayak orang/makhluk(?) ini menyeramkan/bermaksud jahat, tapi lama kelamaan dia malah terasa kasihan dan kesepian.

Lemme give him a hugg~


Entry #3
Spoiler: ShowHide

Menarik! Tapi agak terlalu simpel sih ya.


Entry #4
Spoiler: ShowHide

Bagusss! Aku suka gayanya yang pakai kata ganti orang kedua untuk karakter kedua. Kesan creepy/stalkerish si orang pertama jadi lebih kerasa. Buildup bagus buat endingnya.


Yang lainnya menyusul yak

Offline Vision

  • Moderator
  • *****
  • Posts: 16
Re: Writing Challenge #1 2018-2019! - Remembrance of the Past!
« Reply #3 on: March 16, 2019, 12:54:07 AM »
Vision's Corner #uno

Terima kasih untuk cerita yang telah disubmit!

Entry #01
Spoiler: ShowHide
Pendapat yang pas sih, akan tetapi mungkin contoh di paragraf penultimate dapat ditambahkan dengan contoh lain di paragraf awal sehingga lebih "menendang".


Entry #02
Spoiler: ShowHide
Singkat, padat, dan membuat penasaran. Mungkin last sentence jadi sedikit membingungkan karena aku memikirkan settingnya B/W tapi petals jadi berwarna. (Yah walaupun itu analogi sih.)


Entry #03
Spoiler: ShowHide
Yandere simulator. #canda ya. Tapi konsepnya menarik kok dan bisa dikembangkan lebih lanjut.


Entry #04
Spoiler: ShowHide
Plot twistnya ya endingnya. Untuk secara general, sudah cukup baik.


Entry #05
Spoiler: ShowHide
Cerita ini mengingatkan kepada beberapa berita yang ditayangkan beberapa waktu lalu, dan dengan gaya bahasa yang "unik" maka cukup cocok dengan latar cerita.


Entry #06
Spoiler: ShowHide
Cerita tiga bagian yang sangat memperlihatkan perasaan penulis, akan tetapi saat dibaca cukup membingungkan untuk latar waktunya, sehingga mungkin dapat diberikan hint[/] atau pointer untuk latar waktunya. Overall, sudah baik.

Offline Rheine

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 203
  • Like wine, getting better with age
Re: where can i find clear tote bags
« Reply #4 on: March 21, 2019, 01:37:50 PM »
michael michael kors jet set travel medium tote bag khaki
 
does office depot have totes
shut up omg you're so annoying blahblah
Did you know you're all my very best friends?

Offline miapapun

  • Genshiken Staff
  • *
  • Posts: 197
  • The Selecao
    • .no nothing heart.
Re: Writing Challenge #1 2018-2019! - Remembrance of the Past!
« Reply #5 on: March 30, 2019, 02:22:10 PM »
Maaf ngebump lagi Writing Challenge yang lama hahaha. Punten komen, ya~

Makasih semuanya yang sudah mau ikutan Writing Challenge #1 ini, mungkin ada satu dua masukan atau komentar yang mau saya sampaikan ke semuanya~

#01
Spoiler: ShowHide
Kamu yakin ini bukan curha--- ah sudahlah.
Aku belajar ada dua kosakata inti di sini, "robot" dan "manusia". Tapi keduanya tidak diperlakukan sama dalam teknisnya. Kita punya kata "memanusiakan" tapi kita tidak punya kata "me-robot-kan" sehingga perlu memakai tanda '-' untuk menghubungkan 'robot' dengan imbuhannya. Ini bisa jadi pertanyaan kenapa. Apa mungkin karena 'robot' merupakan kata serapan dalam bahasa Indonesia atau bagaimana ww.

Untuk konsepnya, menurutku ini seperti tulisan 'curhat' yang dikirim melalui surel kepada pembacanya. Dan tema yang diangkat menurutku realistis, karena berbicara mengenai dilema sebuah pendidikan sebagai pembentukan manusia ke arah yang lebih baik atau justru menjadi 'pembunuhan' manusia itu sendiri. Singkat tapi lugas, enak dibaca dan baik untuk direnungkan.

Apakah itu sebuah "perenungan masa lalu"... sejujurnya aku malah melihat ini sebagai sebuah "nasihat" kepada pembacanya. Entahlah, mungkin e-mail di masa depan?


#02
Spoiler: ShowHide
Puisi yang menarik, seolah-olah membawa pembacanya untuk melangkah dan menerka apa yang sebenarnya terjadi. Pintu, persimpangan, arwah, segala imaji yang ada. In the Station of The Metro adalah puisi yang penuh imajinasi, dan mungkin ini adalah sebuah pintu yang cukup baik untuk memperkenalkan teman-teman yang lain kepada puisi tersebut. Tapi mungkin karya ini tidak sebegitu bersahabatnya dengan pembaca awam. Hanya saja ini tetap memukau dan menghantui, seperti masa lalu yang mungkin tidak bisa kita lupakan.


#03
Spoiler: ShowHide
Wah, makasih atas pengalaman Python-nya, haha.
Singkat tapi unik. Penggunaan algoritmanya oke sih, cuma aku mesti mindahin kodenya ke compiler yang baru buat bisa ngejalanin input-nya, haha. Tapi secara umum konsepnya oke, kok. Mungkin tidak terlalu merepresentasikan temanya, tapi setidaknya 'mengenang'-nya dapat, jadi mungkin bisa diulik lagi biar konsepnya dapat, sesuai dengan tema


#04
Spoiler: ShowHide
Whoa, tidak menyangka ending-nya akan seperti itu (*゚ロ゚);;;
Penulisannya lebih menekankan kepada bagaimana si orang sudut pandang pertama menceritakan kekagumannya terhadap si orang kedua, sehingga cukup banyak kata "kamu" yang dipakai dalam penjelasannya. Temanya sih sejujurnya aku kurang nangkap, entah apa ini menceritakan masa lalunya atau bagaimana, mungkin bisa ditempatkan demikian, ya. Tapi secara umum alurnya bisa diterima dengan baik, sih. Cuma agak gimana gitu kalau membaca cerita creepy admirer kayak gini www

Dan FYI, mungkin ada beberapa typo yang perlu diperbaiki, entah kelupaan spasi atau kata-kata yang mungkin... aneh. (renyehanya)


#05
Spoiler: ShowHide
Apa ini kata 'bersuci'
Hmmm...gimana-gimana? Aku seperti membaca cerita yang setengah absurd setengah hebat, hahaha. Mungkin bisa dibilang kejadian-kejadian bizzare yang dialami si tokoh utama membuat kisahnya di terminal tersebut terkesan. Jadi dia mengingat tentang masa lalunya di terminal tersebut, ya. Menarik-menarik.
Tapi ya jadinya gitu, kayak meninggalkan satu hal saja. Mungkin tindak tanduknya terkesan aneh karena jadinya seperti kayak sebuah adegan komedi singkat, tapi yah itulah yang mungkin menjadikannya unik. Menarik~


#06
Spoiler: ShowHide
Tiga kesempatan, tiga tatapan, tidak ada tindakan.

Penjelasannya baik dan lugas, mungkin karena ini sebuah kenangan yang sulit dilupakan jadi tidak bisa diungkapkan demikian. Agak bingung dengan konsepnya dan alasan jelasnya mengapa si tokoh utama tidak bisa menyatakan. "Harga diri"? "Pekerjaan"? Rasanya tidak semeyakinkan itu agar pembaca bisa tahu bagaimana kondisinya sehingga diam menjadi pilihan terbaik bagi tokoh utama dari mengungkapkan perasaannya. Penulisannya memang sedikit berantakan, tapi setidaknya bisa dimengerti. Tiga babak yang baik!


Demikian komentar dan masukan dari saya, semoga berkenan ya!
In the the unchangeable landscape, there are unchangeable creatures.
It was just like a paradise.
It was like Eden, where only the sky changes.

Kalafina - Seventh Heaven